Saturday, November 3, 2018

Sakit Apa?


Alfu sakit apa? Alfu kenapa? Alfu kok bolak-balik rumah sakit? Kamu sih nggak jaga kesehatan. Kamu sih kebanyakan ngopi. Kamu sih diet-diet mulu. Makan gih yang banyak biar cepet sembuh. Nih makan, makan dulu, makan dulu jangan males, kamu mau apa, ini makan nasi dulu, kalo nggak makan nanti nggak sembuh-sembuh ..........................................................

Let me tell you. Hampir 4 minggu ini aku sakit perut. Mungkin kelihatannya sepele. Sakit perut sampai harus opname dua kali di rumah sakit.  Setiap orang datang dengan spekulasi masing-masing. Setiap orang punya opini sendiri tentang apa yang sedang aku alami. Jogja; 7 Oktober menjadi awal mula segala yang aku rasa. Aku bangun dengan perasaan lemas, mual, melilit. Aku tau ini pasti ada yang tidak beres. Keracunan mungkin. Pikirku saat itu. Aku bangun dengan susah payah menuju kamar mandi. Aku diare.

Mengitung jam menuju siang, aku bolak-balik ke kamar mandi sampai akhirnya tidak ada lagi isi perut yang bisa aku keluarkan. Aku tetap sakit perut. Semakin sulit berjalan karena saking sakitnya. Padahal sore harinya aku harus naik kereta menuju ke Purwokerto. Aku paksa diriku. Aku harus ke Purwokerto. Senin ada jadwal praktikum. Aku harus masuk. Aku harus kuat. Aku harus meyakinkan orangtuaku bahwa aku sehat, “Mungkin cuma masuk angin, Mi. Nggak papa kok kan Jogja-Purwokerto cuma bentar, nanti sampai kos langsung istirahat. Besok aku praktikum jadi nggak bisa bolos.” [Oh iya, Mi adalah Umi. Sebutanku memanggil Ibu]. Aku duduk hampir 4 jam di kereta dengan perut melilit dan keringat dingin mengujur di sekujur tubuh. Aku terus mensugesti bahwa aku kuat. Aku kuat. Aku kuat.

Senin 8 Oktober aku praktikum pagi. Aku merengek-rengek kesakitan tapi tetap harus praktikum. Setelah selesai praktikum, aku pulang. Aku tidak peduli. Aku bolos 4 sks alias dua mata kuliah. Aku terus menangis mengucur di sepanjang tidur. Di sela-sela sehat yang aku punya, aku mencari jurnal-jurnal melalui ponsel mengenai keluhan, tanda, dan gejala yang aku punya. Sampailah pada kesimpulan bahwa kemungkinan aku terkena IBS (Irritable Bowel Syndrome); yaitu penyakit pencernaan yang mempengaruhi kerja usus besar---yang akhirnya menyebabkan keluhan nyeri/melilit/tidak nyaman sehingga dapat menyebabkan diare dan/atau konstipasi [untuk lebih lanjutnya kalian bisa googling ya].

Malamnya aku pergi ke apotek karena sudah tahu obat apa saja yang harus saya beli untuk diagnosa IBS. Karena antibiotik tidak dapat dibeli secara bebas, aku memilih membeli probiotik. Yaitu tablet yang berisi milyaran bakteri baik, yang ketika dimasukkan ke dalam tubuh, akan membantu tubuh untuk berperang melawan bakteri-bakteri jahat yang ada di saluran pencernaan. Untuk mengurangi sakit perut akibat kontraksi yang tidak teratur, aku membeli antispasmodik (digunakan untuk meredakan kram perut, bekerja dengan cara melemaskan otot-otot pada saluran cerna dan saluran kemih) dan dikombinasi dengan antinyeri (yang ini mah jelas buat penahan nyeri; aku pilih paracetamol dosis tinggi karena relatif lebih aman daripada golongan NSAID karena aku sendiri punya riwayat maag).

Selasa 9 Oktober, aku bolos lagi kuliah pagi karena aku harus mempersiapkan fisik untuk praktikum siang sampai sore hari. Setelah selesai, aku pulang. Aku ambruk. Aku minum lagi obatku. Sampai akhirnya aku tidak sanggup menahan sakit hanya dengan obat oral (yang diminum lewat saluran cerna; tablet/kapsul). Aku butuh injeksi. Aku butuh obat yang langsung masuk ke pembuluh darahku. Aku lari ke UGD. Aku disuntik antinyeri. Lalu dokter meminta sampel urin dan sampel darah. Aku dinyatakan ISK (Infeksi Saluran Kemih). Aku diberi obat dan disuruh pulang karena tidak termasuk dalam indikasi kegawat-daruratan untuk rawat inap. Obat yang dokter resepkan sama seperti yang aku beli; antispasmodik-antinyeri, ditambah antibiotik untuk ISK, dan diazepam agar aku tenang dan tidur. Tidak, aku yakin betul ini bukan hanya ISK. ISK hanya penyerta, yang sebenarnya ada diagnosis lain yang belum ditegakkan. Aku percaya ada masalah lain di dalam ususku.

Rabu 10 Oktober, aku bolos kuliah lagi. 3 Jam setelah aku minum obat justru aku semakin meraung-raung kesakitan, aku minum lagi, aku minum lagi, aku minum. Padahal obat-obat ini harus berjeda 6-8 jam. Aku yang ketakutan overdosis akhirnya memutuskan ke UGD lagi. Aku merengek minta rawat inap. Akhirnya aku dirawat. Teman-temanku datang dan panik kenapa bisa sakit sampai masuk rumah sakit. Besoknya, makin banyak teman yang datang. Besoknya lagi semakin banyak. Mereka bertanya, alfu kenapa alfu sakit apa. Aku jawab aku sakit perut nggak bisa pup. Buah-buah dibawa sebanyak yang tak kukira, seperti memindahkan pasar buah ke dalam rumah sakit. Mereka datang dengan spekulasi masing-masing. Mereka menyuruhku makan buah, makan pepaya, makan ini, makan itu, jangan makan ini, jangan makan itu. Aku tak kurang-kurang makan buah, semua makananku dibuat khusus dengan menu tinggi serat. Tapi ke-tidak-mampuan pup adalah hal lain yang menjadi tanda tanya. Jalan terakhir adalah memberi obat pencahar tingkat tinggi yang disertai dengan tanda tangan hitam di atas putih. Aku tanda tangan secara sadar. Prosedur dilakukan. Tak ada pup yang keluar. Aku kesakitan. Dokter kebingungan. Hasil USG normal, hasil rontgen normal. Dokter angkat tangan. Aku keluar rumah sakit. Aku kesakitan.

Senin 15 Oktober, aku memutuskan masuk kuliah karena ada kuis. Semua kira aku sudah sehat. Tapi tidak. Setelah konstipasi selama seminggu, akhirnya aku diare hebat selama 4 hari, dari hari minggu sampai rabu. Aku kepayahan setiap malam. Lemas rasanya hingga kadang tidak kuat berdiri. Aku tidak lari ke UGD lagi. Aku merawat diriku sendiri.

Kamis 18 Oktober, aku bertemu dokter spesialis penyakit dalam-subspesialis gastro di RS Margono timur. Dokter yang fokus ke penyakit perut. Aku menceritakan segala yang aku rasa. Dokter melakukan tindakan colok dubur. Ada bercak darah di sarung tangan yang beliau kenakan. Dokter menginstruksikan tindakan colon in loop dan tes CEA (tes darah untuk penanda adanya tumor/kanker). Di kertas pemeriksaan, tertulis diagnosa sementara: Irritable Bowel Syndrome [YAELAH SAMA AJA INI MAH KAYA YANG AKU CARI DI JURNAL WKWK]. Dokter tidak memberiku obat. Mungkin beliau kira aku hanya sakit ringan.

Jumat 19 Oktober, aku mengalami nyeri tulang rusuk. Rasanya sampai tertusuk-tusuk. Semakin hari semakin hebat. Aku kesusahan jalan. Aku semakin kesakitan. Aku kesulitan bernafas. Aku tidak bisa tertawa, batuk, dan sendawa. Seluruh badanku rasanya remuk. Aku kesulitan tidur. Aku lari ke UGD. Dokter menyarankan opname. Aku menolak karena senin depan ada UTS. Aku minta disuntik antinyeri. Lalu pulang dengan sekantong obat lagi.

Senin 22-30 Oktober aku harus mengikuti serangkaian UTS. Aku hampir tidak pernah belajar. Aku selalu dibuat tidur oleh diazepam. Aku kesulitan beraktivitas. Jalan tak bisa tegak, tidur tak bisa nyenyak. Aku men-dopping 6-8 obat setiap hari. Motivasiku hanya satu, aku harus tetap mengikuti UTS. Aku tidak mau susulan, selain prosedur yang sulit di jurusanku, nilai yang diberikan untuk ujian susulan juga tidak bisa maksimal. Aku harus UTS. Harus.

Sabtu 27 Oktober, aku siap untuk colon in loop. Dua hari sebelum tindakan aku hanya diperbolehkan makan bubur, tahu, dan telur. Semalam sebelum tindakan, aku melakukan kuras lambung dan usus. Semua isi perutku seakan-akan habis. Rasa sakitnya seperti diperas, dipaksa dikeluarkan semua isi perutnya. Sakit, tapi asyik juga sebenarnya karena tidak perlu mengejan untuk buang air besar. Ditinggal bernafas aja sudah otomatis keluar. Aku juga harus puasa bicara karena harus benar-benar steril dari makanan, kotoran, bahkan gas sekalipun.

Lalu bagaimana  colon in loop dilakukan? Apakah sakit? Prosedurnya adalah aku harus siap baik fisik maupun mental. Aku harus yakin bahwa aku ingin melakukan colon in loop. Aku tidur diatas bed yang dilengkapi peralatan yang aku sendiri tidak hafal nama-namanya. Aku miring ke kiri. Aku menarik nafas sepanjang yang aku bisa. Selang irigator dimasukkan melalui anus. Cairan sebanyak 800-1000ml ditumpahkan sampai memenuhi seluruh usus besarku. Perutku sakit, perutku melilit. Aku menarik nafas sepanjang-panjangnya. Usus besarku difoto-rontgen. Prosedur selanjutnya adalah mengeluarkan cairan tersebut. Sekarang usus besarku sudah kosong. Aku tidur lagi di atas bed. Dengan posisi yang sama. Aku menarik nafas sekuat yang kubisa. Selang irigator masuk lagi ke anusku. Dua tabung gas dipompa masuk ke dalam tubuhku sampai memenuhi usus besarku. Perutku kembung berisi angin. Aku tidak boleh kentut sampai prosedur foto-rontgen selesai. Sakit sih sebenarnya tidak, mungkin kurang nyaman saja rasanya. Setelah selesai aku diperbolehkan kentut. Itu adalah kentut terpanjang, terbanyak, dan ter-tidak-bau yang pernah aku lakukan. Colon in loop selesai, tak ada hasil yang bisa dibawa saat itu. Katanya harus menunggu sampai kontrol selanjutnya. Aku pulang. Kecewa.

Masih ada sisa dua hari UTS yang harus aku jalani; senin dan selasa. Selepas selesai, aku sampai menitikkan air mata, hah akhirnya selesai juga ujian kali ini. Selasa sore aku pergi ke bioskop, mungkin satu film bisa memperbaiki psikisku. Setelah itu, aku memutuskan untuk opname lagi. Selasa, 30 Oktober sekitar pukul 9 malam aku lari ke UGD. Dokter jaga yang menanganiku tidak percaya kalau aku benar-benar sakit. Dia kira aku nyeri haid atau nyeri perut biasa. Aku disuruh tes urin lagi. Mungkin dia pikir aku nyeri karena ISK (Infeksi Saluran Kemih) atau semacamnya. YATUHAN AKU SUDAH MUAK DENGAN TES URIN. [Memang berhubungan antara konstipasi dengan ISK karena massa feses tertumpuk di dalam sehingga dapat mendorong kantung kemih sehingga menyebabkan paparan bakteri]. Aku kesal sampai rasanya ingin membakar rumah sakit. Ya kalaupun ada ISK itu wajar, hanya saja aku penasaran kenapa perutku sakit sampai ke tulang-tulang rusuk bahkan naik ke ulu hati. Aku terlantar di UGD. Dokter jaga tersebut baru menginstruksikan boleh opname pukul 1 dini hari. Pihak RS mengatakan ruangan kelas 1, 2, 3 penuh semua. Kalau mau, menunggu di UDG sampai waktu yang tidak ditentukan. Kalau mau membayar lebih, bisa naik kelas ke VIP atau VVIP. Aku sudah bilang ingin opname kenapa prosedurnya dipersulit? Kalau ruangan penuh kenapa tidak bilang dari tadi? Kalau tahu begini kan aku bisa pindah daritadi jam 9, tidak harus menunggu sampai dini hari begini. Aku kesal bukan main. Aku minta segera dicarikan ruangan. Ruangan tersedia. Aku dibawa menggunakan ambulance pukul 2 dini hari. Membelah kota; dari RS Margono timur menuju RS Margono barat. Sekitar pukul 4 pagi, aku tidur di ruanganku sendiri.

Rabu 31 Oktober, aku mulai dirawat di RS Margono barat (sering disebut RS Geriatri). Aku bisa memilih dokterku sendiri. Aku mau dirawat oleh dokter Harno (dokter yang sama ketika aku melakukan colok dubur). Sore hari dokter Harno datang ke ruangan. Tidak seperti dokter-dokter lain yang datang dengan lagak wibawa, tegas, lugas; dokter Harno beda. Beliau datang dengan gayanya yang ramah dan pribadi yang menyenangkan. Hasil colon in loop memang belum keluar, beliau merekomendasikan menunggu dulu hasilnya. Aku menolak, menawarkan opsi untuk endoskopi saja karena perut bagian atasku sakit. Dokter bilang belum begitu perlu, tapi beliau tidak langsung menolak opsiku. Hitam di atas putih dibuat. Kesepakatan didapat. Dokter akhirnya setuju.

Apapun yang akan terjadi esok hari adalah biarlah menjadi rahasia esok hari. Aku sudah setuju untuk melakukan endoskopi atas permintaan sendiri. Ada beberapa orang bilang sakit, ada beberapa yang bilang tidak. Ada tetap pada pendirianku. Sesakit-atau-setidaknyaman prosedur yang akan dilakukan esok hari, aku harus tetap lakukan karena aku ingin tahu apa yang ada di dalam perutku. Sakit endoskopi tidak akan sebanding dengan sakit lebih dari 3 minggu yang aku rasakan. Jadi, aku harus siap.

Kamis 1 November pukul 7 pagi, aku sudah siap di ruang endoskopi. Oh iya, endoskopi adalah prosedur pemeriksaan dengan memasukkan alat dari mulut untuk melihat kondisi kerongkongan, lambung, sampai ke usus 12 jari. Alat yang gunakan dilengkapi dengan kamera diujungnya. Jadi, kita bisa melihat kondisi organ dalam kita secara real melalui layar. Pertama, aku membuka mulut dan disempot lidokain (bius lokal) di ujung telak. Aku telan. Tak kunjung kebas. Disemprot lagi. Lagi. Sampai empat kali dan dokter Harno cuma bilang ke perawat, “tambahin lagi, ini anak agak unik kayanya” sambil senyum. Alat dimasukkan. Pelan-pelan. Aku muntah. Semakin dalam, semakin dalam. Aku muntah. Cairan lambungku keluar. Cairan empeduku keluar. Aku bahkan sampe ingin memukul tangan dokter. Perawat mengusap usap kepalaku. Memegangi tanganku. Keringat bercucuran di tangan-tanganku. Aku panik. Dokter tahu aku panik. Endoskopi belum juga selesai. Aku muntah sejadi-jadiku. Perawat menyuruhku mengambil nafas panjang. Sejenak aku rileks. Aku atur nafasku dan tutup mataku. Aku diam. Dokter malah usil sambil berkata “Loh kok diam, ini tidur atau pingsan?” Aku ingin ketawa sambil menendang dokter. Ingin berkata “Ih enggak aku masih bangun dokter tuh iseng” tapi tidak bisa, mulutku masih terkunci oleh alat endoskopi. Dokter memasukkan alat biopsi, semacam penjepit dan gunting. Jaringan lambungku dipotong. Aku mengerang kesakitan.

Alat endoskopi ditarik keluar. Aku masih muntah-muntah. Aku berkata “Ih lambungku diambil rasanya kaya dipancing.” Dokter tertawa. Beliau menjelaskan ada luka dari kerongkongan sampai ke lambung. Ditambah hasil colon in loop, juga ada luka di usus besar. Sebanyak itu ternyata luka yang ada di dalam tubuhku. Darimana luka itu berasal? Apakah karena makan? Apakah aku tidak menjaga kesehatan? Apakah aku makan sembarangan? Apakah karena sering minum kopi? Tidak.



Saturday, May 27, 2017

Tidak Ada yang Sehangat Nasi Masakan Ibu Pukul Dua Pagi

Ini tahun kedua saya. Merayakan sahur di kota yang letaknya puluhan kilometer dari segala damai yang disebut rumah. Yang akan mengulang tiga puluh hari segala gempita adzan pertanda puasa harus segera dibuka. Siapa yang tidak bersedih jika harus jauh dari keluarga saat bulan Ramadhan tiba? Saya pikir tidak ada. Pun kalau ada, ia hanyalah berpura-pura untuk telihat baik-baik saja. Mungkin sering sekali kita mendengar slentingan-slentingan seperti; Ah udah besar ngapain sedih? Dibiasain dong biar mandiri. Ih banci banget cowok kok sedih. Cengeng dah lu dasar cewek.

Sebentar. Saya pikir, sedih itu adalah hak setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan. Tidak ada batasan dan takaran untuk keduanya. Tidak ada aturan bahwa kesedihan hanya milik perempuan dan kemarahan hanya milik laki-laki. Tidak ada aturan bahwa perasaan hanya milik perempuan dan logika hanya milik laki-laki. Tidak ada aturan bahwa air mata hanya milik perempuan dan teriakan hanya milik laki-laki. Kalau kau masih berfikir seperti itu, segeralah ambil air wudhu dan basuh segala kedangkalanmu.

Sedih itu ada karena kita merasa memiliki. Memiliki keluarga, menganggapnya sebagai rumah satu-satunya dimana kita bisa melepas segala penat dan tak perlu berpura-pura untuk menjadi kuat. Mandiri bukan berarti tidak boleh sedih ketika jauh dari orang tua. Tidak ada korelasi antar keduanya. Sebab mandiri dan tidak-boleh-sedih adalah dua hal yang terpisah. Jika kau merasa sedih ketika jauh dari rumah, berarti kau memang dibesarkan dari keluarga yang benar-benar hangat dan penuh kedamaian. Keluarga yang penuh kasih dan bertebar sayang ketika kau dekat. Keluarga yang berlimpah rasa percaya dan sejuta doa ketika kau jauh darinya.

Pertanyaannya adalah, wajarkah jika kita merasa sedih ketika adzan isya bergema di kota yang letaknya ribuan hasta dari lengan ibu? Lalu kita melangkahkan kaki ke masjid yang bukan masjid sebelah rumah. Mengangkat tangan dan mengamitkan niat untuk 11 atau 23 rakaat. Berdoa agar bangun pukul tiga sebab tidak ada jaminan untuk segala tidur-bangun-dan sahurmu esok hari. Wajarkah jika kita merasa sedih ketika adzan shubuh bersua di kota yang letaknya jutaan depa dari jemari ayah? Lalu kita terdiam dan menjauhkan piring dari warung ramesan. Piring yang berisi nasi dan lauk pauk yang kita ambil sesuka hati. Yang dibandrol 8ribu untuk nasi ayam dan 6ribu untuk nasi telor. Yang hangat tapi tidak pernah sehangat masakan ibu untuk sahur anak-anaknya.


Saya pikir semua terlihat baik-baik saja ketika jam tiga pagi kita berkelana mencari makan, tertawa bersama kawan, bercanda tanpa tujuan, dan menunggu waktu imsya di warung ramesan. Tanpa pernah berfikir sedang makan apa ayah dan ibu di rumah? Apakah mereka kesepian tanpa saya? Atau justru baik-baik saja? Di rumah, saya sering mengeluh karena kantuk yang menggelayuti ujung-ujung lakrima. Padahal ibu sudah bangun dari pukul dua pagi untuk menanak nasi dan merapal doa untuk sang Illahi. Tetapi saya sering bangun pukul empat ketika semua sudah tertata rapi. Terkadang saya suka mengeluh jika masakannya kurang asin, terlalu pedas, atau agak gosong. Padahal bu, tidak ada yang sehangat masakanmu di kota rantau ini. Yang dibalur kantuk dan sekantung ikhlas demi perut anak-anaknya. Yang tak pernah kecewa meski kita terlalu banyak meminta. Yang selalu ada dalam perputaran sahur dan buka meski tak puasa. Yang mendekap erat segala keluh lapar dan rasa dahaga.



Purwokerto, 27 Mei 2017.
Sekian kilometer dari Yogyakarta.

Wednesday, October 19, 2016

Tenaga Kesehatan, Mengabdilah.

Ada yang sibuk berdebat dan berdiskusi bahwa negeri ini sedang tidak baik-baik saja. Ada yang sibuk mengkritik kinerja para birokrat dan menghujatnya mati-matian. Ada yang hari demi hari hanya berteriak lantang dengan dalih berjuang. Kita selalu dipenuhi dengan polusi wacana, semangat bergerak yang menggebu-gebu, sampai tidak tahu apa yang sebenarnya kita lakukan. Padahal, peduli terhadap kesehatan masyarakat dan memberikan akses pengobatan gratis saja sudah lebih dari cukup.

Pernah saya membaca tulisan dari seorang dokter spesialisasi bedah, dr Lie Dharmawan namanya. Beliau berkata, “Kalau kamu menjadi dokter, kamu jangan memeras orang miskin. Mereka akan membayar, tapi mereka akan menangis karena ketika pulang mereka tak punya uang untuk membeli beras.” Kata-kata beliau selalu saya abadikan dalam memori dan ingatan saya. Sebait petuah yang membuat saya berambisi ingin menjadi dokter dan mengabdi untuk masyarakat hingga detik ini.

Tetapi saya sadar, semua pilar tenaga kesehatan memegang peranannya masing-masing dalam kontribusinya di masyarakat. Yang terpenting adalah bagaimana saling membantu antara  disiplin ilmu satu dengan yang lainnya. Sebagai tenaga medis, mengabdilah sebaik-baiknya untuk masyarakat. Maka, tidak ada lagi Ayah yang bersedih sebab tidak sanggup membawa keluarganya ke rumah sakit. Maka, tidak ada lagi Ibu yang menangis sebab obat-obatan mahal ditebus, sedang anaknya panas dan menangis berhari. Maka, tidak ada lagi anak yang kebingungan sebab orang tuanya jatuh sakit dan tidak tahu harus berbuat apa.

Thursday, July 7, 2016

Selamat Menua, Beler.

Saya melaju kencang 90 km/jam mengendarai kuda jepang beroda dua. Menembus sudut kota dari Kedai Kopi di bilangan Abubakar Ali, Kotabaru menuju sepetak tanah di seberang Candi Prambanan. Yogyakarta sedang sepi-sepinya dini hari ini. Sepertinya semua sedang terlelap dalam hingar bingar ketupat dan opor ayam. Sepaket makanan yang tidak pernah alpa dari sajian hari raya.

Hari ini teman saya berulang tahun. Beruntung sekali dia, merayakan hari kelahiran dalam suasana lebaran. Sebenarnya saya ingin membuatkannya sepenggal kalimat yang berisi ucapan selamat. Tetapi dia bilang, dia tidak suka dengan tulisan-tulisan saya. Dia tidak suka dengan rangkaian kata-kata saya yang terkesan mengada-ada. Dia lebih suka ucapan apa adanya yang tidak perlu dipikir lama-lama. Jadi, diam-diam saja ya, tidak usah beritahu dia jika saya tetap membuatnya di blog pribadi saya.



Teruntuk,
Lelaki yang hari ini genap berusia 21 tahun.

Hai, selamat pagi. Sebenarnya saya tidak punya inspirasi ingin menulis apa, bahkan sampai pukul 3 pagi tulisan ini masih carut marut keadaannya, jadi saya memilih menutup laptop saya dan pergi tidur setelahnya. Asal kau tahu, tulisan ini ditulis di samping kolam ikan, sebelah taman, dengan semangkuk bakso di kanan, dan secangkir kopi hitam di tegukan. Jadi maaf jika sedikit asal-asalan he he. Lalu, apa yang sedang kau lakukan pagi-pagi hari seperti ini? Saya berani bertaruh kau masih tidur meringkuk, di bawah selimut, dengan celana pendek kesukaanmu tentunya.

Mari merotasi mundur waktu dua minggu yang lalu. Sore itu hujan deras mengguyur seluruh kota Purwokerto. Saya sedang gabut-gabutnya di rumah kontrakan, lalu kau mengirimi pesan mengajak hujan-hujan. Saya mengiyakan. Tetapi gagal karena hujan buru-buru dikebiri oleh langit. Sembunyi, sengaja berkonspirasi agar kita duduk manis saja menikmati mie ayam di deretan Gor Satria. Perkenalan sore itu, lucu sekali rasanya.

Saya selalu suka setiap kali kau bercerita tentang hal hal yang menurutku baru. Menarik rasanya. Lagipula, kita banyak sekali kesamaan. Tentang perjalanan dan pendakian. Tentang teman, tentang Tuhan, tentang pemikiran. Bedanya, kau sangat rapi, sedang saya tidak pernah memikirkan penampilan. Bedanya, kau suka teh, sedang saya sangat maniak kopi. Bedanya, kau suka hal berbau ilmiah, sedang saya menyukai sastra dan bualan-bualannya.

Ah, lupakan basa basi tidak penting di atas. Saya hanya ingin mengucapkan selamat atas hadirnya tujuh juli, atas hadirnya hari bahagiamu yang tidak bisa saya hadiri. Ucapan ini memang hanya sebatas kata-kata, tetapi doa ikhlas saya tidak pernah mengada-ada. Semoga semesta mengaminkan setiap harapan baikmu. Harapan yang tumbuh dari jantung bumi, dan jatuh kembali di pangkuan Illahi.

Teruntuk lelaki yang hari ini genap berusia 21 tahun, semoga selalu diliputi perasaan bahagia. Semoga selalu dipermudah setiap jalannya dalam meraih cita-cita. Semoga selalu dilancarkan setiap jengkal rejeki yang ada. Semoga jika sudah meninggi kelak, tidak pernah lupa jalan pulang ke rumah orang tua.

Maaf jka tidak banyak yang bisa saya doakan untukmu. Tetapi ketahuilah bahwa saya ikhlas mendoakan untuk setiap kebaikanmu.

Pada waktunya nanti, kita akan berjalan dengan prinsip masing-masing. Mencari kesepakatan, menuju jalan dan kepercayaan yang kita punya. Semoga pertemanan kita tidak saling menerakakan. Tidak saling baku hantam dan berkhianat di punggung kawan. Satu hal, kita percaya konsep bahwa tidak ada yang namanya teman, sebab dua manusia saling berhubungan atas dasar kepentingan tertentu. Maka datang dan pergi adalah hal yang wajar. Iya, kan? 




Ditulis dengan sadar di kota Yogyakarta, tepat pada hari kelahiran teman saya bernama Beler. Yang sedang merayakan gegap gempita bahagia dalam hitungan ke 21. Semoga panjang umur!

Wednesday, July 6, 2016

Selamat Hari Raya, Kotaku.

Riuh gema takbir memenuhi setiap inchi di semesta kepala. Gemercik kembang api dan lantunan ayat Tuhan berputar-putar di sudut kota. Yogyakarta seolah sedang merayakan malam kemenangan, malam penuh kebahagiaan. Anak-anak sibuk bermain petasan, yang muda sibuk mengitari jalanan, dan orang dewasa sibuk menyiapkan makanan. Semua tumpah ruah dalam setiap depa jalan perkampungan.

Inilah kotaku. Kota yang selalu hangat menyapa setiap kepulangan anak-anaknya. Menyapa para perantau yang selalu disibukkan dengan ambisi dan cita-cita. Menyapa para kapitalis yang kerap kali menjadi penjilat di luaran sana. Menyapa para intelek yang terkadang lupa dengan kerja keras bapak ibunya di rumah. Tapi Yogyakarta tidak pernah tamat berkhianat. Yogyakarta tidak pernah lupa ataupun ingkar janji. Yogyakarta selalu menjadi rumah untuk setiap kepulangan dan kepergian. Nyaman untuk ditinggali. Ya, inilah kota yang turut mendewasakanku sejak 19 tahun silam.

Kota ini banyak mengajarkan hal-hal yang sama sekali tidak saya temui di bangku sekolahan. Sewaktu kecil dulu, saya pernah jatuh dari sepeda, tetapi Yogyakarta mengajarkan saya bahwa setiap luka tidak harus berakhir dengan air mata. Sewaktu saya menginjak remaja, saya pernah jatuh cinta lalu luka sejadi-jadinya, tetapi Yogyakarta menawarkan peluk dan mengusap semua sedih saya. Sewaktu saya semakin dewasa, saya harus bercerai dengan rumah dan meninggalkan ayah ibu, setelah sebegitu nyaman dengan segala yang ada. Kali ini, Yogyakarta mengajarkan kepada saya bahwa kemana pun saya pergi, kota inilah yang selalu menjadi rumah, menidurkan lelah, dan mencurahkan segala keluh kesah. Sampai kapan pun.

Hari ini saya pulang, Yah. Hari ini saya pulang, Bu. Setelah hampir seluruh sahur dan buka saya berulang setiap hari tanpa keluarga. Saya pulang, Yah. Saya pulang, Bu. Untuk melantunkan takbir, merayakan malam kemenangan bersama-sama. Berbagi cerita dan tertawa bahagia. Melupakan duka dan segala nestapa. Memeluk erat setiap cinta Ibu dan kasih Ayah yang tidak pernah lelah untuk bekerja. Pagi, malam, hingga pagi lagi. Maafkan saya, Yah. Maafkan saya, Bu. Selama ini saya hanya bisa merengek, meminta, dan membuat kecewa. Saya tidak akan berjanji untuk menjadi bla bla bla. Tetapi satu hal, semoga Ayah dan Ibu tetap panjang umur dan selalu dilimpahi bahagia sampai saya bisa pulang membawa apa yang bisa saya persembahkan kelak.

Hari ini, kebahagiaan mendekap satu sama lain. Dalam riuh gema semesta takbir. Selamat hari Raya Idul Fitri. Selamat menikmati waktu sebahagia-bahagianya bersama keluarga.



Dalam dekap kota Yogyakarta,


Ditulis dengan sadar pada 1 Syawal 1437 H.

Monday, March 28, 2016

Reuni Puspala


Setiap Sabtu selalu sama, tiap sudutnya penuh dengan kendaraan yang tumpah ruah di sudut jalan. Mulai dari roda dua hingga roda delapan. Mulai dari anak-anak hingga orang tua. Semua bersuka cita merayakan akhir pekan, setelah lima hari bergelut dengan urusan masing-masing.

Yogyakarta, kota yang selalu padat, penuh dengan hiruk pikuk manusia. Tidak harus menunggu akhir pekan atau libur semesteran, bahkan tiap pagi dan sore selepas pulang kerja di sepanjang jalan solo sudah sesak, penuh orang-orang berjubelan.

Di kota yang penuh dengan kebahagiaan ini, terajut masa putih abu yang tak sekedar abu-abu. Masa putih abu yang kenangannya tidak bisa dibeli dengan rupiah maupun poundsterling. Masa putih abu yang bermula di Kotagede, di situ pula saya dan teman-teman secara kesadaran penuh masuk dalam lingkaran keluarga yang bernama “PUSPALA”. Puspanegara Pecinta Alam, lebih dari sekedar komunitas pecinta alam, sebab di sini kami belajar banyak hal. Tentang semua hal yang alpa dan segala derivatnya. Tentang segala hal yang menyenangkan, sangat menyenangkan, dan menyenangkan sekali. Sebab, tidak ada yang namanya kesedihan di sini.

Sabtu pekan lalu, tepat 26 Maret 2016, semua pulang ke daratan setelah berlayar dari perairannya masing-masing. Kami memang pulang dengan cerita sukses masing-masing, tapi segala memori dan kenangannya tetap sama, tetap satu, tetap PUSPALA.


Persiapan panitia sehari sebelum acara.

Kepulangan alumni dari Jakarta.

Acara yang diadakan di SMA Negeri 5 Yogyakarta di deretan Nyi Pembayun 39 Kotagede ini dihadiri lebih dari 100 orang, sungguh melebihi target yang ditetapkan panitia oleh sebelumnya yaitu 66 orang. Mulai dari angkatan tahun 1983 dari awal berdirinya PUSPALA hingga tahun 2015 yang baru lulus kemarin. Acara ini dimulai pada pukul 16.00 Waktu Indonesia Bagian Puspala. Begitu memasuki gerbang sekolah, masing-masing dari kami akan disambut oleh salam hangat dan sapaan manis dari adik-adik puspala yang masih duduk di bangku sekolah. Duduk di meja registrasi, mengisi daftar hadir dan mengambil kaos reuni yang sudah dipesan sebelumnya.

Selepas mengurus registrasi dan segala tetek bengeknya di lobi depan, kami melangkah menuju lapangan tengah, lalu belok ke kanan menuju lapangan basket. Di antara lapangan tengah dengan lapangan basket terdapat lorong seperti goa yang berisikan foto-foto kenangan dari tahun 1983 hingga sekarang. Berkelap-kelip lampu ornamen merah kuning hijau. Di dekat stand makanan juga terdapat stand foto dengan aneka properti yang ada. Untuk memudahkan mengenali satu demi satu, kami memakai cocard yang sudah diberikan oleh panitia.

Stand foto yang disediakan oleh panitia.


Berbagai angkatan melebur menjadi satu.

Suasana sore hari sebelum acara dimulai.

Setiap dari kami melepas pangkat, melepas usia, melepas segala yang melekat dan menjadi muda kembali. Semua serasa seusia. Masing-masing dari kami menjadi pribadi yang menyenangkan. Duduk melingkar di meja depan panggung, menceritakan kisah dengan gaya khas masing-masing. Canda dan tawa kami menggema hingga ke langit-langit.

Deru adzan maghrib memecah hiruk pikuk petang itu. Kami bergegas menuju masjid untuk menjalankan ibadah berjamaah. Selepas itu, kami kembali ke tempat duduk semula. Suasana begitu syahdu petang itu. Menikmati berbagai hidangan yang telah disediakan oleh panitia sambil ditemani alunan akustik yang mendayu-dayu sendu. Selanjutnya, ada acara games yang dipandu oleh Fabri Hidayatullah. Games ini menarik antusias para hadirin, semua tertawa dan bergoyang-goyang melakukan senam. Tidak pandang usia, semua berkumpul menjadi satu lingkaran.


Acara selanjutnya, ada sambutan dan penyerahan pembangunan wall-climbing secara simbolis dari puspala kepada pihak sekolah. Kemudian dilanjutkan oleh sharing-sharing cerita dari senior PUSPALA. Kami semua mendengarkan dengan antusias. Semua terasa hangat, terasa dekat, terasa menyatu. Malam itu.

Penyerahan secara simbolis kepada pihak sekolah.

Sharing cerita dari para senior.

Semangat puspala tidak pernah mengenal usia. Tua, tapi tak renta.


Friday, February 26, 2016

Pada Senyummu yang Kesembilanbelas

Pada senyummu yang ke-sembilan-belas, mana mungkin aku tidak jatuh, lalu mencintai. Mencintai kedua pelupuk yang menghamparkan langit bagi segala yang alpa. Ingin rasanya bersembunyi dan menggelayut manja di dalamnya. Bola mata yang damainya seluas jagat raya, Ah! Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta.

Denganmu, cinta tak perlu basa basi. Cinta bukanlah rutinitas ucapan salam pagi seperti petugas Indomaret. Cinta bukanlah melapor hendak kemana dan pulang jam berapa seperti satpam perumahan. Cinta bukanlah larangan bermain dengan siapa seperti kubu geng anak TK. Cinta bukanlah menyampah kotak masuk seperti mama minta pulsa. Tapi cinta kita memang sederhana, bukan? Tak perlu basa basi.

Tak perlu kiranya aku menghujani tulisan ini dengan seonggok doa. Sebab ini bukan sebait ayat pada lembar-lembar alkitab, begelimang doa dan harapan baik. Tetapi, bukan berarti aku tidak berdoa untuk kebaikanmu, tanpa kau minta pun pasti sudah kulakukan ritual itu setiap pagi. Kau tahu itu, sayang.

Pada senyummu yang ke-sembilan-belas, mana mungkin aku tidak jatuh, lalu mencintai. Mencintai yang hari ini sedang berulang tahun. Selamat menua, selamat berkarya. Semesta di pihakmu, selalu. Doaku, di detak nadimu, setiap waktu.

Aku mencintaimu, sayang. Sepanjang usia Tuhan.

Teruntuk,
Ahmad Zainal Abidin.

Tuesday, August 11, 2015

Let's Laugh Haha

Hidup itu lucu, ya?

Saya pernah menangis kencang.
Saya pernah jatuh dan sempat kehilangan penopang.
Saya tidak mau makan.
Saya kehilangan hasrat untuk bertemu teman.
Saya hampir kehilangan harapan.
Saya terlihat menyedihkan.
Saat itu.

Karena tiga kali ditolak kampus biru, yang notabene kampus terbaik; yang terletak di kota pelajar ini.
Alasannya mungkin terdengar sangat konyol.

Kemudian,
untuk keempat kalinya saya mendaftar.
Hanya iseng mungkin.
Tidak belajar dan tidak berharap diterima;
setelah tiga kali ditolak kampus yang sama.

Hari pengumuman tiba.
Lucunya, saya malah diterima.
Bahkan di pilihan pertama.
Saya senang tidak terkira.
Saya loncat-loncat dan memeluk semuanya.

Andai saja saya lelah dan berhenti di ujian ketiga.
Andai saja saya tidak melanjutkan ujian saya.
Andai saja saya sudah terlanjur kecewa.
Mungkin saya tidak pernah merasakan rasanya,
"Selamat Anda diterima di Universitas Gajah Mada!"

Tetapi sekali lagi, hidup itu lucu, sayang.
Saya memilih melepas apa yang sudah susah-susah saya dapatkan.
Yang sudah susah-susah saya perjuangkan.
Saya melepas kampus negeri maupun swasta milik saya.

Hidup itu lucu ya,
saya pernah menangisinya,
tetapi dengan mudah saya melepasnya.

Friday, July 17, 2015

Saya Mencintaimu

Saya meminta air. Tetapi Dia memberi benua dan lautannya.
Saya meminta angin. Tetapi Dia memberi angkasa dan lapisannya.
Saya meminta gerhana. Tetapi Dia memberi bumi dan satelitnya.
Saya meminta cahaya. Tetapi Dia memberi bintang dan seluruh tata surya.
Saya meminta tanah. Tetapi Dia memberi jagad raya dan seisinya.

Saya tahu Tuhan Maha Baik. Dan akan selalu baik.
Ketika saya meminta bahagia, justru Dia memberi kamu dengan segala cinta dan kasih sayang.
Yang tidak pernah berhenti sedetik-pun untuk mencintai.
Yang tidak pernah lelah sekejap-pun untuk menyayangi.
Yang tidak pernah mengeluh sepatah-pun untuk melindungi.

Terima kasih telah mengetahui segala kekurangan, dan tetap memilih tinggal.

Saya mencintaimu,
dengan seuntuhnya.
Apa adanya, dan tidak mengada-ada.

Hari Raya

Bahkan sayang, gema takbirmu tepat setahun yang lalu masih memenuhi ruang semestaku. Rasanya cepat sekali. Hari berganti hari, siang berganti malam, panas berganti dingin, hujan berganti angin, luka berganti suka, dan bahagia akan tetap menjadi bahagia. Tidak akan pernah berganti. Setiap saat. Hingga setahun bergulir. Hingga tidak sadar kita berjumpa dengan Idul Fitri kembali.

Daun yang gugur tidak pernah menyalahkan angin. Hujan yang jatuh tidak pernah bisa kita cegah. Begitu pula denganku, yang selalu jatuh cinta denganmu. Pada setiap hal kecil yang kau lakukan. Sesederhana itu.

Selalu, dan akan terus, tanpa henti, tanpa lelah. Aku mencintaimu. Sesederhana itu.

Selamat Hari Raya Idul Fitri.

Thursday, July 16, 2015

Surat Yang Ditulis Dengan Sepenggal Maaf

Teruntuk:
Ayah dan Ibu

Saya menulis surat ini bukan tanpa alasan. Pertama, tanpa basa-basi, saya ingin meminta maaf. Meminta maaf atas segala kesedihan dan kekecewaan yang Ayah dan Ibu alami. Saya tahu, Ayah dan Ibu pasti sangat kecewa melihat putri kesayangannya-yang seharusnya bisa dibanggakan-gagal. Tidak hanya sekali, namun berulangkali. Saya gagal, Yah. Saya gagal, Bu. Berulangkali.

Mungkin saya memang payah, dengan mudahnya bisa berkata maaf, padahal saya tahu perasaan Ayah dan Ibu sekarang pasti sedang remuk seremuk-remuknya. Saya tahu perasaan Ayah dan Ibu sekarang pasti sedang hancur sehancur-hancurnya. Saya tahu, tetapi tidak ada yang bisa saya lakukan saat ini selain berkata maaf.

9 Mei 2015 pukul lima sore. Hujan lebat mengguyur Yogyakarta. Membuat seluruh badan saya basah kuyup. Saya nyaris menggigil di perjalanan. Kemudian, saya memilih berhenti di sebuah Kedai Kopi di pinggir jalan dan memesan secangkir coklat panas. Waktu itu tepat dengan pengumuman SNMPTN. Sebagian besar teman saya sudah saling memberi kabar; baik ataupun buruk. Saya segera membuka laptop, tetapi sinyal WiFi tidak begitu mendukung saya untuk membuka website SNMPTN. Saya keluar Kedai untuk mencari warnet, ternyata hanya 3 petak di sebelah kiri. Saya bergegas menuju warnet tersebut. Setelah membuka, hanya kotak berwarna merah yang saya dapati. Saya menangis kencang dan tidak bisa berhenti. Saya kembali ke Kedai masih dengan lingangan airmata di mana-mana. Saya sedih dan nyaris tidak mau pulang ke rumah. Entah apa yang akan saya katakan dengan kedua orangtua saya, saya tidak bisa berfikir saat itu, saya tahu pasti mereka sangat sedih mendengar kabar ini.

Saya tiba di rumah dan langsung mengurung diri di kamar. Hati saya hampir seluruhnya remuk saat itu. Saya begitu yakin lolos tetapi kenyataan berkata lain. Saya gagal.

Keadaan kembali normal. Hari-hari berjalan seperti biasa. Meski pagi nampak sendu dan malam selalu muram, tetapi saya yakin musim semi akan segera tiba. Saya yakin harapan akan selalu ada. Saya yakin.

Saya membuang segala keinginan untuk jalan-jalan, melupakan segala kesenangan, dan hanya berkutat pada buku. Saya jenuh? Tidak. Meski terkadang mengeluh, namun saya tidak sebenar-benarnya jenuh. Saya hanya merasa sedikit bosan karena tidak ada teman seperjuangan. Mungkin karena sebagian teman dekat saya sudah lolos jalur undangan, jadi hal tersebut sedikit memengaruhi psikologis saya.

Saya tidak kenal lelah untuk belajar, hingga saya sering mengabaikan kesehatan saya. Jarang tidur dan tidak pernah absen minum kopi. Saya membuat jadwal belajar saya sendiri, lengkap dengan jam dan target bab yang harus saya kuasai. Dari pagi hingga malam. Jam 6.30 saya sudah berada di bimbel, walau saya tahu jam segitu belum ada satupun tentor yang datang, tetapi saya semangat untuk datang lebih pagi, bersamaan dengan satpam atau cleaning service. Sepulang bimbel, terkadang saya bermain ke Perpustakaan Kota. Jika mengantuk, saya membuat secangkir kopi, entah siang atau malam. Sesampainya di rumah, saya kembali membuka buku hingga malam tiba. Saya selalu semangat. Selalu. Dan selalu yakin bahwa usaha saya ini tidak akan sia-sia. Yakin bahwa apa yang saya perjuangkan ini pasti akan berbuah manis. Apa yang saya tanam, pasti akan saya petik.

Genap sebulan saya memfosir tubuh saya. Alhamdulillah saya tidak jatuh sakit atau merasa depresi akibat terlalu banyak belajar. 9 Juni 2015 saya mengerjakan soal SBMPTN di Fakultas Kedokteran Hewan. Sendirian, tidak ada teman yang saya kenal saat itu. Tetapi bukan masalah, saya selalu optimis dan berjuang dengan maksimal.

Selang 5 hari, saya mengikuti Ujian Mandiri UGM. Lokasi ujian saya ada di Fakultas Kedokteran. Saya jatuh cinta seketika pada tempat ini. Selepas mengerjakan ujian, saya langsung sholat di Masjid Ibnu Sina. Berdoa, semoga saya bisa menjadi bagian dari tempat istimewa ini. Kedokteran adalah cinta pertama saya. Dan menjadi dokter adalah satu hal yang selalu saya impikan, sejak saya masih kecil.

Saya juga mendaftar SM UNS, karena seleksinya menggunakan nilai SBMPTN. Tidak perlu tes lagi, jadi tidak usah repot-repot sampai Solo.

Ramadhan tiba. Sebulan terasa begitu lama.

9 Juli 2015, bertepatan dengan buber angkatan. Beragam raut wajah yang saya jumpai saat itu. Ada yang panik, ada yang sudah menangis sebelum membuka hasilnya, ada yang parno, ada yang penasaran, ada yang santai-santai. Saya memutuskan untuk membuka hasilnya nanti sepulang buber, karena selain tidak ada koneksi, saya juga sedang sibuk wira-wiri.

Sesampainya di rumah, saya bertanya ke pada Ibu. Beliau menjawab tidak lolos. Saya bengong dan memilih untuk tidak membukanya sampai kapanpun. Saya tidak sanggup melihat kotak merah yang berisi tulisan tidak lolos serta permintaan maaf, untuk yang kedua kalinya. Saya menerima dengan lapang dada, toh masih ada SM UNS dan UM UGM. Saya menaruh sebesar-besar perasaan optimis saya pada dua seleksi tersebut, karena selain saya bisa mengerjakan, pilihan ketiga yang saya ambil sudah benar-benar aman.

Dua hari berlalu. Saya terbangun pada bilangan 13 bulan Juli dengan perasaan optimis. Segera menyalakan laptop, tetapi pengumumannya masih jam 11 malam nanti. Saya menunggu dengan gembira, tidak sabar menyaksikan betapa harunya saya nanti. Yang saya lakukan seharian hanya memandangi website SPMB UNS, walau saya tahu itu adalah hal bodoh.

Tepat pukul 11. Dysa, teman saya sudah bertanya tentang kabar UNS. Saya, Ibu, Ayah, dan Dysa sibuk membantu saya untuk masuk web karena server sedang down, saking banyaknya yang mengakses sepertinya. Akhirnya pukul 12 lebih Dysa berhasil masuk web, dia mengirimiku screen-capture yang berbunyi Alfu wa Ichda F tidak ada dalam daftar mahasiswa yang diterima di UNS melalui seleksi mandiri. Saya tidak percaya setengah mati. Saya mencoba masuk web dan membuktikan kebenarannya. Ternyata benar, Dysa tidak berbohong. Saya gagal. Untuk ketiga kali.

Dua hari berlalu. Hari ini 15 Juli adalah pengumuman untuk UM UGM. Ibu bilang beliau trauma membuka pengumuman tapi berulangkali kata gagal yang didapat. Tetapi saya tetap optimis karena saya bisa mengerjakan. Pukul 4 sore, Hanif, teman saya memberi kabar bahwa dia tidak lolos. Saya tidak goyah, saya tetap optimis karena saya tahu saya pantas mendapatkannya.

Takdir berkata lain. Saya gagal. Saya mengira bakal tersangkut di pilihan pertama ataupun kedua, tetapi kenyataannya di pilihan ketigapun tidak. Saya memberi tahu Ibu kabar menyedihkan ini. Ibu tidak percaya, kemudian menjadi tidak berdaya. Saya langsung lari ke kamar, tidak sanggup jika menyaksikan Ibu menangis untuk kesekian kalinya. Maaf, Bu. Saya juga mengabari Ayah melalu ponsel karena beliau sedang tidak di rumah. Ayah mengatakan tidak apa-apa, semoga diberi yang terbaik. Saya menangis membaca kalimat singkat tersebut. Maaf, Yah. Sekali lagi, maaf telah mengecewakan berulang kali.

Hati saya hampir remuk seluruhnya. Saya tidak bisa berfikir dan tidak tahu harus berbuat apa. Saya sedih. Sedih sebenar-benarnya sedih. Setiap bulir air yang jatuh dari mata saya menyisakan pedih yang teramat di dalam hati. Jika sedih ini adalah dosa, mungkin saya telah menjadi penghuni neraka.

No one knows about what actually I feel. Right now.

Saat itu juga, saya pergi ke rumah Guru Fisika saya, Pak Irwan, sambil membawakan parsel lebaran. Saya hendak mengucapkan terima kasih telah membimbing saya selama ini. Saya bercerita banyak tentang semua yang saya alami. Beliau tidak percaya. Tidak mungkin seorang Alfu tidak lolos. Sehari-hari kemampuannya bagus. Dia termasuk gadis pandai. Saya tidak pernah mendapati Alfu sedih, karena dia selalu tertawa setiap saat. Begitu katanya. Saya percaya bahwa saya pintar, bukannya sombong, tapi tidak mungkin seorang guru  sampai berbohong, saya tahu Pak Irwan selalu peduli dan mengamati murid-muridnya. And he really recharge my spirit when nobody can’t.

Saya bertanya apakah saya bodoh kepada teman-teman saya. Dan jawaban yang saya dapatkan selalu sama. Kamu itu pintar, Fu.

Semua saja berkata bahwa kamu itu pintar Fu, tapi kenyataannya yang tidak lebih pintar dari saya malah lolos. Semua saja berkata bahwa belum tentu aku bisa garap kaya kamu Fu, tapi kenyataannya kalian yang tidak bisa mengerjakan malah lolos.

Ibu, Ayah, saya hendak meminta maaf karena yang kalian banggakan sepenuh hati justru malah mengecewakan seenak hati. Maaf saya belum bisa menjadi apa yang kalian impikan.

Jika ditanya apakah saya sedih, iya memang saya sedih. Saya sedih, tetapi Ibu mencoba menghibur dengan mengatakan “sedihmu juga sedih kami”. Saya sedih, yang seharusnya bisa dibanggakan, pada kenyataannya hanya menanggalkan harapan. Saya sedih, impian Ayah dan Ibu yang begitu istimewa, malah saya tukar dengan air mata kecewa.

Saya telah gagal, tidak hanya sekali, namun berulang kali. Jika Ayah dan Ibu hendak kecewa, kecewalah. Saya ikhlas.



Gadismu,

Alfu.

Saturday, April 18, 2015

Petualangan Agung di Dataran Hyang Argopuro

Akhirnya, pada hari kelima kita tiba di simpang puncak. Tempat ini merupakan persimpangan di antara ketiga puncak; Rengganis, Argopuro, dan Arca. Dataran Hyang yang membentang mengelilingi lestarinya pegunungan Argopuro ini benar-benar menyisakan sejuta kenangan. Canda tawa suka duka tangis lelah emosi marah sedih letih sebal semuanya bercampur jadi satu. Petualangan agung ini bermula dari Stasiun Lempuyangan, 13 hingga 21 April 2014. Tepat setahun yang lalu.

Hari pertama, kami berjalan meninggalkan Pos Baderan, pelan-pelan menikmati terik yang membuat keringat mengucur tanpa henti. Jalan bebatuan yang kami lewati tidak begitu terjal. Tapi cukup membuat sepatu saya rusak. Di sisi terdapat tebing yang tidak begitu tinggi. Sedang di sisi kanan merupakan jurang, banyak sekali air terjun yang bisa dilihat dari kejauhan. Tiba-tiba saya menyadari handphone saya terjatuh. Saya kembali menyusuri jalan keberangkatan tadi, tetapi tidak menemukan apapun. Saya pasrah. Memilih membiarkan dan melanjutkan perjalanan. Belum tiba di Makadam, cuaca terik sepagian berubah menjadi mendung dan menjatuhkan bulir-bulir hujan. Lama kelamaan menjadi deras. Jalanan yang hanya selebar ban motor menjadi sangat licin. Membuat saya terus terjatuh dan mengeluh. Saya sebal dan sempat menangis. Saya mengajukan pertanyaan, "Ini kapan sampai?" Konyol sekali. Sampai di mana? Belum ada sepertujuh perjalanan saja sudah mengajukan pertanyaan seperti itu. Kami belum mencapai mata air 1, tetapi hari sudah gelap. Kami memilih mendirikan tenda di sini. Di tempat sempit, tidak tahu namanya. Kami segera mengganti pakaian kami yang basah kuyup, kemudian menjerengnya di pohon-pohon. Berharap esok cerah sehingga kami bisa menjemur pakaian-pakaian ini. Kami segera membuat sup kentang dan wedang jahe untuk menghangatkan badan. Kami juga memasak nasi dan tumis buncis. Lapar sekali rasanya.

Hari kedua, cuaca sangat cerah. Pukul 7 mentari sudah menyibakkan teriknya menembus celah pepohonan; tempat kami beristirahat. Kami segera memasang tali dan membuat jemuran. Setelah dirasa cukup kering, pukul 9 kami segera mengemas dan bergegas melanjutkan perjalanan. Tengah siang, kami tiba di Mata Air I. Mengisi ulang air minum dan mengisi ulang tenaga kami. Berbekal golok yang dibawa salah satu teman saya, kami membuat senjata untuk mainan. Seperti panah-panahan, tombak, dan trisula. Kami melanjutkan perjalanan. Rombongan terpisah menjadi dua. Tujuh orang di depan dan lima orang di belakang. Saya bersama keempat teman saya, yang kebetulan merupakan rombongan belakang, berjalan sangat lambat dan sering sekali istirahat. Katanya, kalo tidak dinikmati nanti rugi. Keempat teman saya menggendong carrier sangat besar, 80L hingga 100L. Sedangkan saya hanya menenteng tas serut sambil makan kuaci. Kami bermalam di Mata Air II. Banyak sekali hewan kecil yang suka menggigit, kami menamainya nyoy-nyoy. Kami membuat api unggun dan menyeduh jahe bakar.

Hari ketiga, kami kembali menjemur pakaian-pakaian basah kami. Sayangnya, ada teman kami yang jatuh sakit. Tetapi tidak begitu parah sehingga kami bisa melanjutkan perjalanan. Kami membuat jus tomat serta wedang kopi-gulajawa untuk bekal hari ini. Hari memang cerah, tetapi ketika melewati hutan lumut tetap saja basah dan lembab. Setelah melewati banyak sekali-yang entah apa nama dari setiap sabana tersebut-kami tiba di alun alun kecil. Kami berteriak sepuasnya di sini, karena sejak hari pertama pendakian, kami hanya bertemu dengan tiga orang dari SMA N 3 Malang. Selebihnya hanya burung rumput dan pohon yang menjadi teman tertawa kami. Kami melewati padang verbena, yang kerap kali disebut lavender. Sejauh mata memandang, hanya hamparan ungu yang terlihat. Lebih cantik dari Oro-Oro Ombo milik Semeru. Sebelum petang, kami tiba di Cikasur. Aliran air di Cikasur sangat jernih! Kami segera memanen jembak dan menjadikannya pecel sebagai menu makan malam kami.

Semburat merah jingga yang muncul di ufuk timur mengawali pagi keempat kami. Menambah damainya pagi di Cikasur. Saya menikmati secangkir kopi, sementara Musa sibuk dengan kameranya. Berlarian mengejar merak di antara luasnya bekas landasan pesawat terbang pada masa kolonial. Beberapa dari kami ada sibuk menjemur pakaian, ada yang memasak, ada yang bermain air sambil memanem jembak, ada juga yang hanya duduk menikmati kepulan asap dari beberapa batang rokok. Syahdu sekali pagi itu. Kami meninggalkan Cikasur yang Maha-Luas dan berjalan menuju Cisentor. Kami memasuki hutan yang berdebu dan kotor. Banyak sekali pohon tumbang dan beberapa rute tertutup oleh tanaman liar. Tidak ada sampah sama sekali, jadi kami sempat kebingungan dan tersesat. Sunyi dan hanya suara angin yang ada. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sini. Setelah melewati hutan, kami tiba di sabana. Kemudian ada padang verbena lagi. Kemudian memasuki hutan lagi. Kami memanen murbei dan tomat mini. Kami juga melewati hutan edelweiss. Akhirnya kami tiba di Cisentor. Setelah membersihkan diri, mengisi ulang air minum, dan makan, kami berjalan menuju Rawa Embik. Malam di Rawa Embik sangat-sangat dingin. Saat kami memasak, beberapa dari teman saya sudah mengunci rapat-rapat dirinya di dalam kantung tidur. Enggan keluar tenda.

Saya suka pagi kelima di Rawa Embik. Cerah dan cantik langit di sini. Ribuan dandelion merengek-rengek minta dipetik dan ditiup. Seperti biasa, kami menjemur semua pakaian basah kami sebelum melanjutkan perjalanan. Rawa Embik merupakan sumber air terakhir, jadi kami mengisi semua botol milik kami. Sekitar pukul 11, kami berjalan menuju Simpang Puncak. Setelah berulangkali memasuki hutan dan padang edelweiss, kami akhirnya tiba di Simpang Puncak. Kami segera membuat perapian karena menipisnya bahan bakar. Sebelum mentari tenggelam di ufuk barat, kami berlarian menuju Puncak Argopuro. Ada yang cekeran karena lelahnya memakai sepatu selama lima hari, ada yang hanya berbalut sarung, ada juga yang membawa secangkir teh panas. Kami menikmati sunset di Puncak Argopuro. Romantis? Biasa saja. Menu makan malam kali ini sangat istimewa, Spaghetti with Bolognese Sauce ditambah makaroni sebagai pelengkap. Sambil menunggu rembulan muncul di permukaan, kami bergiliran membacakan puisi, duduk melingkar di depan perapian.

Pada pagi keenam, tepat pukul 5 sebelum mentari memancarkan semburat merah jingganya, kami berlarian menuju Puncak Rengganis. Di sini, ada bekas petilasan Dewi Rengganis. Setelah berjalan turun, saya dan dua teman saya melakukan remidi ke Puncak Argopuro dilanjut ke Puncak Arca. Pukul 11, kami merapel sarapan sekaligus makan siang. Tepat tengah hari, kami melanjutkan perjalanan. Logistik yang habis dan air minum yang menipis menuntun kami harus tiba di Pos Bremi malam ini juga. Sebelumnya, dua teman saya sudah kembali ke Rawa Embik untuk mengisi ulang air minum.

Kami secara tidak langsung terpisah menjadi dua rombongan. Rombongan depan berisi 5 laki-laki super kuat yang berjalan tanpa bekal, mereka tiba di Pos Bremi pukul 9 malam. Di antara mereka sempat terjadi cekcok, masalahnya hanya sepele, tetapi jika lapar dingin dan dehidrasi bercampur jadi satu, hal itu menjadikan kami lebih mudah emosi. Semua tahu itu.

Sedangkan rombongan kedua berisi 4 laki-laki dan 3 perempuan. Semua kaki kami sudah luka-luka, baik rombongan depan maupun belakang, tapi kami tidak mungkin berhenti, kami harus melanjutkan perjalanan karena logistik sangat menipis. Saya sempat masuk ke jurang, tapi alhamdulillah saya tersangkut di antara pepohonan dan masih bisa diselamatkan oleh teman-teman saya. Kami melewati padang ilalang setinggi 2 meter. Ternyata rumputnya basah terguyur hujan tadi pagi, membuat badan kami basah kuyup. Kami lupa tidak memakai jas hujan saat itu. Selanjutnya, kami melewati Hutan Hujan Tropis. Saya takut saat itu, berjalan sangat cepat dan tidak berkata sepatah kata pun. Hari hampir petang saat kami tiba di Danau Taman Hidup, namun mistis sekali saat itu, suasana penuh kabut dan kami tidak bisa melihat apapun. Kami segera melanjutkan perjalanan. Pukul 8 malam, salah satu teman perempuan saya jatuh sakit. Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak dan menikmati bekal terakhir kami. Sup makaroni tinggal sebungkus, kornet dan sarden juga tinggal sekaleng. Mengetahui tidak cukup untuk bertujuh, dua dari kami memilih melanjutkan perjalanan. Setelah makan, keadaan tidak kunjung baik. Saya tahu, baju kami basah sejak siang tadi, perut kami lapar, tenggorokan kami dahaga,pundak kami lelah, kaki kami sakit, pikiran kami buyar. Dua dari kami terkena hipotermia, satu lagi sudah hilang fokus dan ambyar karena mengantuk. Sekarang tinggal dua, saya dan Musa. Saya bingung, kemudian memutar otak, memilih membawa satu teman saya yang terkena hipotermia untuk dipaksa turun ke basecamp. Tidak mungkin kami berlima tinggal di gunung tanpa bekal. Musa menjaga teman perempuan saya yang sakit dan terkena hipotermia, ditambah teman laki-laki saya yang hilang fokus dan ambyar tadi. Air minum tinggal 1 botol, saya membaginya dengan Musa. Saya menuruni jalanan yang sangat terjal ini sambil berdzikir, berharap semua baik-baik saja hingga nanti. Laki-laki di sebelah saya ini benar-benar sudah disorientasi, sejak tadi hanya hanya ngelindur seperti orang kesurupan. Saya menamparnya dan mengguyurnya dengan air terakhir milik saya. Tetapi dia belum juga sadarkan diri. Baju kami basah. Saya pun ikut menggigil sedari tadi. Saya mensugesti diri, saya kuat dan semuanya akan baik-baik saja. Saya takut dan sempat menangis, takut jika yang saya bawa turun ini pada akhirnya kesurupan. Saya terus berdoa. Akhirnya saya tiba di Hutan Damar. Saya menyadari bahwa sinar headlamp saya tidak lebih terang dari rembulan di atas sana, maka dari itu saya memilih mematikannya. Saya akhirnya bertemu dengan dua teman saya yang tadi berpisah pukul 8 malam. Mereka tertidur di Hutan Damar katanya. Kemudian kami berempat melanjutkan perjalanan menuju basecamp.

Tiba di Desa Bremi, kami tidak tahu di mana letak basecampnya. Saya melihat jam, ternyata pukul 3 pagi. Tidak ada kehidupan jam segini, tidak ada air, tidak ada makanan, tidak ada yang tahu di mana rombongan pertama saat ini berada. Kami berempat akhirnya tertidur di depan warung. Entah milik siapa. Pagi harinya, kami mencari rombongan pertama. Akhirnya kami bertemu dan menceritakan apa yang kami alami. Tiga dari mereka menyusul ketiga teman saya yang tertinggal di hutan. Membawakan air, susu, dan roti. Setelah beberapa saat, dari kejauhan tampak perempuan sedang digendong teman laki-laki saya. Mereka berjalan bersama 4 laki-laki lain. Pincang, semua kakinya sedang luka-luka. Tapi kami tersenyum bahagia, akhirnya semua baik-baik saja dan tidak ada hal buruk yang terjadi.

Tuesday, March 17, 2015

Dari Perpisahan Saya Belajar 3 Hal

Yang pertama.
Jika kita-saya dan kamu-memang benar berjodoh, ke manapun dua mata memandang dan dua kaki melangkah, saya akan selalu menjadi tempatmu untuk pulang. Dan kamu, akan selalu menjadi tempat di mana saya bisa tertawa  lepas tanpa harus malu-malu. Kita akan sama-sama menidurkan lelah masing-masing setelah sekian lama berpisah. Saya pasti akan sangat merindukanmu kelak. Maka tak ada yang bisa dilakukan selain bermanja-manja dan tidur di pangkuanmu.

Yang kedua.
Jika kita-saya dan kamu-memang tidak berjodoh, pasti akan ada alasan mengapa kita harus berpisah. Akan ada alasan mengapa rindu yang semakin dipendam semakin merajalela ini pada akhirnya tidak sejalan dengan Takdir Tuhan. Saya tidak perlu menghilang jauh agar bisa lupa denganmu. Dan kamu juga tidak perlu pindah ke luar kota atau memutus komunikasi dengan saya. Bukankah kita masih bisa berteman?

Yang ketiga.
Jika memang tidak ada alasan untuk berpisah dan kau malah memilih pergi, mungkin juga tidak ada lagi alasan untuk mempercayaimu. Maka, saya akan ikut pergi. Bukankah hidup itu pilihan?

Thursday, February 26, 2015

Saya Punya Seorang Teman

Saya punya seorang teman.
Kami sudah dekat sejak awal masuk sma.
Dia bercerita banyak ke pada saya tentang gadis pujaan hatinya.
Saya ingin bercerita juga tentang lelaki pujaan hati saya.
Tetapi saya malu.
Saya memillih diam dan mendengarkan ceritanya saja.

Saya punya seorang teman.
Sekarang dia sudah bahagia dengan gadis pujaan hatinya.
Dia menghubungi saya kemudian membagi kebahagiaanya.
Saya kira setelah bahagia dengan gadis itu, dia lupa dengan saya.
Ternyata dia tidak lupa dan kami masih bisa berteman.

Saya punya seorang teman.
Dia sudah berpisah dengan gadis pujaan hatinya.
Dia menghubungi saya.
Kemudian saya mengatakan bahwa saya dekat dengan laki-laki lain.
Dia diam.
Kemudian pergi.

Saya punya seorang teman.
Kami berpisah sejak saat itu.
Dia sering menghindari saya.
Dia bilang, dia juga sudah dekat dengan gadis lain.
Dia aneh.

Saya punya seorang teman.
Kami hilang kontak lebih dari setahun.
Saya tidak pernah bertanya kabar.
Pun dia.

Saya punya seorang teman.
Kami bertemu lagi di malam ulang tahun teman dekat saya.
Tetapi dia tidak menyapa.
Mungkin dia lupa.

Saya punya seorang teman.
Dia menghubungi saya kembali.
Dia bertanya kabar.
Saya jawab saya baik-baik saja.
Ternyata dia tidak benar-benar lupa.

Saya punya seorang teman.
Matanya teduh.
Hidungnya mancung.
Kumisnya tipis.
Jari-jarinya eksotis.

Saya punya seorang teman.
Ahmad Zainal Abidin namanya.
Dia bilang dia sedang berulang tahun hari ini.
Jadi saya membuatkan puisi ini untuknya.

Saya punya seorang teman.
Saya jatuh hati dengannya.
Sejak awal masuk sma.

Surat Yang Ditulis Untuk Ulang Tahun Ke-18

Sebenarnya aku benci ketika kau berulang tahun. Aku benci karena aku harus menyiapkan kejutan dan hadiah. Bukan, bukan benci lebih tepatnya. Tetapi aku memang payah dalam dua hal tersebut. Pertama, setiap kali aku menyusun kejutanku untukmu, yang ada hanya gagal dan kau malah mengetahuinya lebih dulu. Kedua, setiap kali aku harus memberikan hadiah padamu, aku bingung harus memberikan apa. Aku sudah berfikir lebih dari seminggu, tetapi nampaknya sia-sia. Jadi, aku memilih untuk tidak melakukan apa-apa.

Aku ingin mengajakmu jalan-jalan sebagai hadiah di hari ulang tahunmu. Pergi ke tengah laut yang pinggirnya dikelilingi pegunungan, kemudian kita duduk di atas perahu kecil dan menghabiskan hari di sana. Tidak usah takut jika tersengat terik, sayang. Karena aku pasti akan membawakanmu topi yang besar, yang ada rumbai-rumbainya. Kau pasti sangat tampan jika mengenakannya. Kemudian kita mengulur kail pancing dan melemparnya sejauh mungkin. Jika tidak mendapat ikan tidak apa-apa, sayang. Tidak usah memaksa. Toh kita juga tidak akan mati kelaparan jika tidak mendapat ikan. Aku pasti akan membawakanmu bekal yang banyak untuk kita seharian. Kamu tidak usah takut jika aku tiba-tiba mendorongmu ke laut sambil mengucapkan “Hei selamat ulang tahun ya”. Aku tahu kau tidak bisa berenang, jadi pasti tidak akan ku lakukan. Tenang saja, sayang.

Kalau kau tidak suka menghabiskan hari di atas perahu juga tidak apa-apa. Aku bisa mengajakmu untuk bermain layang-layang di tanah lapang. Kita tidak perlu susah payah untuk menaikkan layangannya, karena angin pasti akan bersahabat denganmu. Setelah lelah, aku akan mengeluarkan roti isi milikku, kemudian membaginya denganmu. Kita duduk di bawah pohon beringin di sisi barat. Berdendang menikmati alunan angin, kemudian aku bersandar di pahamu, sambil memetik jemarimu.

Aku tahu di umurmu yang ke 18 ini kau tidak lagi membutuhkan roti dan lilin.
Aku tahu di umurmu yang ke 18 ini kau tidak lagi membutuhkan gandum dan telur.
Aku tahu di umurmu yang ke 18 ini kau tidak lagi membutuhkan kejutan dan hadiah.
Yang aku tahu, di umurmu yang ke 18 ini, yang kau butuhkan hanyalah doa.
Aku selalu berdoa yang terbaik untukmu, sayang. Semoga semesta turut mengaminkan doa-doaku untukmu, dan doamu tentu saja. Semoga keberuntungan dan Tuhan selalu bersamamu.

Kau tidak perlu hal-hal yang spesial agar bisa menjadi spesial di hari spesialmu. Bahkan, ketika kau diam pun kau sudah sangat spesial.
Selamat ulang tahun.



3 tahun yang lalu masih anak-anak.
Tetapi, tidak perlu menjadi anak-anak lagi kan jika ingin bermain layang-layang?

Ternyata Bahagia Tidak Semudah Melupakanmu


Hai. Apa kabar?

Ini adalah surat kedua-setelah surat yang aku tulis hampir 2 tahun yang lalu-untukmu. Aku ingat, suratku sewaktu itu adalah surat paling duka yang pernah aku tulis. Surat yang berujung dengan perpisahan. Yang kemudian memaksa kita-aku dan kamu-untuk bahagia dengan jalan masing-masing.

Kita sepakat, tidak ada tangis dan air mata lagi setelah itu. Kita juga sepakat, akan selalu bahagia dan saling berdoa. Untukku dengan bahagiaku, dan untukmu dengan bahagiamu. Ya, kita sudah sepakat. Waktu itu.

Maaf, ternyata aku gagal. Bahagia tidak semudah melupakanmu kemudian mencari laki-laki lain untuk dicintai. Aku mengkhianati janjiku sendiri. Aku berusaha untuk tidak menangis, tetapi kenyataannya aku menangis lebih kencang dari sebelumnya. Kau kira aku baik-baik saja dan selalu bahagia dengan lelakiku waktu itu? Tidak. Kau dan aku sama-sama tahu jawabannya. Aku melukai perasaanku sendiri, tetapi aku jauh lebih melukai perasaan lelakiku pada waktu itu. Aku merasa berdosa karena membohonginya. Bahkan hingga saat ini aku belum juga meminta maaf ke padanya. Aku berjanji, secepatnya aku akan-entah besok atau lusa.

Aku memilih bertahan untuk sendiri, meski aku tahu bahwa kau sudah bahagia dengan jalanmu. Dengan gadis cantik berlesung pipit atau gadis cerdas beralis tebal milikmu itu. Aku hanya bisa berdoa yang terbaik untukmu; untuk kalian lebih tepatnya. Tidak sopan kan jika tiba-tiba aku menghubungimu dan memintamu agar kembali? Jadi, aku memilih untuk melupakanmu.

Melupakanmu? Hahaha. Aku tertawa, hingga menangis, hingga tertidur. Besoknya aku terbangun, kemudian melakukan hal yang sama. Hingga tertidur.

Aku mencoba jatuh cinta selain denganmu. Tetapi maaf, ternyata aku gagal. Bahagia tidak semudah melupakanmu kemudian mencari laki-laki lain untuk dicintai. Aku mencoba untuk menjatuhkan hatiku selain ke hatimu. Tetapi maaf, ternyata aku gagal. Aku mencoba tertawa dan bahagia dalam teduh mata selain matamu. Tetapi maaf, ternyata aku gagal. Aku mencoba menikmati dendang alunan jemari selain jemarimu. Tetapi maaf, ternyata aku gagal. Bahagia tidak semudah melupakanmu kemudian mencari laki-laki lain untuk dicintai. Iya kan?

Setahun kemudian, nampaknya semesta berkonspirasi untuk mempertemukan kita pada malam itu; pada malam ulang tahun teman baikku. Kau datang. Aku datang. Kita tidak saling berbicara pada waktu itu. Aku ingat, sudah hampir setahun kita tidak berbicara. Lama ya? Hahaha. Bahkan lidah ini sudah kelu dan lupa bagaimana caranya untuk menyebut namamu.

Aku lupa kronologi selanjutnya. Yang aku ingat, sekarang aku sudah bertemu denganmu kembali. Aku bahagia.




Teruntuk,
Yang hari ini genap berusia 18 tahun.
Semoga selalu bahagia.



Sunday, December 7, 2014

Cinta Tumbuh di Sudut Kota Yogyakarta



Cinta ini tumbuh di warung kopi pukul tiga pagi. Cinta ini tumbuh di sepanjang jalan Malioboro. Cinta ini tumbuh di antara gemerlap lampu Stadion Maguwoharjo. Cinta ini tumbuh di tempat yang biasa-biasa saja. Di setiap sudut kota Yogyakarta; angkringan nasi kucing, lorong-lorong sosrowijayan, landasan paralayang, derai pasir pantai Gunungkidul, nol kilometer, padepokan teater, warung kopi, alun-alun utara, warung bakmi jawa, pasar ngasem, ringroad, dan bunderan ugm.

Cinta ini tumbuh di tempat yang sederhana. Cinta ini tidak tumbuh di tempat yang menurut orang-orang istimewa.

Kami sering duduk bersama. Menikmati kepulan uap dari cangkir cokelat yang saling bercengkerama. Menertawakan hal-hal kecil dan konyol yang tidak seharusnya ditertawakan. Bercerita tentang semuanya, dari apha sampai zet. Rasanya seperti tidak pernah kehabisan topik, walaupun setiap hari kami bertemu. Entah, ada saja yang ingin diceritakan.

Pernah suatu ketika saya berfikir mungkin saya akan bertemu jodoh saya di antara peron-peron stasiun kereta api atau di basecamp pendakian. Saya tidak menemukannya di sana, tetapi dengannyalah kami menjelajahi tempat-tempat itu.

Saya pernah angkuh untuk tidak menonton bola karena saya tidak menyukainya. Tetapi dengannya, saya tidak keberatan saat menemani menonton tim kesayangannya. Dia begitu serius menyaksikan setiap tendang-sepak para pemain. Saya mencoba ikut menyaksikan, tetapi tetap tidak paham dan malah mengantuk. Kemudian saya memilih untuk memperhatikan matanya yang teduh dan hidungnya yang mancung.

Dia pernah angkuh untuk tidak mau mencoba semua produk olahan sapi. Tetapi setiap kali saya mengajaknya ke tempat semacam Kalimilk, dia tidak menolaknya.

Saya sering mengesalkan setiap kali ingin makan. Karena kami harus mengitari setiap sudut Jogja terlebih dahulu. Setelah berjam-jam berkeliling dalam kebingungan, saya memilih kembali ke tempat awal. Dia tidak marah. Saya tertawa, dia pun ikut tertawa.

Dia sering menyebalkan karena selalu tampil rapi, sedangkan saya hanya memakai celana kolor saat bepergian. Dia sering menyebalkan karena setiap kali saya berusaha tampil cantik, yang ada hanya ditertawakan. Dia sering menyebalkan karena setiap kali ingin bicara, tiba-tiba hanya diam dan mengalihkan pembicaraan. Dia sering menyebalkan karena hidungnya terlalu mancung, sedangkan hidungku tidak.

Dia bukanlah lelaki romantis pada umumnya. Setiap turun dari gunung, dia selalu membawakanku batu. Katanya, kalau membawakan batu tidak perlu mengeluarkan biaya. Kadang-kadang dia memberikanku bunga. Tetapi bukan bunga mawar yang dibeli di Kotabaru, melainkan bunga kecil yang dipetik di jalan. Dia lucu. Dan setiap ke-tidak-romantisan-nya membuat dia jauh lebih romantis daripada lelaki pada umumnya.

Saya merasa sangat dicintai atas kekurangan dan ketidaksempurnaan yang saya miliki. Saya merasa sempurna dengan hadirnya, dan merasa bahagia setiap kali bertemu dengannya. Untungnya, cinta tumbuh di tempat yang sederhana, yang biasa-biasa saja. Cinta tak perlu menghabiskan banyak biaya untuk berfoya-foya. Cinta adalah 'saya' dan 'dia' yang berubah menjadi 'kami'. Cinta adalah Yogyakarta, di setiap sudut keromantisannya.