Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts

Sunday, July 14, 2013

Memprihatinkan

Hai.
Bosen nggak sih hidup gitu-gitu aja? Sering sih ngerasa gitu. Rasanya pengen lepas dan bebas. Tapi esensinya pelajar itu ya belajar. Kejar cita-cita dahulu, bahagiakan orangtua dahulu, matangkan pikiran dahulu, baru boleh bertindak semaunya. Semaunya disini bukan berarti lepas dari norma dan etika yang ada. Terkadang pengen fokus buat belajar, tapi selalu aja ada hambatannya. Semangat belajar itu kaya cuma sekedar mitos. Datang dan pergi semaunya sendiri. Seberapa banyak dorongan dan motivasi yang masuk, kalau cuma eksternal itu juga nggak bakal bertahan lama. Sepertinya sebagian besar remaja di abad 21 sudah kehilangan motivasi belajarnya. Cuma diselimuti rasa malas dan malas. Mari memutar pikiran menuju masa lalu. Saat orangtua kita masih kecil, mereka tidak diperbudak teknologi. Saat mereka remaja, mereka tidak menjadi pribadi yang lemah karena sebuah masalah. Mereka fokus belajar dan baru memikirkan jodoh saat sudah kuliah. Hidup mereka natural, tidak berMSG, sakarin, karoten, atau bumbu-bumbu lainnya. Coba lihat sekarang? Nampaknya berbeda 180 derajat. Memprihatinkan.

Tuesday, July 2, 2013

Aku Bebas

Tiga hari kedepan aku akan duduk di ruangan ini. Mendengarkan seorang pembicara bersama 16 orang partner lain dengan variasi gen yang ada, termasuk usia. Aku merasa aku paling muda, usiaku baru saja menginjak enam belas tahun, tetapi saat ini berada di CD Bethesda untuk mengikuti Pelatihan Konseling dan Intervensi Psikologi Dasar. How lucky :)))
Hari pertama, cukup membuatku berkali-kali berkata "kayanya emang salah deh ikut kegiatan ini, yang lainnya udah pengalaman, lha sini kopong banget gatau apa-apa." Awal pertemuan kami ada kontrak belajar dan juga disuruh menuliskan harapan untuk 3 hari kedepan setelah mengikuti kegiatan ini. Aku bingung. Aku merasa sangat kopong. Jangankan untuk mengerti materi, untuk sekedar mencerna apa yang dikatakan pembicara saja susah haha-_- dan tanpa pikir panjang aku lalu menuliskan harapanku di kertas berwarna kuning: nggak pahpoh. Hanya dua kata memang :)))
Hari kedua berjalan biasa saja, dan aku sudah mulai terbiasa. Ada beberapa praktek yang aku lakukan di sana. Ketika aku menjadi konseli, entah kenapa aku bisa menceritakan masalahku yang sebegitu rumit kepada mereka yang baru saja aku kenal. Aku meluapkan segala unek-unek yang selama ini membayangi pikiran. Semua orang memang butuh tempat sampah. Yang selama ini disembunyikan di balik topeng juga suatu saat akan butuh pelampiasan untuk membuang sampah-sampahnya. Hakikatnya memang manusia membutuhkan orang lain untuk berbagi cerita canda tawa suka duka dan luka. 
"Cinta itu harus memiliki. Kalo enggak itu namanya cuma perasaan." -Someone.
Tetapi disaat itu pembicaranya mengatakan bahwa kita tidak membutuhkan suatu objek untuk menujukkan keberadaan kita. Dengan atau tanpa dia, kita masih bisa mencintainya. Cinta itu tulus, tanpa sebuah alasan, tanpa rasa pamrih yang mendalam. Tetapi jangan menaruh perasaan terlalu dalam, karena jika bahagianya bersama orang lain, maka kita tidak terlarut-larut dalam kesedihan.
Hari ketiga, aku mendapatkan pelajaran baru lagi. Ini kali pertama aku melakukan sebuah meditasi. Lama sekali. Pertama kali aku memejamkan mata, kepalaku terasa sakit, semua masalahku tergambar di pikiran, berotasi tanpa arah dan tujuan. Semakin lama, kepalaku merasa agak baikan. Masalah yang tadinya memenuhi otak kini berubah menjadi pikiran bahagia tentang hal yang aku suka. Gunung. Laut. Teater. Puisi. Kata. Salsa. Ah :"). Ketika aku membuka mata, aku serasa terbangun dari sebuah ketidaksadaran yang cukup lama. Pikiranku seperti kembali nol. Seperti awal dulu. Aku tidak merasa terbebani lagi dengan semua masalah yang tiap hari bercumbu memenuhi pikiranku. Aku bebas.

Yogyakarta, 28 29 30 Juni 2013.
Terimakasih untuk 3 hari luar biasa ini.
Warmly,

Alfu.

Tuesday, December 11, 2012

Ketika Temanmu Aids

Aids membawa tantangan baru bagi semua orang; tidak hanya yang terkena HIV-positif sendiri, tetapi keluarga dan teman-temannya. Jika teman kita sakit, sering kita merasa tak mampu menolong, bahkan bingung harus berbuat apa. Mungkin artikel ini dapat membantu.

1. Jangan menjauh, tetaplah menjadi temannya. Memiliki teman dapat membesarkan harapan. Tunjukkan rasa simpati dan empatimu, bersamanyalah disaat suka maupun duka. Jangan takut, HIV tidak menular melalui bersentuhan.
2. Beritahu dulu saat ingin menjenguk, ada kalanya dia ingin sendiri. Tetaplah bertanya tentang keadaannya, tetapi jangan memaksa. Ada kalanya dia ingin curhat, mungkin juga tidak. Pengertian seorang teman besar sekali artinya.
3. Ajak temanmu untuk jalan-jalan dan melalukan kebiasaannya, tetap saja hormati keterbatasan fisiknya.
4. Ngobrol juga baik untuk kesehatan. Bicarakan hal-hal ringan dan menarik. Mungkin saja temanmu sudah bosan membicarakan penyakit, obat, dan dokter melulu.
5. Ada untuknya saja sudah memberikan ketenangan baginya. Tak harus bicara juga. Duduk bersama dan menemaninya menonton film atau mendengarkan musik. Banyak perasaan yang dapat ditunjukkan walau tanpa kata-kata.
6. Ada kalanya temanmu marah tanpa alasan yang jelas. Jangan kecil hati karenanya. Ingatlah, kadang rasa frustasi lebih mudah ditumpahkan pada orang yang dekat dengan kita. Mengertilah keadaannya, berilah semangat, dan bantu dia untuk tetap pada kontrolnya.

Menerima kenyataan bukan berarti kita kalah. Menerima kenyataan dapat mengurangi beban mental kita. Jangan lupa jaga dirimu. Perhatikan perasaanmu. Bagilah duka citamu, rasa marah dan tak berdaya, atau perasaan apa saja menghinggapimu. Hidup bukan untuk tenggelam dalam sedih. Semangat!:))

Thursday, November 29, 2012

Hidup

Kadang-kadang aku kepikiran makna hidup yang sebeneranya. Hakikat hidup yang sesungguhnya itu apa? Apa iya, hidup itu cuma sekolah, belajar, cari kerjaan, menikah, punya anak, jadi tua trus mati?
Sekolah&belajar, itu tuntutan sih. Mau nggak mau ya harus mau. Kepaksa nggak kepaksa ya harus dipaksa. Capek nggak capek ya harus tetep sekolah. "Kalo nggak sekolah, mau jadi apa besok?" "Kalo nggak belajar, mau jadi apa besok?" Kalimat-kalimat tadi sesungguhnya udah sangat menyatu dengan kuping. Apa iya kesuksesan cuma ditentukan oleh faktor sekolah&belajar? Nyatanya ada kan sarjana tapi pengangguran? Banyak malah.
Cari kerjaan juga harus pake ijazah, formalitas sih sebenernya. Bukannya sekarang udah jaman modern? Bagus jeleknya nilai yang terpampang di ijazah juga bisa diatur, asal ada duit&kekuasaan.
Kalo menikah sih jodoh udah di tangan Tuhan, tapi masa iya kita cuma nungguin jodoh pemberian Tuhan datang dengan sendirinya? Jodoh sih emang di tangan Tuhan, tapi kita yang berusaha:)))
Masa iya siklus hidup cuma gitu-gitu aja? Bosen sama hari yang cuma muter-muter dari minggu ke minggu, dan gitu-gitu aja.
"Jika hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka kamu termasuk orang yang beruntung. Jika hari ini sama dengan hari kemarin, maka kamu adalah orang yang sia-sia. Dan jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka kamu adalah golongan orang yang merugi."
 Kata temen saya:
"Hidup itu kaya hubungan suami-istri, kadang dibawah kadang diatas."
"Hidup itu kaya diperkosa, kalo nggak bisa ngelawan yaudah nikmatin aja."
Jadi, apa sih sebenernya definisi hidup itu?

Saturday, March 31, 2012

BBM nggak jadi naik, tapi kebutuhan udah terlanjur meroket

Sekarang yang jadi masalah, gimana caranya menurunkan beberapa harga kebutuhan&sembako yang udah terlanjur merangkak naik harganya? Padahal kenaikan BBM aja akan ditunda. Haduh ini memang membingungkan. Lagi pula kalo BBM nggak naik pas 'masa' SBY, juga bakal naik pas kepemerintahan presiden selanjutnya.


Oiya ini aku ambil dari detik.com, demo penolakan BBM di yogyakarta (kota tercinta ane). Gilaaaa dari siang udah macet, arus aja nyampe dialihkan, dan demonya nyampe malem.






Earth hour di Indonesia, peduli atau ikut-ikutan?

dikutip langsung dari kaskus, username: potechi (kaskus addict).


Saya mendukung Earth Hour & penghematan energi.
Saya juga mencintai bumi.

Tetapi terus terang saya msh ngga ngerti tentang Earth Hour di Indonesia.
1. Di website Earh Hour WWF Indonesia & halaman pertama thread Official Earth Hour ditulis:
Quote:Original Posted By EarthHourID ►
Sementara, pembangkit listrik mayoritas berbahan bakar fosil (minyak bumi, batu bara, dan gas alam)

Tapi setau saya & menurut wikipedia mayoritas pembangkit listrik di Indonesia adalah PLTA yg tidak menggunakan bahan bakar sehingga seharusnya tidak mengeluarkan emisi CO2. Berbeda dengan di Amerika yg mayoritas menggunakan pembangkit listrik tenaga batubara yg menghasilkan CO2.

2. Pada saat Earth Hour, orang2 malah menyalakan lilin, obor atau membuat perapian yg jelas2 menghasilkan CO2.

Jadi untuk di Indonesia menurut saya Earth Hour justru meningkatkan CO2 karena listrik yg mula2 tidak menghasilkan CO2 diganti dengan lilin/obor/perapian yg menghasilkan CO2.

Informasi dari pihak wwf juga kurang tepat & membuat orang2 seperti saya merasa tertipu, sehingga mungkin saja ada yg malas untuk mendukung Earth Hour.

Pesan saya ayo dukung Earth Hour dengan mematikan peralatan elektronik yg tidak perlu & tidak menyalakan api pada saat Earth Hour.