Riuh gema
takbir memenuhi setiap inchi di semesta kepala. Gemercik kembang api dan
lantunan ayat Tuhan berputar-putar di sudut kota. Yogyakarta seolah sedang merayakan
malam kemenangan, malam penuh kebahagiaan. Anak-anak sibuk bermain petasan,
yang muda sibuk mengitari jalanan, dan orang dewasa sibuk menyiapkan makanan.
Semua tumpah ruah dalam setiap depa jalan perkampungan.
Inilah kotaku.
Kota yang selalu hangat menyapa setiap kepulangan anak-anaknya. Menyapa para perantau
yang selalu disibukkan dengan ambisi dan cita-cita. Menyapa para
kapitalis yang kerap kali menjadi penjilat di luaran sana. Menyapa
para intelek yang terkadang lupa dengan kerja keras bapak ibunya di rumah. Tapi
Yogyakarta tidak pernah tamat berkhianat. Yogyakarta tidak pernah lupa ataupun
ingkar janji. Yogyakarta selalu menjadi rumah untuk setiap kepulangan dan
kepergian. Nyaman untuk ditinggali. Ya, inilah kota yang turut mendewasakanku
sejak 19 tahun silam.
Kota ini
banyak mengajarkan hal-hal yang sama sekali tidak saya temui di bangku
sekolahan. Sewaktu kecil dulu, saya pernah jatuh dari sepeda, tetapi Yogyakarta
mengajarkan saya bahwa setiap luka tidak harus berakhir dengan air mata. Sewaktu
saya menginjak remaja, saya pernah jatuh cinta lalu luka sejadi-jadinya, tetapi
Yogyakarta menawarkan peluk dan mengusap semua sedih saya. Sewaktu saya semakin
dewasa, saya harus bercerai dengan rumah dan meninggalkan ayah ibu, setelah
sebegitu nyaman dengan segala yang ada. Kali ini, Yogyakarta mengajarkan kepada
saya bahwa kemana pun saya pergi, kota inilah yang selalu menjadi rumah,
menidurkan lelah, dan mencurahkan segala keluh kesah. Sampai kapan pun.
Hari ini
saya pulang, Yah. Hari ini saya pulang, Bu. Setelah hampir seluruh sahur dan
buka saya berulang setiap hari tanpa keluarga. Saya pulang, Yah. Saya pulang,
Bu. Untuk melantunkan takbir, merayakan malam kemenangan bersama-sama. Berbagi
cerita dan tertawa bahagia. Melupakan duka dan segala nestapa. Memeluk erat
setiap cinta Ibu dan kasih Ayah yang tidak pernah lelah untuk bekerja. Pagi,
malam, hingga pagi lagi. Maafkan saya, Yah. Maafkan saya, Bu. Selama ini saya hanya bisa
merengek, meminta, dan membuat kecewa. Saya tidak akan berjanji untuk menjadi
bla bla bla. Tetapi satu hal, semoga Ayah dan Ibu tetap panjang umur dan selalu
dilimpahi bahagia sampai saya bisa pulang membawa apa yang bisa saya
persembahkan kelak.
Hari ini,
kebahagiaan mendekap satu sama lain. Dalam riuh gema semesta takbir. Selamat
hari Raya Idul Fitri. Selamat menikmati waktu sebahagia-bahagianya bersama
keluarga.
Dalam dekap
kota Yogyakarta,
Ditulis dengan
sadar pada 1 Syawal 1437 H.
No comments:
Post a Comment