Pernahkah kamu mulai merasa bosan dengan rutinitas? Pasti pernah, entah sekali atau berulang kali. Terkadang kamu ingin melakukan hal gila, tetapi hal itu malah membuatmu semakin gila. Bukan gila, tetapi frustasi lebih tepatnya.
Pernahkah kamu mulai merasa bosan dengan keadaan sekitar? Pasti pernah, atau suatu saat nanti kamu pasti akan mengalaminya. Bosan dengan keramaian. Bosan berkumpul, bercanda, dan tertawa bersama-sama. Bosan dengan apapun yang biasa kamu lakukan.
Bosan ini lebih sopan disebut jenuh, bukan? Seringkali kamu menenggelamkan diri pada kesibukan agar dapat mengabaikan perasaan jenuh tersebut. Tetapi semakin kamu menyibukkan diri, semakin kamu bingung harus melakukan apa. Semakin tidak fokus dengan segala hal. Dan suatu ketika nanti, dirimu akan ada pada titik terjenuh. Terdiam stagnan, diam dan menyendiri dalam sepi. Merenung, berfikir dan hasilnya nihil.
Showing posts with label random. Show all posts
Showing posts with label random. Show all posts
Friday, November 22, 2013
Monday, September 23, 2013
Secangkir Teh dan Sepotong Soes
Hai. Selamat sore.
Sebelumnya aku hendak meminta maaf karena aku tiba-tiba menghilang, bak pergi tanpa kabar. Too much things happened, tetapi aku tidak tahu harus memulainya dari mana, tidak tahu harus merangkainya seperti apa, tidak tahu, dan serba tidak tahu.
Ini sore yang indah, bukan? Kurasa seperti itu. Saat ini aku sedang duduk di tengah hiruk pikuk dalam sebuah ruangan berukuran 12x8 meter. Ruangan ini berada di lantai 3 dengan banyak jendela tertata. Angin semilir berhembus mengelus-elus pipi kecilku. Sembari menunggu matahari terbenam, ditemani secangkir teh dan sepotong kue soes, aku menuliskan naskah ini. Bukan, bukan naskah, tetapi hanya secarik kata tanpa makna lebih tepatnya. Ah, siapa peduli? Lagipula aku bukanlah seorang pujangga yang pandai merangkai kata menjadi drama yang sempurna. Aku hanyalah anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Yang seringkali terbodohi. Yang seringkali merengek meminta balon. Yang seringkali hujan air mata saat jatuh dan terluka. Yang seringkali manja saat kedinginan. Yang seringkali berpura-pura menangis agar mendapatkan mainan baru. Yang seringkali tertawa saat ada yang lucu. Yang seringkali bandel saat disuruh mandi. Yang seringkali berlagak kesakitan agar mendapat perhatian. Ya, sewajarnya anak kecil pada umumnya.
Oiya, sepertinya sudah terlalu banyak basa-basi hingga aku lupa menanyakan kabarmu. Jadi, bagaimana kabarmu? Baik-baik saja, bukan? Aku harap seperti itu. Selalu dan selalu baik-baik saja. Air mata bukanlah milik mereka yang lemah. Tetapi air mata adalah milik mereka yang sudah terlalu lama kuat. Air mata adalah milik mereka yang peduli dan berhati lembut. Tetap jadi yang terkuat dari yang terkuat. Walaupun di sini selalu tersedia pundak, tetapi aku tidak mau melihat kamu butuh pundak.
Sincerely,
A. Always here.
Sebelumnya aku hendak meminta maaf karena aku tiba-tiba menghilang, bak pergi tanpa kabar. Too much things happened, tetapi aku tidak tahu harus memulainya dari mana, tidak tahu harus merangkainya seperti apa, tidak tahu, dan serba tidak tahu.
Ini sore yang indah, bukan? Kurasa seperti itu. Saat ini aku sedang duduk di tengah hiruk pikuk dalam sebuah ruangan berukuran 12x8 meter. Ruangan ini berada di lantai 3 dengan banyak jendela tertata. Angin semilir berhembus mengelus-elus pipi kecilku. Sembari menunggu matahari terbenam, ditemani secangkir teh dan sepotong kue soes, aku menuliskan naskah ini. Bukan, bukan naskah, tetapi hanya secarik kata tanpa makna lebih tepatnya. Ah, siapa peduli? Lagipula aku bukanlah seorang pujangga yang pandai merangkai kata menjadi drama yang sempurna. Aku hanyalah anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Yang seringkali terbodohi. Yang seringkali merengek meminta balon. Yang seringkali hujan air mata saat jatuh dan terluka. Yang seringkali manja saat kedinginan. Yang seringkali berpura-pura menangis agar mendapatkan mainan baru. Yang seringkali tertawa saat ada yang lucu. Yang seringkali bandel saat disuruh mandi. Yang seringkali berlagak kesakitan agar mendapat perhatian. Ya, sewajarnya anak kecil pada umumnya.
Oiya, sepertinya sudah terlalu banyak basa-basi hingga aku lupa menanyakan kabarmu. Jadi, bagaimana kabarmu? Baik-baik saja, bukan? Aku harap seperti itu. Selalu dan selalu baik-baik saja. Air mata bukanlah milik mereka yang lemah. Tetapi air mata adalah milik mereka yang sudah terlalu lama kuat. Air mata adalah milik mereka yang peduli dan berhati lembut. Tetap jadi yang terkuat dari yang terkuat. Walaupun di sini selalu tersedia pundak, tetapi aku tidak mau melihat kamu butuh pundak.
Sincerely,
A. Always here.
Sunday, July 28, 2013
Kamu Hebat, Ya?
Surat ini kubuat dalam waktu yang sangat singkat pagi ini. Aku tidak berpikir panjang dalam merangkai bait-bait kalimat ini. Atau lebih tepatnya, mungkin aku sedang tidak bisa berpikir secara normal. Mungkin saja pikiranku sedang penuh dengan sampah-sampah masa lalu.
Sesungguhnya tadi malam aku berniat menghabiskan waktuku untuk menulis surat sambil ditemani bercangkir-cangkir kopi dan dan beberapa syair lagu. Entah kecapaian atau akunya yang sedang tidak enak badan, tetapi aku malah ketiduran dan membiarkan laptopku menyala hingga dini hari. Jadi aku baru sempat menulisnya sekarang.
Oiya, aku belum menyapa dan mengucapkan selamat pagi. Jadi langsung saja. Hai. Selamat pagi. Selanjutnya, apa aku perlu menanyakan kabarmu? Kabarmu pasti baik-baik saja, bukan? Mungkin sekarang kamu sedang duduk di balkon sambil menyeduh secangkir coklat dan ditemani beberapa batang rokok. Atau mungkin kamu sedang bermain games dengan senang dan gembira. Atau mungkin kamu sudah tersenyum lagi bersama perempuan lain. Atau mungkin kamu sedang tidur nyenyak dan merangkai mimpimu sendiri. Atau mungkin, mungkin kamu sedang tertawa terbahak-bahak karena memenangkan drama ini. Aku tidak akan mengganggu kebahagianmu lagi.
Aku? Aku baik-baik saja. Aku sudah bisa berdiri sendiri. Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkanku lagi.
Semua kalimatku di sini memang tidak sistematis. Aku tidak tahu harus memulainya dari mana. Ini terlalu rumit dan diluar nalarku sendiri. Kamu bilang aku berubah, lantas apa kamu juga tidak berpikir kalo kamu berubah? Semakin hari kamu semakin aneh. Semakin hari kamu semakin tidak bisa dinalar. Semakin hari aku semakin tidak mengerti jalan pikiranmu. Untuk apa bertahan kalau sudah tidak ada kepercayaan lagi di antara kita? Cuma sama-sama menyakiti. Cuma saling mengukir luka. Memang tidak ada perpisahan yang baik-baik saja. Pasti ada yang terluka, entah salah satu atau justru keduanya. Aku tidak mau pada akhirnya cinta adalah kita yang saling benci.
"Beberapa perpisahan memang harus ada, karena bertahan tak selalu berarti bahagia." -Mentari
Surat terakhir yang kamu kirim melalui email membuatku tidak bisa berkata-kata. Aku terdiam dalam waktu yang sangat lama hingga akhirnya air mata memecah kesunyian yang ada dalam tubuhku. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya ada di pikiranmu. Aku tidak habis pikir kenapa kamu tega melakukannya. Dan kamu melibatkan banyak sekali orang-orang di dalamnya, bukan cuma aku semata. Tetapi terimakasih, setidaknya aku sudah menjadi pemeran utama dalam ceritamu. Secara tidak langsung aku sudah menjadi actress tanpa bayaran.
Apa kamu tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya menjadi aku? Aku ini terlalu rapuh. Kenapa kamu tidak memilih seseorang yang lebih kuat agar bisa kau jadikan pemeran dalam sandiwaramu itu? Hahahahahahaha. I'm a loser baby, so why don't you kill me? Bunuh saja daripada tersiksa lama-lama.
Oiya, aku hampir saja lupa. Terimakasih juga atas segala-galanya. Mungkin saja sayangmu hanya mainan, rindumu hanya candaan, perhatianmu hanya gurauan. Karena semuanya sudah tersusun rapih sejak awal. Tons of applause for you. Aku berikan penghargaan tertinggi untukmu. Kamu. Hebat. Tapi. Jahat.
Kamu itu manusia pengukir luka, ya? Good.
Untuk,
Manusia.
Dari,
Manusia.
Tuesday, June 25, 2013
Maaf
Bahkan untuk sekedar mengucap selamat pagi saja lidahku terasa kaku. Butuh beberapa menit untuk berfikir, dan pada akhirnya aku mengirimimu sebuah ucapan selamat pagi sederhana tanpa emoticon apapun.
Hai, aku bingung harus memulainya dari mana.
Aku tahu aku bersalah.
Aku minta maaf.
Aku tidak tahu bagaimana harus meminta maaf dengan baik dan benar.
Berulang kali aku melakukan kesalahan.
Berulang kali aku membuat sakit hati.
Berulang kali aku membuat cemburu.
Berulang kali aku membuat keadaan semakin hancur.
Berulang kali kamu memaafkan.
Berulang kali kamu sabar dengan kelakuanku.
Berulang kali kamu memaklumi kelabilanku.
Berulang kali aku melakukan kesalahan yang sama.
Selalu sama.
Ya, mungkin kamu sudah tidak tahan lagi dengan semua ini.
Aku bingung.
Aku tidak tahu harus berbuat apa.
Maaf.
Hai, aku bingung harus memulainya dari mana.
Aku tahu aku bersalah.
Aku minta maaf.
Aku tidak tahu bagaimana harus meminta maaf dengan baik dan benar.
Berulang kali aku melakukan kesalahan.
Berulang kali aku membuat sakit hati.
Berulang kali aku membuat cemburu.
Berulang kali aku membuat keadaan semakin hancur.
Berulang kali kamu memaafkan.
Berulang kali kamu sabar dengan kelakuanku.
Berulang kali kamu memaklumi kelabilanku.
Berulang kali aku melakukan kesalahan yang sama.
Selalu sama.
Ya, mungkin kamu sudah tidak tahan lagi dengan semua ini.
Aku bingung.
Aku tidak tahu harus berbuat apa.
Maaf.
Thursday, June 20, 2013
Rindu Tak Bertuan
Hujan itu romantis. Hujan selalu punya ceritanya sendiri; penuh misteri dan teka-teki. Hujan bisa membuatmu jatuh cinta, tetapi hujan juga bisa membuatmu galau setengah mati. Hujan itu seperti mesin waktu, membawa ingatanmu menuju kenangan masa lalu.
"Aku suka aroma petrichor."
"Kenapa?"
"Tidak tahu. Aku merasa tenang setiap kali aku mencium aromanya."
Ya, aroma petrichor adalah aroma yang dikeluarkan oleh tanah ketika hujan telah berhenti menetes. Sangat menenangkan. Sangat membuat nyaman. Hingga terlena dan membiarkan pikiranmu terobrak-abrik oleh kenangan masa lalu.
"Kenangan tidak punya nyawa, kecuali orang yang punya kenangan itu membangkitkannya kembali." -diazmora
Tapi kenyataannya, tanpa dibangkitkan kembali, kenangan itu selalu hadir secara tiba-tiba dan tidak terduga. Tanpa aku minta pun, kenangan itu selalu memenuhi pikiran setiap kali hal yang bersangkutan dengannya terlintas di hadapanku. Setiap tanggal, setiap tempat, dan setiap suasana memiliki kisahnya sendiri. Kisah yang tidak akan pernah hilang, kisah yang tidak akan pernah lekang. Kisah yang suatu saat akan kembali lagi dan mengobrak-abrik hidupmu untuk yang kesekian kalinya. Setiap kali kenangan tersebut datang membayang, siapa yang akan bertanggung jawab atas perasaan rindu yang mengikuti ini? Rindu ini memang tak bertuan, sayang.
Sebagian orang menganggap, cara melupakan masa lalu adalah dengan jatuh cinta lagi. Tetapi itu salah, buat apa jatuh cinta hanya karena kamu butuh pundak sebagai pelarian dari masa lalumu? Bukankah sebuah perasaan harusnya hadir tanpa paksaan? Bukankah sebuah cinta harusnya utuh dan bukan setengah-setengah? Harusnya, ya memang harusnya.
Wednesday, June 5, 2013
Surat Rindu
Sebelumnya aku hendak minta maaf karena surat ini datang terlambat karena aku tidak sempat memindahkannya di blog.
Hai apa kabar? Semoga Tuhan mendengar doaku agar selalu menjagamu. Aku? Aku masih seperti biasanya, Duduk di balkon atas sambil melamunkanmu. Membiarkan kopiku dingin tersapu oleh angin. Bersimfoni dengan lagu-lagu yang terputar melalu ponselku. Syahdu.
Surat ini tertuju kepadamu. Kepada yang setiap malam selalu aku rindu. Kepada obrolan-obrolan kecil tentang masa depan. Kepada kenangan-kenangan yang tidak pantas untuk dilupakan. Kepada ketakutan ketika bayang-bayang perpisahan datang mendekat.
Malam minggu ini, hujan turun pelan-pelan di Jogjakarta. Rintiknya begitu menenangkan. Frekuensinya teratur. Tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Semilir anginnya berbaur dengan ritme nafasku. Hujan adalah salah satu acara Tuhan yang aku suka. Dan merindukanmu adalah caraku menghabiskan waktu agar tidak sia-sia ketika rintiknya membasahi bumi. Sambil menitipkan rindu lewat uap kopi yang masih mengepul. Lewat musik yang melebur dalam nadi. Lewat lamunku yang tidak jelas arahnya.
Aku pencemburu waktu. Rinduku menggebu-gebu. Cemasku membelenggu. Tiada yang bisa aku lakukan selain mendoakanmu. Semoga kamu selalu baik-baik saja.
Tiba-tiba terbesit dipikiranku. Bagaimana jika ini merupakan hujan terakhir di Bulan Mei? Bagaimana jika hal yang aku suka tiba-tiba menghilang dan tidak pernah kembali? Bagaimana jika sayangmu berpindah ke lain hati? Bagaimana jika yang selalu aku rindu tak pernah hadir lagi?
Hujan mengajarkanku banyak hal. Mengajarkanku untuk selalu bersyukur. Mengajarkanku untuk tidak menyia-nyiakan segala sesuatu yang telah ada. Mengajarkanku untuk tidak berimajinasi terlalu tinggi. Dan mengajarkanku bagaimana menikmati rindu dengan baik.
Hampir pukul dua belas malam dan mataku belum bisa memejam. Akhirnya aku putuskan untuk mengambil ponselku dan mengirimkan sebuah pesan singkat kepadamu.
"Aku nggak bisa tidur. Aku suka dengerin rintik hujan yang kecil-kecil."
Seketika juga hujan berhenti. Aku menikmati hingga rintik terakhir. Sampai tidak tersisa lagi. Hingga yang ada hanya sunyi.
Hai apa kabar? Semoga Tuhan mendengar doaku agar selalu menjagamu. Aku? Aku masih seperti biasanya, Duduk di balkon atas sambil melamunkanmu. Membiarkan kopiku dingin tersapu oleh angin. Bersimfoni dengan lagu-lagu yang terputar melalu ponselku. Syahdu.
Surat ini tertuju kepadamu. Kepada yang setiap malam selalu aku rindu. Kepada obrolan-obrolan kecil tentang masa depan. Kepada kenangan-kenangan yang tidak pantas untuk dilupakan. Kepada ketakutan ketika bayang-bayang perpisahan datang mendekat.
Malam minggu ini, hujan turun pelan-pelan di Jogjakarta. Rintiknya begitu menenangkan. Frekuensinya teratur. Tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Semilir anginnya berbaur dengan ritme nafasku. Hujan adalah salah satu acara Tuhan yang aku suka. Dan merindukanmu adalah caraku menghabiskan waktu agar tidak sia-sia ketika rintiknya membasahi bumi. Sambil menitipkan rindu lewat uap kopi yang masih mengepul. Lewat musik yang melebur dalam nadi. Lewat lamunku yang tidak jelas arahnya.
Aku pencemburu waktu. Rinduku menggebu-gebu. Cemasku membelenggu. Tiada yang bisa aku lakukan selain mendoakanmu. Semoga kamu selalu baik-baik saja.
Tiba-tiba terbesit dipikiranku. Bagaimana jika ini merupakan hujan terakhir di Bulan Mei? Bagaimana jika hal yang aku suka tiba-tiba menghilang dan tidak pernah kembali? Bagaimana jika sayangmu berpindah ke lain hati? Bagaimana jika yang selalu aku rindu tak pernah hadir lagi?
Hujan mengajarkanku banyak hal. Mengajarkanku untuk selalu bersyukur. Mengajarkanku untuk tidak menyia-nyiakan segala sesuatu yang telah ada. Mengajarkanku untuk tidak berimajinasi terlalu tinggi. Dan mengajarkanku bagaimana menikmati rindu dengan baik.
Hampir pukul dua belas malam dan mataku belum bisa memejam. Akhirnya aku putuskan untuk mengambil ponselku dan mengirimkan sebuah pesan singkat kepadamu.
"Aku nggak bisa tidur. Aku suka dengerin rintik hujan yang kecil-kecil."
Seketika juga hujan berhenti. Aku menikmati hingga rintik terakhir. Sampai tidak tersisa lagi. Hingga yang ada hanya sunyi.
25 Mei 2013
Teruntuk,
Yang selalu aku rindu. Selalu.
Monday, June 3, 2013
(Bukan) Duka
Aku pusing, jadinya hari ini aku memilih untuk cepat-cepat pulang. Ditemani segelas air dan Bersama Bintang milik Drive, aku menulis surat ini. Pikiranku sedang tidak waras. Emosiku sedang tidak terkontrol. Air mata terjatuh begitu saja, tidak tahu mengapa.
Memendam perasaaan. Mencintai diam-diam. Adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Harus bersikap biasa saja setiap kali bertemu dengannya. Harus bertingkah seolah-olah dia hanya sekedar teman biasa, tidak ada yang spesial dan tidak ada perasaan lebih. Hanya sekedar teman yang kerap menghabiskan waktu setiap pulang sekolah. Setiap tatapan kita bertemu, aku hanya tersenyum. Dan seringkali aku mengartikannya lebih.
323 hari telah berlalu. Perasaanku terhadapmu selalu sama setiap harinya. Sudah hampir setahun semenjak pertama kali kita bertemu di bangku SMA. Ketika banyak laki-laki lain singgah, hal itu tetap tidak merubah perasaanku terhadapmu. Masih sama. Selalu sama. Aku seperti orang gila. Aku menjadi budak waktu, menunggumu menganggapku ada. Bodoh memang jika aku menyayangi yang tidak ada, mengangankan yang tidak nyata, dan merindukan yang hanya maya. Sedangkan aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaanmu selama ini. Mungkin aku saja yang berekspektasi terlalu tinggi dan berimajinasi terlalu jauh.
Semuanya masih sama, hingga pada akhirnya ada sosok lain lagi datang dalam hidupku. Awalnya biasa saja. Dan aku masih sangat menyayangimu. Tetapi lama-kelamaan aku seperti menyayangi angin. Tidak jelas wujudnya. Abstrak. Tidak konkrit. Aku sebisa mungkin berusaha melepasmu, menetralkan segala perasaanku terhadapmu, membuat premis bahwa kita hanya sekedar teman. Tidak lebih.
Keputusanku untuk melepaskanmu sudah bulat. Merelakan adalah pilihan. Mengikhlaskan adalah jalan. Hati kecilku masih tetap menyayangimu, tetapi cinta harus memilih satu, bukan dua. Ini hanya perkara waktu. Bukannya tragis melepaskan yang sama-sama menaruh perasaan? :')
"Ada banyak cara Tuhan menghadirkan cinta.
Mungkin engkau adalah salah satunya.
Namun engkau datang di saat yang tidak tepat.
Cintaku tlah dimiliki."
Kini setiap kali aku menatapmu, aku hanya bisa meminta maaf dan mencoba tersenyum, tetapi kerap kali yang ada hanya air mata. Teringat segalanya, bahkan ketika bibirmu mengucapkan sebait lagu milik Drive.
"Tidurlah, selamat malam, lupakan saja aku."
Maaf untuk cinta yang tak tersampaikan, untuk drama yang tersampahkan, untuk rindu yang tidak terselesaikan. Semoga kamu sempat untuk membaca surat ini. Semoga Tuhan mempertemukan kita lagi di masa depan.
"Perpisahan bukanlah duka, meski harus menyisakan luka."
Btw, aku ikut senang dengan hobi barumu. Selamat sore.
"Perpisahan bukanlah duka, meski harus menyisakan luka."
Btw, aku ikut senang dengan hobi barumu. Selamat sore.
Teruntuk,
A.
Thursday, May 9, 2013
Ketika Sudah Terlambat
Kamu mempunyai seseorang, tetapi ketika kamu menyadari akan hadirnya sosok tersebut, dia malah sudah lebih dulu pergi. Dia pergi sebelum kamu sempat mengatakan bahwa kamu memiliki perasaan lebih dari sekedar teman. Perasaan yang tidak terdefinisikan. Perasaan nyaman ketika kamu berada di sampingnya. Perasaan rindu ketika kamu jauh darinya. Perasaan ingin selalu bersamanya, berada di dekatnya, menghabiskan waktu, dan tertawa bahagia bersama. Perasaan yang kamu pendam sejak jauh-jauh hari, yang selalu kamu tutupi agar semuanya tetap berjalan seperti biasa dan baik-baik saja. Perasaan sayang yang teramat sangat, tepatnya.
Kamu tidak mau kehilangannya. Tidak mau kehilangan sosoknya yang selalu membuatmu merasa aman dan nyaman. Sosoknya yang lebih dari sekedar ada. Sosoknya yang mengerti kamu segalanya. Sosoknya yang sempurna, dimatamu. Tetapi semuanya sudah terlambat. Dia sudah lebih dulu pergi. Jauh.
Deras hujan matamu tidak membuat keadaan berbalik. Yang sudah terlambat ya sudah, biarkan saja.
Monday, May 6, 2013
Suatu Saat
Semesta mempertemukan kita, tanpa rencana, tanpa kuduga, tanpa aku minta. Kita saling membagi cerita, mengumbar tawa, canda, airmata, dan cinta. Aku tidak tahu apa-apa, tiba-tiba aku merasa nyaman. Nyaman ketika berada di dekatmu. Perhatianmu yang selalu tersedia, ragamu yang selalu ada membuatku terlena. Tidak pernah berfikir bahwa suatu saat kamu akan pergi. Pergi entah ke mana. Karena perpisahan pasti ada, dan entah kapan akan terlaksana. Aku dan kamu sama-sama tidak tahu dan tidak akan pernah tahu. Mungkin setelah ini, besok, atau besoknya. Rasa nyaman yang terus berkembang membuatku tidak pernah siap akan kepergianmu. Tidak pernah siap akan canda tawa yang harus aku nikmati sendirian, tanpa hadirmu. Tidak pernah siap akan air mata yang harus aku hujankan sendirian, tanpa hadirmu. Tidak pernah siap akan berputarnya hariku, tanpa hadirmu. Tidak pernah siap akan senjaku, tanpa hadirmu. Tidak pernah.
Tetapi, siap atau tidak, melepas dan mengikhlas adalah jalan satu-satunya suatu saat nanti. Egoku terlalu tinggi kalau terus memaksamu untuk berada di sisiku. Tuhan saja tidak pernah memaksa siapapun untuk menyembahnya, lantas apa hakku memaksamu untuk tetap tinggal? Tidak ada. Untuk cerita cinta yang telah kita bina sekian lamanya, aku tidak ingin semuanya menjadi sia-sia. Selamat kembali pada duniamu yang sempurna, dan jangan pernah melupakan segalanya.
Karena "suatu saat, mencintai adalah memutar hari tanpa seseorang yang engkau sayangi. Sebab, dengan atau tanpa seseorang yang yang engkau kasihi, hidup tetap harus dijalani." -Tasaro GK.
Saturday, April 13, 2013
Ada
Ada yang memperhatikanmu diam-diam.
Ada yang mencuri-curi pandangan.
Ada yang mengintip-intip bayangan.
Ada yang menerka-nerka apa yang terjadi.
Ada yang menangis ketika kamu tersenyum.
Ada yang terluka ketika kamu bahagia.
Ada yang kaku kalo papasan sama seseorang.
Ada yang salting dan memilih menghindar kalo ketemu orangnya.
Ada yang sembunyi-sembunyi menatap matanya.
Ada yang saling memendam rasa tapi tak saling berusaha.
Ada yang saling bertatap tapi tak saling bicara.
Ada yang suka berandai-andai dan berangan-angan terlalu jauh.
Ada yang nggak fokus dan selalu hilang arah.
Ada yang stagnan di satu titik, dan nggak bisa menentukan harus maju atau berbalik mundur.
Ada yang mudah terbawa suasana.
Ada yang terlalu berharap pada keadaan.
Ada yang tidak tahu harus berbuat apa.
Ada.
Ada yang mencuri-curi pandangan.
Ada yang mengintip-intip bayangan.
Ada yang menerka-nerka apa yang terjadi.
Ada yang menangis ketika kamu tersenyum.
Ada yang terluka ketika kamu bahagia.
Ada yang kaku kalo papasan sama seseorang.
Ada yang salting dan memilih menghindar kalo ketemu orangnya.
Ada yang sembunyi-sembunyi menatap matanya.
Ada yang saling memendam rasa tapi tak saling berusaha.
Ada yang saling bertatap tapi tak saling bicara.
Ada yang suka berandai-andai dan berangan-angan terlalu jauh.
Ada yang nggak fokus dan selalu hilang arah.
Ada yang stagnan di satu titik, dan nggak bisa menentukan harus maju atau berbalik mundur.
Ada yang mudah terbawa suasana.
Ada yang terlalu berharap pada keadaan.
Ada yang tidak tahu harus berbuat apa.
Ada.
Tuesday, April 9, 2013
Tatapan Tanpa Nama
"Karena...bumi seakan-akan berhenti berotasi ketika tatapan kita saling mengunci."
Aku tidak sengaja melirik ke arahmu; 2 meter tepat di hadapanku. Aku duduk bersila, di tengah kerumunan belasan orang yang sedang membicarakan sesuatu. Kamu duduk-bersandar pada tiang di selasar ruangan-dengan peluh dan jenuh yang tergambar jelas di raut wajahmu. Seketika itu juga, aku mendapati matamu menatap ke arahku. Aku kebingungan. Mata sudah terlanjur terdampar dalam pupil matamu. Terkunci. Kaku. Dingin rasanya. Dingin sekali. Aku tidak bisa bergerak; walau hanya sekedar memutar bayangan dalam retinaku. Fokusku hanya tertuju pada dalam tatapanmu. Bahkan bibir tak mampu berucap, raga tak sanggup berkutik, dan senyum tak dapat terajut. Kami saling menatap-kosong-untuk waktu yang tidak hanya sepersekian detik. Bukan senyum yang tergambar di antara kedua cekung bibir, melainkan hanya sepotong rakitan kebisuan. Tanpa nama.
Aku hanya ingin tahu, apa yang sebenarnya ada di pikiranmu. Apa yang sebenarnya terkunci bisu di ujung mulutmu. Apa yang sebenarnya ingin kau katakan padaku. Beritahu aku, apa arti tatapan tanpa nama itu. Karena aku tidak ingin berfikir tentang hal-hal yang tinggi. Karena aku tidak ingin berandai-andai terlalu jauh. Karena aku tidak ingin menebak-nebak tentang kemungkinan terburuk yang ada.
Untuk waktu yang cukup lama, aku beranikan diriku untuk berkutik dan berusaha memecah keadaan.
"Kamu kenapa?"
Saturday, December 8, 2012
Random
Kalo dipikir, masuk SMA itu baru 6 bulan, tapi kok ya udah akrab banget ya? Asyik:))
Thursday, November 29, 2012
Hidup
Kadang-kadang aku kepikiran makna hidup yang sebeneranya. Hakikat hidup yang sesungguhnya itu apa? Apa iya, hidup itu cuma sekolah, belajar, cari kerjaan, menikah, punya anak, jadi tua trus mati?
Sekolah&belajar, itu tuntutan sih. Mau nggak mau ya harus mau. Kepaksa nggak kepaksa ya harus dipaksa. Capek nggak capek ya harus tetep sekolah. "Kalo nggak sekolah, mau jadi apa besok?" "Kalo nggak belajar, mau jadi apa besok?" Kalimat-kalimat tadi sesungguhnya udah sangat menyatu dengan kuping. Apa iya kesuksesan cuma ditentukan oleh faktor sekolah&belajar? Nyatanya ada kan sarjana tapi pengangguran? Banyak malah.
Cari kerjaan juga harus pake ijazah, formalitas sih sebenernya. Bukannya sekarang udah jaman modern? Bagus jeleknya nilai yang terpampang di ijazah juga bisa diatur, asal ada duit&kekuasaan.
Kalo menikah sih jodoh udah di tangan Tuhan, tapi masa iya kita cuma nungguin jodoh pemberian Tuhan datang dengan sendirinya? Jodoh sih emang di tangan Tuhan, tapi kita yang berusaha:)))
Masa iya siklus hidup cuma gitu-gitu aja? Bosen sama hari yang cuma muter-muter dari minggu ke minggu, dan gitu-gitu aja.
"Jika hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka kamu termasuk orang yang beruntung. Jika hari ini sama dengan hari kemarin, maka kamu adalah orang yang sia-sia. Dan jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka kamu adalah golongan orang yang merugi."
Kata temen saya:
"Hidup itu kaya hubungan suami-istri, kadang dibawah kadang diatas."
"Hidup itu kaya diperkosa, kalo nggak bisa ngelawan yaudah nikmatin aja."
Jadi, apa sih sebenernya definisi hidup itu?
Sekolah&belajar, itu tuntutan sih. Mau nggak mau ya harus mau. Kepaksa nggak kepaksa ya harus dipaksa. Capek nggak capek ya harus tetep sekolah. "Kalo nggak sekolah, mau jadi apa besok?" "Kalo nggak belajar, mau jadi apa besok?" Kalimat-kalimat tadi sesungguhnya udah sangat menyatu dengan kuping. Apa iya kesuksesan cuma ditentukan oleh faktor sekolah&belajar? Nyatanya ada kan sarjana tapi pengangguran? Banyak malah.
Cari kerjaan juga harus pake ijazah, formalitas sih sebenernya. Bukannya sekarang udah jaman modern? Bagus jeleknya nilai yang terpampang di ijazah juga bisa diatur, asal ada duit&kekuasaan.
Kalo menikah sih jodoh udah di tangan Tuhan, tapi masa iya kita cuma nungguin jodoh pemberian Tuhan datang dengan sendirinya? Jodoh sih emang di tangan Tuhan, tapi kita yang berusaha:)))
Masa iya siklus hidup cuma gitu-gitu aja? Bosen sama hari yang cuma muter-muter dari minggu ke minggu, dan gitu-gitu aja.
"Jika hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka kamu termasuk orang yang beruntung. Jika hari ini sama dengan hari kemarin, maka kamu adalah orang yang sia-sia. Dan jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka kamu adalah golongan orang yang merugi."
Kata temen saya:
"Hidup itu kaya hubungan suami-istri, kadang dibawah kadang diatas."
"Hidup itu kaya diperkosa, kalo nggak bisa ngelawan yaudah nikmatin aja."
Jadi, apa sih sebenernya definisi hidup itu?
Subscribe to:
Posts (Atom)