Showing posts with label surat. Show all posts
Showing posts with label surat. Show all posts

Saturday, May 27, 2017

Tidak Ada yang Sehangat Nasi Masakan Ibu Pukul Dua Pagi

Ini tahun kedua saya. Merayakan sahur di kota yang letaknya puluhan kilometer dari segala damai yang disebut rumah. Yang akan mengulang tiga puluh hari segala gempita adzan pertanda puasa harus segera dibuka. Siapa yang tidak bersedih jika harus jauh dari keluarga saat bulan Ramadhan tiba? Saya pikir tidak ada. Pun kalau ada, ia hanyalah berpura-pura untuk telihat baik-baik saja. Mungkin sering sekali kita mendengar slentingan-slentingan seperti; Ah udah besar ngapain sedih? Dibiasain dong biar mandiri. Ih banci banget cowok kok sedih. Cengeng dah lu dasar cewek.

Sebentar. Saya pikir, sedih itu adalah hak setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan. Tidak ada batasan dan takaran untuk keduanya. Tidak ada aturan bahwa kesedihan hanya milik perempuan dan kemarahan hanya milik laki-laki. Tidak ada aturan bahwa perasaan hanya milik perempuan dan logika hanya milik laki-laki. Tidak ada aturan bahwa air mata hanya milik perempuan dan teriakan hanya milik laki-laki. Kalau kau masih berfikir seperti itu, segeralah ambil air wudhu dan basuh segala kedangkalanmu.

Sedih itu ada karena kita merasa memiliki. Memiliki keluarga, menganggapnya sebagai rumah satu-satunya dimana kita bisa melepas segala penat dan tak perlu berpura-pura untuk menjadi kuat. Mandiri bukan berarti tidak boleh sedih ketika jauh dari orang tua. Tidak ada korelasi antar keduanya. Sebab mandiri dan tidak-boleh-sedih adalah dua hal yang terpisah. Jika kau merasa sedih ketika jauh dari rumah, berarti kau memang dibesarkan dari keluarga yang benar-benar hangat dan penuh kedamaian. Keluarga yang penuh kasih dan bertebar sayang ketika kau dekat. Keluarga yang berlimpah rasa percaya dan sejuta doa ketika kau jauh darinya.

Pertanyaannya adalah, wajarkah jika kita merasa sedih ketika adzan isya bergema di kota yang letaknya ribuan hasta dari lengan ibu? Lalu kita melangkahkan kaki ke masjid yang bukan masjid sebelah rumah. Mengangkat tangan dan mengamitkan niat untuk 11 atau 23 rakaat. Berdoa agar bangun pukul tiga sebab tidak ada jaminan untuk segala tidur-bangun-dan sahurmu esok hari. Wajarkah jika kita merasa sedih ketika adzan shubuh bersua di kota yang letaknya jutaan depa dari jemari ayah? Lalu kita terdiam dan menjauhkan piring dari warung ramesan. Piring yang berisi nasi dan lauk pauk yang kita ambil sesuka hati. Yang dibandrol 8ribu untuk nasi ayam dan 6ribu untuk nasi telor. Yang hangat tapi tidak pernah sehangat masakan ibu untuk sahur anak-anaknya.


Saya pikir semua terlihat baik-baik saja ketika jam tiga pagi kita berkelana mencari makan, tertawa bersama kawan, bercanda tanpa tujuan, dan menunggu waktu imsya di warung ramesan. Tanpa pernah berfikir sedang makan apa ayah dan ibu di rumah? Apakah mereka kesepian tanpa saya? Atau justru baik-baik saja? Di rumah, saya sering mengeluh karena kantuk yang menggelayuti ujung-ujung lakrima. Padahal ibu sudah bangun dari pukul dua pagi untuk menanak nasi dan merapal doa untuk sang Illahi. Tetapi saya sering bangun pukul empat ketika semua sudah tertata rapi. Terkadang saya suka mengeluh jika masakannya kurang asin, terlalu pedas, atau agak gosong. Padahal bu, tidak ada yang sehangat masakanmu di kota rantau ini. Yang dibalur kantuk dan sekantung ikhlas demi perut anak-anaknya. Yang tak pernah kecewa meski kita terlalu banyak meminta. Yang selalu ada dalam perputaran sahur dan buka meski tak puasa. Yang mendekap erat segala keluh lapar dan rasa dahaga.



Purwokerto, 27 Mei 2017.
Sekian kilometer dari Yogyakarta.

Friday, February 26, 2016

Pada Senyummu yang Kesembilanbelas

Pada senyummu yang ke-sembilan-belas, mana mungkin aku tidak jatuh, lalu mencintai. Mencintai kedua pelupuk yang menghamparkan langit bagi segala yang alpa. Ingin rasanya bersembunyi dan menggelayut manja di dalamnya. Bola mata yang damainya seluas jagat raya, Ah! Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta.

Denganmu, cinta tak perlu basa basi. Cinta bukanlah rutinitas ucapan salam pagi seperti petugas Indomaret. Cinta bukanlah melapor hendak kemana dan pulang jam berapa seperti satpam perumahan. Cinta bukanlah larangan bermain dengan siapa seperti kubu geng anak TK. Cinta bukanlah menyampah kotak masuk seperti mama minta pulsa. Tapi cinta kita memang sederhana, bukan? Tak perlu basa basi.

Tak perlu kiranya aku menghujani tulisan ini dengan seonggok doa. Sebab ini bukan sebait ayat pada lembar-lembar alkitab, begelimang doa dan harapan baik. Tetapi, bukan berarti aku tidak berdoa untuk kebaikanmu, tanpa kau minta pun pasti sudah kulakukan ritual itu setiap pagi. Kau tahu itu, sayang.

Pada senyummu yang ke-sembilan-belas, mana mungkin aku tidak jatuh, lalu mencintai. Mencintai yang hari ini sedang berulang tahun. Selamat menua, selamat berkarya. Semesta di pihakmu, selalu. Doaku, di detak nadimu, setiap waktu.

Aku mencintaimu, sayang. Sepanjang usia Tuhan.

Teruntuk,
Ahmad Zainal Abidin.

Thursday, July 16, 2015

Surat Yang Ditulis Dengan Sepenggal Maaf

Teruntuk:
Ayah dan Ibu

Saya menulis surat ini bukan tanpa alasan. Pertama, tanpa basa-basi, saya ingin meminta maaf. Meminta maaf atas segala kesedihan dan kekecewaan yang Ayah dan Ibu alami. Saya tahu, Ayah dan Ibu pasti sangat kecewa melihat putri kesayangannya-yang seharusnya bisa dibanggakan-gagal. Tidak hanya sekali, namun berulangkali. Saya gagal, Yah. Saya gagal, Bu. Berulangkali.

Mungkin saya memang payah, dengan mudahnya bisa berkata maaf, padahal saya tahu perasaan Ayah dan Ibu sekarang pasti sedang remuk seremuk-remuknya. Saya tahu perasaan Ayah dan Ibu sekarang pasti sedang hancur sehancur-hancurnya. Saya tahu, tetapi tidak ada yang bisa saya lakukan saat ini selain berkata maaf.

9 Mei 2015 pukul lima sore. Hujan lebat mengguyur Yogyakarta. Membuat seluruh badan saya basah kuyup. Saya nyaris menggigil di perjalanan. Kemudian, saya memilih berhenti di sebuah Kedai Kopi di pinggir jalan dan memesan secangkir coklat panas. Waktu itu tepat dengan pengumuman SNMPTN. Sebagian besar teman saya sudah saling memberi kabar; baik ataupun buruk. Saya segera membuka laptop, tetapi sinyal WiFi tidak begitu mendukung saya untuk membuka website SNMPTN. Saya keluar Kedai untuk mencari warnet, ternyata hanya 3 petak di sebelah kiri. Saya bergegas menuju warnet tersebut. Setelah membuka, hanya kotak berwarna merah yang saya dapati. Saya menangis kencang dan tidak bisa berhenti. Saya kembali ke Kedai masih dengan lingangan airmata di mana-mana. Saya sedih dan nyaris tidak mau pulang ke rumah. Entah apa yang akan saya katakan dengan kedua orangtua saya, saya tidak bisa berfikir saat itu, saya tahu pasti mereka sangat sedih mendengar kabar ini.

Saya tiba di rumah dan langsung mengurung diri di kamar. Hati saya hampir seluruhnya remuk saat itu. Saya begitu yakin lolos tetapi kenyataan berkata lain. Saya gagal.

Keadaan kembali normal. Hari-hari berjalan seperti biasa. Meski pagi nampak sendu dan malam selalu muram, tetapi saya yakin musim semi akan segera tiba. Saya yakin harapan akan selalu ada. Saya yakin.

Saya membuang segala keinginan untuk jalan-jalan, melupakan segala kesenangan, dan hanya berkutat pada buku. Saya jenuh? Tidak. Meski terkadang mengeluh, namun saya tidak sebenar-benarnya jenuh. Saya hanya merasa sedikit bosan karena tidak ada teman seperjuangan. Mungkin karena sebagian teman dekat saya sudah lolos jalur undangan, jadi hal tersebut sedikit memengaruhi psikologis saya.

Saya tidak kenal lelah untuk belajar, hingga saya sering mengabaikan kesehatan saya. Jarang tidur dan tidak pernah absen minum kopi. Saya membuat jadwal belajar saya sendiri, lengkap dengan jam dan target bab yang harus saya kuasai. Dari pagi hingga malam. Jam 6.30 saya sudah berada di bimbel, walau saya tahu jam segitu belum ada satupun tentor yang datang, tetapi saya semangat untuk datang lebih pagi, bersamaan dengan satpam atau cleaning service. Sepulang bimbel, terkadang saya bermain ke Perpustakaan Kota. Jika mengantuk, saya membuat secangkir kopi, entah siang atau malam. Sesampainya di rumah, saya kembali membuka buku hingga malam tiba. Saya selalu semangat. Selalu. Dan selalu yakin bahwa usaha saya ini tidak akan sia-sia. Yakin bahwa apa yang saya perjuangkan ini pasti akan berbuah manis. Apa yang saya tanam, pasti akan saya petik.

Genap sebulan saya memfosir tubuh saya. Alhamdulillah saya tidak jatuh sakit atau merasa depresi akibat terlalu banyak belajar. 9 Juni 2015 saya mengerjakan soal SBMPTN di Fakultas Kedokteran Hewan. Sendirian, tidak ada teman yang saya kenal saat itu. Tetapi bukan masalah, saya selalu optimis dan berjuang dengan maksimal.

Selang 5 hari, saya mengikuti Ujian Mandiri UGM. Lokasi ujian saya ada di Fakultas Kedokteran. Saya jatuh cinta seketika pada tempat ini. Selepas mengerjakan ujian, saya langsung sholat di Masjid Ibnu Sina. Berdoa, semoga saya bisa menjadi bagian dari tempat istimewa ini. Kedokteran adalah cinta pertama saya. Dan menjadi dokter adalah satu hal yang selalu saya impikan, sejak saya masih kecil.

Saya juga mendaftar SM UNS, karena seleksinya menggunakan nilai SBMPTN. Tidak perlu tes lagi, jadi tidak usah repot-repot sampai Solo.

Ramadhan tiba. Sebulan terasa begitu lama.

9 Juli 2015, bertepatan dengan buber angkatan. Beragam raut wajah yang saya jumpai saat itu. Ada yang panik, ada yang sudah menangis sebelum membuka hasilnya, ada yang parno, ada yang penasaran, ada yang santai-santai. Saya memutuskan untuk membuka hasilnya nanti sepulang buber, karena selain tidak ada koneksi, saya juga sedang sibuk wira-wiri.

Sesampainya di rumah, saya bertanya ke pada Ibu. Beliau menjawab tidak lolos. Saya bengong dan memilih untuk tidak membukanya sampai kapanpun. Saya tidak sanggup melihat kotak merah yang berisi tulisan tidak lolos serta permintaan maaf, untuk yang kedua kalinya. Saya menerima dengan lapang dada, toh masih ada SM UNS dan UM UGM. Saya menaruh sebesar-besar perasaan optimis saya pada dua seleksi tersebut, karena selain saya bisa mengerjakan, pilihan ketiga yang saya ambil sudah benar-benar aman.

Dua hari berlalu. Saya terbangun pada bilangan 13 bulan Juli dengan perasaan optimis. Segera menyalakan laptop, tetapi pengumumannya masih jam 11 malam nanti. Saya menunggu dengan gembira, tidak sabar menyaksikan betapa harunya saya nanti. Yang saya lakukan seharian hanya memandangi website SPMB UNS, walau saya tahu itu adalah hal bodoh.

Tepat pukul 11. Dysa, teman saya sudah bertanya tentang kabar UNS. Saya, Ibu, Ayah, dan Dysa sibuk membantu saya untuk masuk web karena server sedang down, saking banyaknya yang mengakses sepertinya. Akhirnya pukul 12 lebih Dysa berhasil masuk web, dia mengirimiku screen-capture yang berbunyi Alfu wa Ichda F tidak ada dalam daftar mahasiswa yang diterima di UNS melalui seleksi mandiri. Saya tidak percaya setengah mati. Saya mencoba masuk web dan membuktikan kebenarannya. Ternyata benar, Dysa tidak berbohong. Saya gagal. Untuk ketiga kali.

Dua hari berlalu. Hari ini 15 Juli adalah pengumuman untuk UM UGM. Ibu bilang beliau trauma membuka pengumuman tapi berulangkali kata gagal yang didapat. Tetapi saya tetap optimis karena saya bisa mengerjakan. Pukul 4 sore, Hanif, teman saya memberi kabar bahwa dia tidak lolos. Saya tidak goyah, saya tetap optimis karena saya tahu saya pantas mendapatkannya.

Takdir berkata lain. Saya gagal. Saya mengira bakal tersangkut di pilihan pertama ataupun kedua, tetapi kenyataannya di pilihan ketigapun tidak. Saya memberi tahu Ibu kabar menyedihkan ini. Ibu tidak percaya, kemudian menjadi tidak berdaya. Saya langsung lari ke kamar, tidak sanggup jika menyaksikan Ibu menangis untuk kesekian kalinya. Maaf, Bu. Saya juga mengabari Ayah melalu ponsel karena beliau sedang tidak di rumah. Ayah mengatakan tidak apa-apa, semoga diberi yang terbaik. Saya menangis membaca kalimat singkat tersebut. Maaf, Yah. Sekali lagi, maaf telah mengecewakan berulang kali.

Hati saya hampir remuk seluruhnya. Saya tidak bisa berfikir dan tidak tahu harus berbuat apa. Saya sedih. Sedih sebenar-benarnya sedih. Setiap bulir air yang jatuh dari mata saya menyisakan pedih yang teramat di dalam hati. Jika sedih ini adalah dosa, mungkin saya telah menjadi penghuni neraka.

No one knows about what actually I feel. Right now.

Saat itu juga, saya pergi ke rumah Guru Fisika saya, Pak Irwan, sambil membawakan parsel lebaran. Saya hendak mengucapkan terima kasih telah membimbing saya selama ini. Saya bercerita banyak tentang semua yang saya alami. Beliau tidak percaya. Tidak mungkin seorang Alfu tidak lolos. Sehari-hari kemampuannya bagus. Dia termasuk gadis pandai. Saya tidak pernah mendapati Alfu sedih, karena dia selalu tertawa setiap saat. Begitu katanya. Saya percaya bahwa saya pintar, bukannya sombong, tapi tidak mungkin seorang guru  sampai berbohong, saya tahu Pak Irwan selalu peduli dan mengamati murid-muridnya. And he really recharge my spirit when nobody can’t.

Saya bertanya apakah saya bodoh kepada teman-teman saya. Dan jawaban yang saya dapatkan selalu sama. Kamu itu pintar, Fu.

Semua saja berkata bahwa kamu itu pintar Fu, tapi kenyataannya yang tidak lebih pintar dari saya malah lolos. Semua saja berkata bahwa belum tentu aku bisa garap kaya kamu Fu, tapi kenyataannya kalian yang tidak bisa mengerjakan malah lolos.

Ibu, Ayah, saya hendak meminta maaf karena yang kalian banggakan sepenuh hati justru malah mengecewakan seenak hati. Maaf saya belum bisa menjadi apa yang kalian impikan.

Jika ditanya apakah saya sedih, iya memang saya sedih. Saya sedih, tetapi Ibu mencoba menghibur dengan mengatakan “sedihmu juga sedih kami”. Saya sedih, yang seharusnya bisa dibanggakan, pada kenyataannya hanya menanggalkan harapan. Saya sedih, impian Ayah dan Ibu yang begitu istimewa, malah saya tukar dengan air mata kecewa.

Saya telah gagal, tidak hanya sekali, namun berulang kali. Jika Ayah dan Ibu hendak kecewa, kecewalah. Saya ikhlas.



Gadismu,

Alfu.

Thursday, May 15, 2014

Pulanglah ke Rumah, Yas.

Aku sedang menerka-nerka apa yang sedang kau lakukan saat ini, pada malam kamis gerimis dan hujan pukul 11 yang membuatku memilih untuk menuliskan surat ini. Aku baru saja pulang selepas merayakan ulang tahun Hanif bersama 10 orang lainnya. Sebelumnya, bolehkah aku menyapamu dengan sepotong kalimat “Hai Mora. Apa kabar? Sedang apa disana? Aku harap kau baik-baik saja dan tetap bahagia.”?

Seperti hakikatnya, salam pembuka dalam surat memang penting adanya. Jadi,
Hai Mora. Apa kabar? Sedang apa disana? Aku harap kau baik-baik saja dan tetap bahagia.

Mungkin saat ini kau sedang duduk di balkon dan diam mengitung bintang, atau kau sedang berkhayal tentang masa depan yang sering kita bicarakan dulu, atau bisa jadi kau sedang bisu dan memilih mengenang yang lalu. Aku tidak tahu. Aku harap kau baik-baik saja.

Aku terharu dengan surat yang kau tuliskan untukku; yang baru sempat aku baca tadi malam. Aku mencoba untuk membalas suratmu, tetapi setiap kali aku berusaha merangkai, aku menghapusnya. Aku merasa kalimatku tidak memiliki estetika dan tata bahasa yang patut untuk kau baca. Aku memang bukan penulis dan kau tahu bahwa aku juga tidak suka membaca. Aku tidak bisa menjadi Tere Liye, Dee, Sendutu Maitulan, dan sederet penulis-penulis idolamu. Yang aku bisa hanyalah menjadi Alfu, teman kecilmu yang setia mendengar kesahmu.

Kau ingat? Kita pernah menghabiskan malam di balkon rumahku dan bercerita tentang entah. Kita pernah merangkai masa depan dan optimis memperjuangkan. Tetapi saat itu aku takut tentang tujuh belas yang datang lebih dini.
“Aku belum siap untuk menjadi dewasa.”
“Dewasa itu pilihan, umur itu hanyalah simbol, bukan patokan kedewasaan seseorang,” ujarmu.

Aku sadar, kita tidak bisa terus merangkak di saat semua sudah pergi berlari. Tentang tujuh belas yang pernah aku takutkan, memang tidak seharusnya seperti itu, yang bisa kita lakukan hanya ikut berlari, menikmati, dan mengikuti rotasi.

Yas, jangan pernah membenamkan diri ke dalam masalah dan menangisinya berlarut-larut. Terkadang kita harus mandiri untuk belajar berdiri sendiri di saat tidak ada pundak yang menopang, tidak ada tangan yang mengulur dan kaki yang menyangga. Yas, hidup adalah perkara merelakan dan mengikhlaskan, tetapi bukan melupakan. Setiap orang punya kadar bahagia masing-masing. Pun kita punya cara masing-masing untuk menikmati kebahagiaan itu.

Kita pernah sama-sama rapuh dan terjatuh; dengan kadar masing-masing. Maka saat kau lelah, pulanglah ke rumah. Nikmati setiap langkah dan tetaplah tersenyum.

Teruntuk,
Diaz Mora yang sudah genap 17 tahun. Selamat, ya.

Wednesday, June 5, 2013

Surat Rindu

Sebelumnya aku hendak minta maaf karena surat ini datang terlambat karena aku tidak sempat memindahkannya di blog.

Hai apa kabar? Semoga Tuhan mendengar doaku agar selalu menjagamu. Aku? Aku masih seperti biasanya, Duduk di balkon atas sambil melamunkanmu. Membiarkan kopiku dingin tersapu oleh angin. Bersimfoni dengan lagu-lagu yang terputar melalu ponselku. Syahdu.

Surat ini tertuju kepadamu. Kepada yang setiap malam selalu aku rindu. Kepada obrolan-obrolan kecil tentang masa depan. Kepada kenangan-kenangan yang tidak pantas untuk dilupakan. Kepada ketakutan ketika bayang-bayang perpisahan datang mendekat.

Malam minggu ini, hujan turun pelan-pelan di Jogjakarta. Rintiknya begitu menenangkan. Frekuensinya teratur. Tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Semilir anginnya berbaur dengan ritme nafasku. Hujan adalah salah satu acara Tuhan yang aku suka. Dan merindukanmu adalah caraku menghabiskan waktu agar tidak sia-sia ketika rintiknya membasahi bumi. Sambil menitipkan rindu lewat uap kopi yang masih mengepul. Lewat musik yang melebur dalam nadi. Lewat lamunku yang tidak jelas arahnya.

Aku pencemburu waktu. Rinduku menggebu-gebu. Cemasku membelenggu. Tiada yang bisa aku lakukan selain mendoakanmu. Semoga kamu selalu baik-baik saja.

Tiba-tiba terbesit dipikiranku. Bagaimana jika ini merupakan hujan terakhir di Bulan Mei? Bagaimana jika hal yang aku suka tiba-tiba menghilang dan tidak pernah kembali? Bagaimana jika sayangmu berpindah ke lain hati? Bagaimana jika yang selalu aku rindu tak pernah hadir lagi?

Hujan mengajarkanku banyak hal. Mengajarkanku untuk selalu bersyukur. Mengajarkanku untuk tidak menyia-nyiakan segala sesuatu yang telah ada. Mengajarkanku untuk tidak berimajinasi terlalu tinggi. Dan mengajarkanku bagaimana menikmati rindu dengan baik.

Hampir pukul dua belas malam dan mataku belum bisa memejam. Akhirnya aku putuskan untuk mengambil ponselku dan mengirimkan sebuah pesan singkat kepadamu.
"Aku nggak bisa tidur. Aku suka dengerin rintik hujan yang kecil-kecil."

Seketika juga hujan berhenti. Aku menikmati hingga rintik terakhir. Sampai tidak tersisa lagi. Hingga yang ada hanya sunyi.




25 Mei 2013
Teruntuk,
Yang selalu aku rindu. Selalu.

Monday, June 3, 2013

(Bukan) Duka

Aku pusing, jadinya hari ini aku memilih untuk cepat-cepat pulang. Ditemani segelas air dan Bersama Bintang  milik Drive, aku menulis surat ini. Pikiranku sedang tidak waras. Emosiku sedang tidak terkontrol. Air mata terjatuh begitu saja, tidak tahu mengapa.

Memendam perasaaan. Mencintai diam-diam. Adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Harus bersikap biasa saja setiap kali bertemu dengannya. Harus bertingkah seolah-olah dia hanya sekedar teman biasa, tidak ada yang spesial dan tidak ada perasaan lebih. Hanya sekedar teman yang kerap menghabiskan waktu setiap pulang sekolah. Setiap tatapan kita bertemu, aku hanya tersenyum. Dan seringkali aku mengartikannya  lebih.

323 hari telah berlalu. Perasaanku terhadapmu selalu sama setiap harinya. Sudah hampir setahun semenjak pertama kali kita bertemu di bangku SMA. Ketika banyak laki-laki lain singgah, hal itu tetap tidak merubah perasaanku terhadapmu. Masih sama. Selalu sama. Aku seperti orang gila. Aku menjadi budak waktu, menunggumu menganggapku ada. Bodoh memang jika aku menyayangi yang tidak ada, mengangankan yang tidak nyata, dan merindukan yang hanya maya. Sedangkan aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaanmu selama ini. Mungkin aku saja yang berekspektasi terlalu tinggi dan berimajinasi terlalu jauh. 

Semuanya masih sama, hingga pada akhirnya ada sosok lain lagi datang dalam hidupku. Awalnya biasa saja. Dan aku masih sangat menyayangimu. Tetapi lama-kelamaan aku seperti menyayangi angin. Tidak jelas wujudnya. Abstrak. Tidak konkrit. Aku sebisa mungkin berusaha melepasmu, menetralkan segala perasaanku terhadapmu, membuat premis bahwa kita hanya sekedar teman. Tidak lebih.

Keputusanku untuk melepaskanmu sudah bulat. Merelakan adalah pilihan. Mengikhlaskan adalah jalan. Hati kecilku masih tetap menyayangimu, tetapi cinta harus memilih satu, bukan dua. Ini hanya perkara waktu. Bukannya tragis melepaskan yang sama-sama menaruh perasaan? :')

"Ada banyak cara Tuhan menghadirkan cinta.
Mungkin engkau adalah salah satunya.
Namun engkau datang di saat yang tidak tepat.
Cintaku tlah dimiliki."

Kini setiap kali aku menatapmu, aku hanya bisa meminta maaf dan mencoba tersenyum, tetapi kerap kali yang ada hanya air mata. Teringat segalanya, bahkan ketika bibirmu mengucapkan sebait lagu milik Drive.
"Tidurlah, selamat malam, lupakan saja aku."

Maaf untuk cinta yang tak tersampaikan, untuk drama yang tersampahkan, untuk rindu yang tidak terselesaikan. Semoga kamu sempat untuk membaca surat ini. Semoga Tuhan mempertemukan kita lagi di masa depan.
"Perpisahan bukanlah duka, meski harus menyisakan luka."
Btw, aku ikut senang dengan hobi barumu. Selamat sore.



Teruntuk,
A.


Friday, May 3, 2013

Terimakasih Telah Ada

Sesungguhnya kamu jauh lebih mengerti apa yang aku rasakan daripada diriku sendiri. Kamu selalu saja tahu ketika aku sedih dan terjatuh, meskipun sebisa mungkin aku menutupinya. Bahkan ketika aku mengumbar tawa bersama yang lainnya, kamu tiba-tiba datang dan menanyakan ada apa. Sebaik-baiknya aku mengatakan bahwa aku baik-baik saja, kamu tetap bersikeras menganggapku tidak sedang baik-baik saja. Setiap senyum yang terdampar di cekung bibirku pun tidak bisa mengelabuhi semuanya. Kamu selalu saja tahu bahwa itu palsu.

Kamu datang. Tatapan kita saling bertemu. Secepat itu kamu bisa mengetahui segalanya. Tetapi ketika aku berusaha menatap sekuat dan selama yang aku bisa, aku tidak bisa mendapat apa-apa. Hingga air mata sudah mulai tergenang di pelupuk, tetap saja aku tidak bisa mengetahui apa yang kamu pikirkan.Tidak pernah peka, sepertinya.

Ketika aku mempunyai segelintir masalah, aku menangis, dan kamu selalu ada. Memberi semangat dan selalu menyuruhku untuk tidak menyesali apa yang telah menjadi keputusanku. Menyuruhku untuk mengikuti apa kata hatiku, bukan kata teman. Menyuruhku untuk menjadi aku. Menjadi diriku sendiri. Menjadi seorang yang mandiri dan pemberani.

Ketidakadilan datang ketika keadaan berbalik. Kamu datang dengan masalahmu, kamu menceritakan detail demi detailnya, perlahan-lahan hingga air mata menjadi pengiring dongengmu yang syahdu. Aku mendengarkannya dengan cermat dan khidmat. Tanpa kusadari bahwa frekuesi rinai airmataku sudah meluap tak terkendali. Aku diam dan terus menangis, tidak bisa memberi solusi ataupun semangat. Aku tidak lebih kuat daripada kamu. Aku lebih sering mengeluh, dan kamu tidak. Aku lebih sering menangis, dan kamu tidak. Aku selalu menyesali keadaan, dan kamu tidak. Egois memang.

Berapa banyak batang rokok yang kamu hisap, aku tidak akan marah. Tidak akan pernah mengambil secara tiba-tiba dan menginjaknya hidup-hidup. Aku hanya ingin kamu menjadi anak sholeh yang bisa membahagiakan orangtua, seperti kata ayahmu, "Ipa ips tuh gapenting, yang penting aa jadi anak yang sholeh."

Terimakasih telah ada, dan membuat segalanya terasa lebih nyata. Terimakasih telah mengajarkan untuk tidak menyesali apapun keputusanku. Kamu pernah berkata, "Aku nggak suka ngelihat orang lain, terutama kamu sedih. Karena orang yang menyesal atas keputusannya sendiri itu sama sekali nggak logis."



Teruntuk,
Iskandar Ahmad.