Tuesday, March 17, 2015

Dari Perpisahan Saya Belajar 3 Hal

Yang pertama.
Jika kita-saya dan kamu-memang benar berjodoh, ke manapun dua mata memandang dan dua kaki melangkah, saya akan selalu menjadi tempatmu untuk pulang. Dan kamu, akan selalu menjadi tempat di mana saya bisa tertawa  lepas tanpa harus malu-malu. Kita akan sama-sama menidurkan lelah masing-masing setelah sekian lama berpisah. Saya pasti akan sangat merindukanmu kelak. Maka tak ada yang bisa dilakukan selain bermanja-manja dan tidur di pangkuanmu.

Yang kedua.
Jika kita-saya dan kamu-memang tidak berjodoh, pasti akan ada alasan mengapa kita harus berpisah. Akan ada alasan mengapa rindu yang semakin dipendam semakin merajalela ini pada akhirnya tidak sejalan dengan Takdir Tuhan. Saya tidak perlu menghilang jauh agar bisa lupa denganmu. Dan kamu juga tidak perlu pindah ke luar kota atau memutus komunikasi dengan saya. Bukankah kita masih bisa berteman?

Yang ketiga.
Jika memang tidak ada alasan untuk berpisah dan kau malah memilih pergi, mungkin juga tidak ada lagi alasan untuk mempercayaimu. Maka, saya akan ikut pergi. Bukankah hidup itu pilihan?

Thursday, February 26, 2015

Saya Punya Seorang Teman

Saya punya seorang teman.
Kami sudah dekat sejak awal masuk sma.
Dia bercerita banyak ke pada saya tentang gadis pujaan hatinya.
Saya ingin bercerita juga tentang lelaki pujaan hati saya.
Tetapi saya malu.
Saya memillih diam dan mendengarkan ceritanya saja.

Saya punya seorang teman.
Sekarang dia sudah bahagia dengan gadis pujaan hatinya.
Dia menghubungi saya kemudian membagi kebahagiaanya.
Saya kira setelah bahagia dengan gadis itu, dia lupa dengan saya.
Ternyata dia tidak lupa dan kami masih bisa berteman.

Saya punya seorang teman.
Dia sudah berpisah dengan gadis pujaan hatinya.
Dia menghubungi saya.
Kemudian saya mengatakan bahwa saya dekat dengan laki-laki lain.
Dia diam.
Kemudian pergi.

Saya punya seorang teman.
Kami berpisah sejak saat itu.
Dia sering menghindari saya.
Dia bilang, dia juga sudah dekat dengan gadis lain.
Dia aneh.

Saya punya seorang teman.
Kami hilang kontak lebih dari setahun.
Saya tidak pernah bertanya kabar.
Pun dia.

Saya punya seorang teman.
Kami bertemu lagi di malam ulang tahun teman dekat saya.
Tetapi dia tidak menyapa.
Mungkin dia lupa.

Saya punya seorang teman.
Dia menghubungi saya kembali.
Dia bertanya kabar.
Saya jawab saya baik-baik saja.
Ternyata dia tidak benar-benar lupa.

Saya punya seorang teman.
Matanya teduh.
Hidungnya mancung.
Kumisnya tipis.
Jari-jarinya eksotis.

Saya punya seorang teman.
Ahmad Zainal Abidin namanya.
Dia bilang dia sedang berulang tahun hari ini.
Jadi saya membuatkan puisi ini untuknya.

Saya punya seorang teman.
Saya jatuh hati dengannya.
Sejak awal masuk sma.

Surat Yang Ditulis Untuk Ulang Tahun Ke-18

Sebenarnya aku benci ketika kau berulang tahun. Aku benci karena aku harus menyiapkan kejutan dan hadiah. Bukan, bukan benci lebih tepatnya. Tetapi aku memang payah dalam dua hal tersebut. Pertama, setiap kali aku menyusun kejutanku untukmu, yang ada hanya gagal dan kau malah mengetahuinya lebih dulu. Kedua, setiap kali aku harus memberikan hadiah padamu, aku bingung harus memberikan apa. Aku sudah berfikir lebih dari seminggu, tetapi nampaknya sia-sia. Jadi, aku memilih untuk tidak melakukan apa-apa.

Aku ingin mengajakmu jalan-jalan sebagai hadiah di hari ulang tahunmu. Pergi ke tengah laut yang pinggirnya dikelilingi pegunungan, kemudian kita duduk di atas perahu kecil dan menghabiskan hari di sana. Tidak usah takut jika tersengat terik, sayang. Karena aku pasti akan membawakanmu topi yang besar, yang ada rumbai-rumbainya. Kau pasti sangat tampan jika mengenakannya. Kemudian kita mengulur kail pancing dan melemparnya sejauh mungkin. Jika tidak mendapat ikan tidak apa-apa, sayang. Tidak usah memaksa. Toh kita juga tidak akan mati kelaparan jika tidak mendapat ikan. Aku pasti akan membawakanmu bekal yang banyak untuk kita seharian. Kamu tidak usah takut jika aku tiba-tiba mendorongmu ke laut sambil mengucapkan “Hei selamat ulang tahun ya”. Aku tahu kau tidak bisa berenang, jadi pasti tidak akan ku lakukan. Tenang saja, sayang.

Kalau kau tidak suka menghabiskan hari di atas perahu juga tidak apa-apa. Aku bisa mengajakmu untuk bermain layang-layang di tanah lapang. Kita tidak perlu susah payah untuk menaikkan layangannya, karena angin pasti akan bersahabat denganmu. Setelah lelah, aku akan mengeluarkan roti isi milikku, kemudian membaginya denganmu. Kita duduk di bawah pohon beringin di sisi barat. Berdendang menikmati alunan angin, kemudian aku bersandar di pahamu, sambil memetik jemarimu.

Aku tahu di umurmu yang ke 18 ini kau tidak lagi membutuhkan roti dan lilin.
Aku tahu di umurmu yang ke 18 ini kau tidak lagi membutuhkan gandum dan telur.
Aku tahu di umurmu yang ke 18 ini kau tidak lagi membutuhkan kejutan dan hadiah.
Yang aku tahu, di umurmu yang ke 18 ini, yang kau butuhkan hanyalah doa.
Aku selalu berdoa yang terbaik untukmu, sayang. Semoga semesta turut mengaminkan doa-doaku untukmu, dan doamu tentu saja. Semoga keberuntungan dan Tuhan selalu bersamamu.

Kau tidak perlu hal-hal yang spesial agar bisa menjadi spesial di hari spesialmu. Bahkan, ketika kau diam pun kau sudah sangat spesial.
Selamat ulang tahun.



3 tahun yang lalu masih anak-anak.
Tetapi, tidak perlu menjadi anak-anak lagi kan jika ingin bermain layang-layang?

Ternyata Bahagia Tidak Semudah Melupakanmu


Hai. Apa kabar?

Ini adalah surat kedua-setelah surat yang aku tulis hampir 2 tahun yang lalu-untukmu. Aku ingat, suratku sewaktu itu adalah surat paling duka yang pernah aku tulis. Surat yang berujung dengan perpisahan. Yang kemudian memaksa kita-aku dan kamu-untuk bahagia dengan jalan masing-masing.

Kita sepakat, tidak ada tangis dan air mata lagi setelah itu. Kita juga sepakat, akan selalu bahagia dan saling berdoa. Untukku dengan bahagiaku, dan untukmu dengan bahagiamu. Ya, kita sudah sepakat. Waktu itu.

Maaf, ternyata aku gagal. Bahagia tidak semudah melupakanmu kemudian mencari laki-laki lain untuk dicintai. Aku mengkhianati janjiku sendiri. Aku berusaha untuk tidak menangis, tetapi kenyataannya aku menangis lebih kencang dari sebelumnya. Kau kira aku baik-baik saja dan selalu bahagia dengan lelakiku waktu itu? Tidak. Kau dan aku sama-sama tahu jawabannya. Aku melukai perasaanku sendiri, tetapi aku jauh lebih melukai perasaan lelakiku pada waktu itu. Aku merasa berdosa karena membohonginya. Bahkan hingga saat ini aku belum juga meminta maaf ke padanya. Aku berjanji, secepatnya aku akan-entah besok atau lusa.

Aku memilih bertahan untuk sendiri, meski aku tahu bahwa kau sudah bahagia dengan jalanmu. Dengan gadis cantik berlesung pipit atau gadis cerdas beralis tebal milikmu itu. Aku hanya bisa berdoa yang terbaik untukmu; untuk kalian lebih tepatnya. Tidak sopan kan jika tiba-tiba aku menghubungimu dan memintamu agar kembali? Jadi, aku memilih untuk melupakanmu.

Melupakanmu? Hahaha. Aku tertawa, hingga menangis, hingga tertidur. Besoknya aku terbangun, kemudian melakukan hal yang sama. Hingga tertidur.

Aku mencoba jatuh cinta selain denganmu. Tetapi maaf, ternyata aku gagal. Bahagia tidak semudah melupakanmu kemudian mencari laki-laki lain untuk dicintai. Aku mencoba untuk menjatuhkan hatiku selain ke hatimu. Tetapi maaf, ternyata aku gagal. Aku mencoba tertawa dan bahagia dalam teduh mata selain matamu. Tetapi maaf, ternyata aku gagal. Aku mencoba menikmati dendang alunan jemari selain jemarimu. Tetapi maaf, ternyata aku gagal. Bahagia tidak semudah melupakanmu kemudian mencari laki-laki lain untuk dicintai. Iya kan?

Setahun kemudian, nampaknya semesta berkonspirasi untuk mempertemukan kita pada malam itu; pada malam ulang tahun teman baikku. Kau datang. Aku datang. Kita tidak saling berbicara pada waktu itu. Aku ingat, sudah hampir setahun kita tidak berbicara. Lama ya? Hahaha. Bahkan lidah ini sudah kelu dan lupa bagaimana caranya untuk menyebut namamu.

Aku lupa kronologi selanjutnya. Yang aku ingat, sekarang aku sudah bertemu denganmu kembali. Aku bahagia.




Teruntuk,
Yang hari ini genap berusia 18 tahun.
Semoga selalu bahagia.



Sunday, December 7, 2014

Cinta Tumbuh di Sudut Kota Yogyakarta



Cinta ini tumbuh di warung kopi pukul tiga pagi. Cinta ini tumbuh di sepanjang jalan Malioboro. Cinta ini tumbuh di antara gemerlap lampu Stadion Maguwoharjo. Cinta ini tumbuh di tempat yang biasa-biasa saja. Di setiap sudut kota Yogyakarta; angkringan nasi kucing, lorong-lorong sosrowijayan, landasan paralayang, derai pasir pantai Gunungkidul, nol kilometer, padepokan teater, warung kopi, alun-alun utara, warung bakmi jawa, pasar ngasem, ringroad, dan bunderan ugm.

Cinta ini tumbuh di tempat yang sederhana. Cinta ini tidak tumbuh di tempat yang menurut orang-orang istimewa.

Kami sering duduk bersama. Menikmati kepulan uap dari cangkir cokelat yang saling bercengkerama. Menertawakan hal-hal kecil dan konyol yang tidak seharusnya ditertawakan. Bercerita tentang semuanya, dari apha sampai zet. Rasanya seperti tidak pernah kehabisan topik, walaupun setiap hari kami bertemu. Entah, ada saja yang ingin diceritakan.

Pernah suatu ketika saya berfikir mungkin saya akan bertemu jodoh saya di antara peron-peron stasiun kereta api atau di basecamp pendakian. Saya tidak menemukannya di sana, tetapi dengannyalah kami menjelajahi tempat-tempat itu.

Saya pernah angkuh untuk tidak menonton bola karena saya tidak menyukainya. Tetapi dengannya, saya tidak keberatan saat menemani menonton tim kesayangannya. Dia begitu serius menyaksikan setiap tendang-sepak para pemain. Saya mencoba ikut menyaksikan, tetapi tetap tidak paham dan malah mengantuk. Kemudian saya memilih untuk memperhatikan matanya yang teduh dan hidungnya yang mancung.

Dia pernah angkuh untuk tidak mau mencoba semua produk olahan sapi. Tetapi setiap kali saya mengajaknya ke tempat semacam Kalimilk, dia tidak menolaknya.

Saya sering mengesalkan setiap kali ingin makan. Karena kami harus mengitari setiap sudut Jogja terlebih dahulu. Setelah berjam-jam berkeliling dalam kebingungan, saya memilih kembali ke tempat awal. Dia tidak marah. Saya tertawa, dia pun ikut tertawa.

Dia sering menyebalkan karena selalu tampil rapi, sedangkan saya hanya memakai celana kolor saat bepergian. Dia sering menyebalkan karena setiap kali saya berusaha tampil cantik, yang ada hanya ditertawakan. Dia sering menyebalkan karena setiap kali ingin bicara, tiba-tiba hanya diam dan mengalihkan pembicaraan. Dia sering menyebalkan karena hidungnya terlalu mancung, sedangkan hidungku tidak.

Dia bukanlah lelaki romantis pada umumnya. Setiap turun dari gunung, dia selalu membawakanku batu. Katanya, kalau membawakan batu tidak perlu mengeluarkan biaya. Kadang-kadang dia memberikanku bunga. Tetapi bukan bunga mawar yang dibeli di Kotabaru, melainkan bunga kecil yang dipetik di jalan. Dia lucu. Dan setiap ke-tidak-romantisan-nya membuat dia jauh lebih romantis daripada lelaki pada umumnya.

Saya merasa sangat dicintai atas kekurangan dan ketidaksempurnaan yang saya miliki. Saya merasa sempurna dengan hadirnya, dan merasa bahagia setiap kali bertemu dengannya. Untungnya, cinta tumbuh di tempat yang sederhana, yang biasa-biasa saja. Cinta tak perlu menghabiskan banyak biaya untuk berfoya-foya. Cinta adalah 'saya' dan 'dia' yang berubah menjadi 'kami'. Cinta adalah Yogyakarta, di setiap sudut keromantisannya.



Seumpama Kami Anjing, Dengarkan Suara Kami

Puisi ini saya buat khusus dipersembahkan dalam perayaan Hari Aids Sedunia, 1 Desember 2014. Waktu itu, kami sedang sibuk menghadapi ujian akhir semester. Saya tahu bahwa semua siswa sedang tenggelam dalam tumpukan materi biologi. Namun seharian ini saya malah berkutat dengan kertas dan pensil. Hingga pukul 21.00, kertas ini masih kosong karena belum ada inspirasi sama sekali. Akhirnya pada tengah malam, puisi ini jadi dan siap untuk dibacakan di Jogja City Mall dalam acara malam final pemilihan Duta HIV/Aids 2014.


Seumpama kami anjing
Kami adalah anjing yang dipenjarakan suaranya
Tapi apakah engkau peduli?
Pada kami, pada anjing-anjing yang tidak pernah didengar suaranya

Kami di sini, berbaris rapi
Di antara anjing-anjing dan anjing berbulu domba
Kami berteriak
Dengan dahaga dan lapar yang menganga
Dengar, dengarkan kami

Batin kami menangis
Lirih tak berdaya dihempas kedzaliman
Para penjilat yang merampas keadilan hak-hak kami
Yang kemudian dipasung
Dan suara kami dipenjarakan dalam kubangan stigma dan diskriminasi

Dengar
Dengarkan kami
Dengarkan jiwa kami yang meronta tanpa suara
Dengarkan jiwa kami yang resah, gelisah, dan goyah
Dengarkan jiwa kami yang pecah, terbang melambung tak terarah
Kau kemanakan nasib kami?
Kau kemanakan nasib kami
Yang hanya seekor anjing lemas dan tertindas

Dengarkan kami, dengarkan suara kami
Bantu kami menanggung beban dalam badan
Bantu kami untuk berdiri
Bantu kami memerangi sakit ini

Kami bukan penderita HIV
Kami juga bukan penderita Aids
Karena kami tidak menderita kawan
Kami adalah Orang Dengan HIV dan Aids
Kami butuh dukunganmu
Kami butuh simpatimu
Kami butuh rangkulanmu

Dan seumpama kau mengira bahwa kami adalah anjing
Setidaknya, dengarkan segala keluh kesah dan suara kami

Wednesday, September 3, 2014

Merapi

Kali ini stasiun bukan menjadi tempatku melambaikan tangan. Pun terminal tak lagi bisu karena harus berpisah denganmu untuk sementara waktu. Sabtu sore kali itu kau mendatangiku,  berpamitan seraya melambaikan tangan. Aku tidak meminta apa-apa selain menjaga dirimu baik-baik, dan segera memberi kabar ketika sudah sampai di tempat tujuan. Kau mengangguk—mengiyakan permintaanku. Kemudian kau tersenyum dan membalikkan badan. Dan aku, tersenyum pada pundak tegapmu yang digelayuti tas carrier 100 liter.

Malam harinya, aku memandang langit dari atas fly over. Bintang berjajar rapi di antara bentang langit yang sangat cerah. Aku tahu, pemandangan dari atas Merapi pasti lebih indah. Mungkin saat ini kau sedang bersenda gurau sambil memandangi deret lampu kota Jogjakarta, atau mungkin kau sedang tertidur di antara bebatuan karena terlalu lama berisirahat. Jadi aku tidak perlu khawatir, kau pasti baik-baik di sana.

Tut tut tut. Aku membuka ponselku dan mataku terbuka lebar. Sebuah kabar yang sangat menyenangkan ketika mengetahui kau sudah kembali ke basecamp. Karena, tidak ada yang lebih romantis dari sebuah pesan yang dikirim dari basecamp pendakian. Sekalipun itu hanya satu atau dua kalimat.


Esoknya, kau membawakanku potret keindahan Merapi. Kau bercerita, aku mendengarkan dengan suka cita. Matamu sangat antusias menceritakan detail demi detail. Dan aku jatuh cinta pada setiap potong kata dan cerita, yang kadang kau sisipi tawa.

We can only appreciate the miracle of a sunrise if we wait in the darkness. -Bhismo

Camp Pasar Bubrah


 Mendaki merupakan petualangan yang sangat menyenangkan. Maka tidak akan ada kata lelah walaupun jauh jalan yang kau tempuh, berat beban yang kau pikul, dan pegal setiap ruas tubuhmu.

Akhirnya dapet foto fullteam, tapi cuma berempat doang.


Akan ada saatnya, kita berada di puncak yang sama, menikmati elegi senja, dan bercengkerama hingga malam tiba.