Wednesday, July 6, 2016

Selamat Hari Raya, Kotaku.

Riuh gema takbir memenuhi setiap inchi di semesta kepala. Gemercik kembang api dan lantunan ayat Tuhan berputar-putar di sudut kota. Yogyakarta seolah sedang merayakan malam kemenangan, malam penuh kebahagiaan. Anak-anak sibuk bermain petasan, yang muda sibuk mengitari jalanan, dan orang dewasa sibuk menyiapkan makanan. Semua tumpah ruah dalam setiap depa jalan perkampungan.

Inilah kotaku. Kota yang selalu hangat menyapa setiap kepulangan anak-anaknya. Menyapa para perantau yang selalu disibukkan dengan ambisi dan cita-cita. Menyapa para kapitalis yang kerap kali menjadi penjilat di luaran sana. Menyapa para intelek yang terkadang lupa dengan kerja keras bapak ibunya di rumah. Tapi Yogyakarta tidak pernah tamat berkhianat. Yogyakarta tidak pernah lupa ataupun ingkar janji. Yogyakarta selalu menjadi rumah untuk setiap kepulangan dan kepergian. Nyaman untuk ditinggali. Ya, inilah kota yang turut mendewasakanku sejak 19 tahun silam.

Kota ini banyak mengajarkan hal-hal yang sama sekali tidak saya temui di bangku sekolahan. Sewaktu kecil dulu, saya pernah jatuh dari sepeda, tetapi Yogyakarta mengajarkan saya bahwa setiap luka tidak harus berakhir dengan air mata. Sewaktu saya menginjak remaja, saya pernah jatuh cinta lalu luka sejadi-jadinya, tetapi Yogyakarta menawarkan peluk dan mengusap semua sedih saya. Sewaktu saya semakin dewasa, saya harus bercerai dengan rumah dan meninggalkan ayah ibu, setelah sebegitu nyaman dengan segala yang ada. Kali ini, Yogyakarta mengajarkan kepada saya bahwa kemana pun saya pergi, kota inilah yang selalu menjadi rumah, menidurkan lelah, dan mencurahkan segala keluh kesah. Sampai kapan pun.

Hari ini saya pulang, Yah. Hari ini saya pulang, Bu. Setelah hampir seluruh sahur dan buka saya berulang setiap hari tanpa keluarga. Saya pulang, Yah. Saya pulang, Bu. Untuk melantunkan takbir, merayakan malam kemenangan bersama-sama. Berbagi cerita dan tertawa bahagia. Melupakan duka dan segala nestapa. Memeluk erat setiap cinta Ibu dan kasih Ayah yang tidak pernah lelah untuk bekerja. Pagi, malam, hingga pagi lagi. Maafkan saya, Yah. Maafkan saya, Bu. Selama ini saya hanya bisa merengek, meminta, dan membuat kecewa. Saya tidak akan berjanji untuk menjadi bla bla bla. Tetapi satu hal, semoga Ayah dan Ibu tetap panjang umur dan selalu dilimpahi bahagia sampai saya bisa pulang membawa apa yang bisa saya persembahkan kelak.

Hari ini, kebahagiaan mendekap satu sama lain. Dalam riuh gema semesta takbir. Selamat hari Raya Idul Fitri. Selamat menikmati waktu sebahagia-bahagianya bersama keluarga.



Dalam dekap kota Yogyakarta,


Ditulis dengan sadar pada 1 Syawal 1437 H.

Monday, March 28, 2016

Reuni Puspala


Setiap Sabtu selalu sama, tiap sudutnya penuh dengan kendaraan yang tumpah ruah di sudut jalan. Mulai dari roda dua hingga roda delapan. Mulai dari anak-anak hingga orang tua. Semua bersuka cita merayakan akhir pekan, setelah lima hari bergelut dengan urusan masing-masing.

Yogyakarta, kota yang selalu padat, penuh dengan hiruk pikuk manusia. Tidak harus menunggu akhir pekan atau libur semesteran, bahkan tiap pagi dan sore selepas pulang kerja di sepanjang jalan solo sudah sesak, penuh orang-orang berjubelan.

Di kota yang penuh dengan kebahagiaan ini, terajut masa putih abu yang tak sekedar abu-abu. Masa putih abu yang kenangannya tidak bisa dibeli dengan rupiah maupun poundsterling. Masa putih abu yang bermula di Kotagede, di situ pula saya dan teman-teman secara kesadaran penuh masuk dalam lingkaran keluarga yang bernama “PUSPALA”. Puspanegara Pecinta Alam, lebih dari sekedar komunitas pecinta alam, sebab di sini kami belajar banyak hal. Tentang semua hal yang alpa dan segala derivatnya. Tentang segala hal yang menyenangkan, sangat menyenangkan, dan menyenangkan sekali. Sebab, tidak ada yang namanya kesedihan di sini.

Sabtu pekan lalu, tepat 26 Maret 2016, semua pulang ke daratan setelah berlayar dari perairannya masing-masing. Kami memang pulang dengan cerita sukses masing-masing, tapi segala memori dan kenangannya tetap sama, tetap satu, tetap PUSPALA.


Persiapan panitia sehari sebelum acara.

Kepulangan alumni dari Jakarta.

Acara yang diadakan di SMA Negeri 5 Yogyakarta di deretan Nyi Pembayun 39 Kotagede ini dihadiri lebih dari 100 orang, sungguh melebihi target yang ditetapkan panitia oleh sebelumnya yaitu 66 orang. Mulai dari angkatan tahun 1983 dari awal berdirinya PUSPALA hingga tahun 2015 yang baru lulus kemarin. Acara ini dimulai pada pukul 16.00 Waktu Indonesia Bagian Puspala. Begitu memasuki gerbang sekolah, masing-masing dari kami akan disambut oleh salam hangat dan sapaan manis dari adik-adik puspala yang masih duduk di bangku sekolah. Duduk di meja registrasi, mengisi daftar hadir dan mengambil kaos reuni yang sudah dipesan sebelumnya.

Selepas mengurus registrasi dan segala tetek bengeknya di lobi depan, kami melangkah menuju lapangan tengah, lalu belok ke kanan menuju lapangan basket. Di antara lapangan tengah dengan lapangan basket terdapat lorong seperti goa yang berisikan foto-foto kenangan dari tahun 1983 hingga sekarang. Berkelap-kelip lampu ornamen merah kuning hijau. Di dekat stand makanan juga terdapat stand foto dengan aneka properti yang ada. Untuk memudahkan mengenali satu demi satu, kami memakai cocard yang sudah diberikan oleh panitia.

Stand foto yang disediakan oleh panitia.


Berbagai angkatan melebur menjadi satu.

Suasana sore hari sebelum acara dimulai.

Setiap dari kami melepas pangkat, melepas usia, melepas segala yang melekat dan menjadi muda kembali. Semua serasa seusia. Masing-masing dari kami menjadi pribadi yang menyenangkan. Duduk melingkar di meja depan panggung, menceritakan kisah dengan gaya khas masing-masing. Canda dan tawa kami menggema hingga ke langit-langit.

Deru adzan maghrib memecah hiruk pikuk petang itu. Kami bergegas menuju masjid untuk menjalankan ibadah berjamaah. Selepas itu, kami kembali ke tempat duduk semula. Suasana begitu syahdu petang itu. Menikmati berbagai hidangan yang telah disediakan oleh panitia sambil ditemani alunan akustik yang mendayu-dayu sendu. Selanjutnya, ada acara games yang dipandu oleh Fabri Hidayatullah. Games ini menarik antusias para hadirin, semua tertawa dan bergoyang-goyang melakukan senam. Tidak pandang usia, semua berkumpul menjadi satu lingkaran.


Acara selanjutnya, ada sambutan dan penyerahan pembangunan wall-climbing secara simbolis dari puspala kepada pihak sekolah. Kemudian dilanjutkan oleh sharing-sharing cerita dari senior PUSPALA. Kami semua mendengarkan dengan antusias. Semua terasa hangat, terasa dekat, terasa menyatu. Malam itu.

Penyerahan secara simbolis kepada pihak sekolah.

Sharing cerita dari para senior.

Semangat puspala tidak pernah mengenal usia. Tua, tapi tak renta.


Friday, February 26, 2016

Pada Senyummu yang Kesembilanbelas

Pada senyummu yang ke-sembilan-belas, mana mungkin aku tidak jatuh, lalu mencintai. Mencintai kedua pelupuk yang menghamparkan langit bagi segala yang alpa. Ingin rasanya bersembunyi dan menggelayut manja di dalamnya. Bola mata yang damainya seluas jagat raya, Ah! Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta.

Denganmu, cinta tak perlu basa basi. Cinta bukanlah rutinitas ucapan salam pagi seperti petugas Indomaret. Cinta bukanlah melapor hendak kemana dan pulang jam berapa seperti satpam perumahan. Cinta bukanlah larangan bermain dengan siapa seperti kubu geng anak TK. Cinta bukanlah menyampah kotak masuk seperti mama minta pulsa. Tapi cinta kita memang sederhana, bukan? Tak perlu basa basi.

Tak perlu kiranya aku menghujani tulisan ini dengan seonggok doa. Sebab ini bukan sebait ayat pada lembar-lembar alkitab, begelimang doa dan harapan baik. Tetapi, bukan berarti aku tidak berdoa untuk kebaikanmu, tanpa kau minta pun pasti sudah kulakukan ritual itu setiap pagi. Kau tahu itu, sayang.

Pada senyummu yang ke-sembilan-belas, mana mungkin aku tidak jatuh, lalu mencintai. Mencintai yang hari ini sedang berulang tahun. Selamat menua, selamat berkarya. Semesta di pihakmu, selalu. Doaku, di detak nadimu, setiap waktu.

Aku mencintaimu, sayang. Sepanjang usia Tuhan.

Teruntuk,
Ahmad Zainal Abidin.

Tuesday, August 11, 2015

Let's Laugh Haha

Hidup itu lucu, ya?

Saya pernah menangis kencang.
Saya pernah jatuh dan sempat kehilangan penopang.
Saya tidak mau makan.
Saya kehilangan hasrat untuk bertemu teman.
Saya hampir kehilangan harapan.
Saya terlihat menyedihkan.
Saat itu.

Karena tiga kali ditolak kampus biru, yang notabene kampus terbaik; yang terletak di kota pelajar ini.
Alasannya mungkin terdengar sangat konyol.

Kemudian,
untuk keempat kalinya saya mendaftar.
Hanya iseng mungkin.
Tidak belajar dan tidak berharap diterima;
setelah tiga kali ditolak kampus yang sama.

Hari pengumuman tiba.
Lucunya, saya malah diterima.
Bahkan di pilihan pertama.
Saya senang tidak terkira.
Saya loncat-loncat dan memeluk semuanya.

Andai saja saya lelah dan berhenti di ujian ketiga.
Andai saja saya tidak melanjutkan ujian saya.
Andai saja saya sudah terlanjur kecewa.
Mungkin saya tidak pernah merasakan rasanya,
"Selamat Anda diterima di Universitas Gajah Mada!"

Tetapi sekali lagi, hidup itu lucu, sayang.
Saya memilih melepas apa yang sudah susah-susah saya dapatkan.
Yang sudah susah-susah saya perjuangkan.
Saya melepas kampus negeri maupun swasta milik saya.

Hidup itu lucu ya,
saya pernah menangisinya,
tetapi dengan mudah saya melepasnya.

Friday, July 17, 2015

Saya Mencintaimu

Saya meminta air. Tetapi Dia memberi benua dan lautannya.
Saya meminta angin. Tetapi Dia memberi angkasa dan lapisannya.
Saya meminta gerhana. Tetapi Dia memberi bumi dan satelitnya.
Saya meminta cahaya. Tetapi Dia memberi bintang dan seluruh tata surya.
Saya meminta tanah. Tetapi Dia memberi jagad raya dan seisinya.

Saya tahu Tuhan Maha Baik. Dan akan selalu baik.
Ketika saya meminta bahagia, justru Dia memberi kamu dengan segala cinta dan kasih sayang.
Yang tidak pernah berhenti sedetik-pun untuk mencintai.
Yang tidak pernah lelah sekejap-pun untuk menyayangi.
Yang tidak pernah mengeluh sepatah-pun untuk melindungi.

Terima kasih telah mengetahui segala kekurangan, dan tetap memilih tinggal.

Saya mencintaimu,
dengan seuntuhnya.
Apa adanya, dan tidak mengada-ada.

Hari Raya

Bahkan sayang, gema takbirmu tepat setahun yang lalu masih memenuhi ruang semestaku. Rasanya cepat sekali. Hari berganti hari, siang berganti malam, panas berganti dingin, hujan berganti angin, luka berganti suka, dan bahagia akan tetap menjadi bahagia. Tidak akan pernah berganti. Setiap saat. Hingga setahun bergulir. Hingga tidak sadar kita berjumpa dengan Idul Fitri kembali.

Daun yang gugur tidak pernah menyalahkan angin. Hujan yang jatuh tidak pernah bisa kita cegah. Begitu pula denganku, yang selalu jatuh cinta denganmu. Pada setiap hal kecil yang kau lakukan. Sesederhana itu.

Selalu, dan akan terus, tanpa henti, tanpa lelah. Aku mencintaimu. Sesederhana itu.

Selamat Hari Raya Idul Fitri.

Thursday, July 16, 2015

Surat Yang Ditulis Dengan Sepenggal Maaf

Teruntuk:
Ayah dan Ibu

Saya menulis surat ini bukan tanpa alasan. Pertama, tanpa basa-basi, saya ingin meminta maaf. Meminta maaf atas segala kesedihan dan kekecewaan yang Ayah dan Ibu alami. Saya tahu, Ayah dan Ibu pasti sangat kecewa melihat putri kesayangannya-yang seharusnya bisa dibanggakan-gagal. Tidak hanya sekali, namun berulangkali. Saya gagal, Yah. Saya gagal, Bu. Berulangkali.

Mungkin saya memang payah, dengan mudahnya bisa berkata maaf, padahal saya tahu perasaan Ayah dan Ibu sekarang pasti sedang remuk seremuk-remuknya. Saya tahu perasaan Ayah dan Ibu sekarang pasti sedang hancur sehancur-hancurnya. Saya tahu, tetapi tidak ada yang bisa saya lakukan saat ini selain berkata maaf.

9 Mei 2015 pukul lima sore. Hujan lebat mengguyur Yogyakarta. Membuat seluruh badan saya basah kuyup. Saya nyaris menggigil di perjalanan. Kemudian, saya memilih berhenti di sebuah Kedai Kopi di pinggir jalan dan memesan secangkir coklat panas. Waktu itu tepat dengan pengumuman SNMPTN. Sebagian besar teman saya sudah saling memberi kabar; baik ataupun buruk. Saya segera membuka laptop, tetapi sinyal WiFi tidak begitu mendukung saya untuk membuka website SNMPTN. Saya keluar Kedai untuk mencari warnet, ternyata hanya 3 petak di sebelah kiri. Saya bergegas menuju warnet tersebut. Setelah membuka, hanya kotak berwarna merah yang saya dapati. Saya menangis kencang dan tidak bisa berhenti. Saya kembali ke Kedai masih dengan lingangan airmata di mana-mana. Saya sedih dan nyaris tidak mau pulang ke rumah. Entah apa yang akan saya katakan dengan kedua orangtua saya, saya tidak bisa berfikir saat itu, saya tahu pasti mereka sangat sedih mendengar kabar ini.

Saya tiba di rumah dan langsung mengurung diri di kamar. Hati saya hampir seluruhnya remuk saat itu. Saya begitu yakin lolos tetapi kenyataan berkata lain. Saya gagal.

Keadaan kembali normal. Hari-hari berjalan seperti biasa. Meski pagi nampak sendu dan malam selalu muram, tetapi saya yakin musim semi akan segera tiba. Saya yakin harapan akan selalu ada. Saya yakin.

Saya membuang segala keinginan untuk jalan-jalan, melupakan segala kesenangan, dan hanya berkutat pada buku. Saya jenuh? Tidak. Meski terkadang mengeluh, namun saya tidak sebenar-benarnya jenuh. Saya hanya merasa sedikit bosan karena tidak ada teman seperjuangan. Mungkin karena sebagian teman dekat saya sudah lolos jalur undangan, jadi hal tersebut sedikit memengaruhi psikologis saya.

Saya tidak kenal lelah untuk belajar, hingga saya sering mengabaikan kesehatan saya. Jarang tidur dan tidak pernah absen minum kopi. Saya membuat jadwal belajar saya sendiri, lengkap dengan jam dan target bab yang harus saya kuasai. Dari pagi hingga malam. Jam 6.30 saya sudah berada di bimbel, walau saya tahu jam segitu belum ada satupun tentor yang datang, tetapi saya semangat untuk datang lebih pagi, bersamaan dengan satpam atau cleaning service. Sepulang bimbel, terkadang saya bermain ke Perpustakaan Kota. Jika mengantuk, saya membuat secangkir kopi, entah siang atau malam. Sesampainya di rumah, saya kembali membuka buku hingga malam tiba. Saya selalu semangat. Selalu. Dan selalu yakin bahwa usaha saya ini tidak akan sia-sia. Yakin bahwa apa yang saya perjuangkan ini pasti akan berbuah manis. Apa yang saya tanam, pasti akan saya petik.

Genap sebulan saya memfosir tubuh saya. Alhamdulillah saya tidak jatuh sakit atau merasa depresi akibat terlalu banyak belajar. 9 Juni 2015 saya mengerjakan soal SBMPTN di Fakultas Kedokteran Hewan. Sendirian, tidak ada teman yang saya kenal saat itu. Tetapi bukan masalah, saya selalu optimis dan berjuang dengan maksimal.

Selang 5 hari, saya mengikuti Ujian Mandiri UGM. Lokasi ujian saya ada di Fakultas Kedokteran. Saya jatuh cinta seketika pada tempat ini. Selepas mengerjakan ujian, saya langsung sholat di Masjid Ibnu Sina. Berdoa, semoga saya bisa menjadi bagian dari tempat istimewa ini. Kedokteran adalah cinta pertama saya. Dan menjadi dokter adalah satu hal yang selalu saya impikan, sejak saya masih kecil.

Saya juga mendaftar SM UNS, karena seleksinya menggunakan nilai SBMPTN. Tidak perlu tes lagi, jadi tidak usah repot-repot sampai Solo.

Ramadhan tiba. Sebulan terasa begitu lama.

9 Juli 2015, bertepatan dengan buber angkatan. Beragam raut wajah yang saya jumpai saat itu. Ada yang panik, ada yang sudah menangis sebelum membuka hasilnya, ada yang parno, ada yang penasaran, ada yang santai-santai. Saya memutuskan untuk membuka hasilnya nanti sepulang buber, karena selain tidak ada koneksi, saya juga sedang sibuk wira-wiri.

Sesampainya di rumah, saya bertanya ke pada Ibu. Beliau menjawab tidak lolos. Saya bengong dan memilih untuk tidak membukanya sampai kapanpun. Saya tidak sanggup melihat kotak merah yang berisi tulisan tidak lolos serta permintaan maaf, untuk yang kedua kalinya. Saya menerima dengan lapang dada, toh masih ada SM UNS dan UM UGM. Saya menaruh sebesar-besar perasaan optimis saya pada dua seleksi tersebut, karena selain saya bisa mengerjakan, pilihan ketiga yang saya ambil sudah benar-benar aman.

Dua hari berlalu. Saya terbangun pada bilangan 13 bulan Juli dengan perasaan optimis. Segera menyalakan laptop, tetapi pengumumannya masih jam 11 malam nanti. Saya menunggu dengan gembira, tidak sabar menyaksikan betapa harunya saya nanti. Yang saya lakukan seharian hanya memandangi website SPMB UNS, walau saya tahu itu adalah hal bodoh.

Tepat pukul 11. Dysa, teman saya sudah bertanya tentang kabar UNS. Saya, Ibu, Ayah, dan Dysa sibuk membantu saya untuk masuk web karena server sedang down, saking banyaknya yang mengakses sepertinya. Akhirnya pukul 12 lebih Dysa berhasil masuk web, dia mengirimiku screen-capture yang berbunyi Alfu wa Ichda F tidak ada dalam daftar mahasiswa yang diterima di UNS melalui seleksi mandiri. Saya tidak percaya setengah mati. Saya mencoba masuk web dan membuktikan kebenarannya. Ternyata benar, Dysa tidak berbohong. Saya gagal. Untuk ketiga kali.

Dua hari berlalu. Hari ini 15 Juli adalah pengumuman untuk UM UGM. Ibu bilang beliau trauma membuka pengumuman tapi berulangkali kata gagal yang didapat. Tetapi saya tetap optimis karena saya bisa mengerjakan. Pukul 4 sore, Hanif, teman saya memberi kabar bahwa dia tidak lolos. Saya tidak goyah, saya tetap optimis karena saya tahu saya pantas mendapatkannya.

Takdir berkata lain. Saya gagal. Saya mengira bakal tersangkut di pilihan pertama ataupun kedua, tetapi kenyataannya di pilihan ketigapun tidak. Saya memberi tahu Ibu kabar menyedihkan ini. Ibu tidak percaya, kemudian menjadi tidak berdaya. Saya langsung lari ke kamar, tidak sanggup jika menyaksikan Ibu menangis untuk kesekian kalinya. Maaf, Bu. Saya juga mengabari Ayah melalu ponsel karena beliau sedang tidak di rumah. Ayah mengatakan tidak apa-apa, semoga diberi yang terbaik. Saya menangis membaca kalimat singkat tersebut. Maaf, Yah. Sekali lagi, maaf telah mengecewakan berulang kali.

Hati saya hampir remuk seluruhnya. Saya tidak bisa berfikir dan tidak tahu harus berbuat apa. Saya sedih. Sedih sebenar-benarnya sedih. Setiap bulir air yang jatuh dari mata saya menyisakan pedih yang teramat di dalam hati. Jika sedih ini adalah dosa, mungkin saya telah menjadi penghuni neraka.

No one knows about what actually I feel. Right now.

Saat itu juga, saya pergi ke rumah Guru Fisika saya, Pak Irwan, sambil membawakan parsel lebaran. Saya hendak mengucapkan terima kasih telah membimbing saya selama ini. Saya bercerita banyak tentang semua yang saya alami. Beliau tidak percaya. Tidak mungkin seorang Alfu tidak lolos. Sehari-hari kemampuannya bagus. Dia termasuk gadis pandai. Saya tidak pernah mendapati Alfu sedih, karena dia selalu tertawa setiap saat. Begitu katanya. Saya percaya bahwa saya pintar, bukannya sombong, tapi tidak mungkin seorang guru  sampai berbohong, saya tahu Pak Irwan selalu peduli dan mengamati murid-muridnya. And he really recharge my spirit when nobody can’t.

Saya bertanya apakah saya bodoh kepada teman-teman saya. Dan jawaban yang saya dapatkan selalu sama. Kamu itu pintar, Fu.

Semua saja berkata bahwa kamu itu pintar Fu, tapi kenyataannya yang tidak lebih pintar dari saya malah lolos. Semua saja berkata bahwa belum tentu aku bisa garap kaya kamu Fu, tapi kenyataannya kalian yang tidak bisa mengerjakan malah lolos.

Ibu, Ayah, saya hendak meminta maaf karena yang kalian banggakan sepenuh hati justru malah mengecewakan seenak hati. Maaf saya belum bisa menjadi apa yang kalian impikan.

Jika ditanya apakah saya sedih, iya memang saya sedih. Saya sedih, tetapi Ibu mencoba menghibur dengan mengatakan “sedihmu juga sedih kami”. Saya sedih, yang seharusnya bisa dibanggakan, pada kenyataannya hanya menanggalkan harapan. Saya sedih, impian Ayah dan Ibu yang begitu istimewa, malah saya tukar dengan air mata kecewa.

Saya telah gagal, tidak hanya sekali, namun berulang kali. Jika Ayah dan Ibu hendak kecewa, kecewalah. Saya ikhlas.



Gadismu,

Alfu.