Akhirnya, pada hari kelima kita tiba di simpang puncak. Tempat ini merupakan persimpangan di antara ketiga puncak; Rengganis, Argopuro, dan Arca. Dataran Hyang yang membentang mengelilingi lestarinya pegunungan Argopuro ini benar-benar menyisakan sejuta kenangan. Canda tawa suka duka tangis lelah emosi marah sedih letih sebal semuanya bercampur jadi satu. Petualangan agung ini bermula dari Stasiun Lempuyangan, 13 hingga 21 April 2014. Tepat setahun yang lalu.
Hari pertama, kami berjalan meninggalkan Pos Baderan, pelan-pelan menikmati terik yang membuat keringat mengucur tanpa henti. Jalan bebatuan yang kami lewati tidak begitu terjal. Tapi cukup membuat sepatu saya rusak. Di sisi terdapat tebing yang tidak begitu tinggi. Sedang di sisi kanan merupakan jurang, banyak sekali air terjun yang bisa dilihat dari kejauhan. Tiba-tiba saya menyadari handphone saya terjatuh. Saya kembali menyusuri jalan keberangkatan tadi, tetapi tidak menemukan apapun. Saya pasrah. Memilih membiarkan dan melanjutkan perjalanan. Belum tiba di Makadam, cuaca terik sepagian berubah menjadi mendung dan menjatuhkan bulir-bulir hujan. Lama kelamaan menjadi deras. Jalanan yang hanya selebar ban motor menjadi sangat licin. Membuat saya terus terjatuh dan mengeluh. Saya sebal dan sempat menangis. Saya mengajukan pertanyaan, "Ini kapan sampai?" Konyol sekali. Sampai di mana? Belum ada sepertujuh perjalanan saja sudah mengajukan pertanyaan seperti itu. Kami belum mencapai mata air 1, tetapi hari sudah gelap. Kami memilih mendirikan tenda di sini. Di tempat sempit, tidak tahu namanya. Kami segera mengganti pakaian kami yang basah kuyup, kemudian menjerengnya di pohon-pohon. Berharap esok cerah sehingga kami bisa menjemur pakaian-pakaian ini. Kami segera membuat sup kentang dan wedang jahe untuk menghangatkan badan. Kami juga memasak nasi dan tumis buncis. Lapar sekali rasanya.
Hari kedua, cuaca sangat cerah. Pukul 7 mentari sudah menyibakkan teriknya menembus celah pepohonan; tempat kami beristirahat. Kami segera memasang tali dan membuat jemuran. Setelah dirasa cukup kering, pukul 9 kami segera mengemas dan bergegas melanjutkan perjalanan. Tengah siang, kami tiba di Mata Air I. Mengisi ulang air minum dan mengisi ulang tenaga kami. Berbekal golok yang dibawa salah satu teman saya, kami membuat senjata untuk mainan. Seperti panah-panahan, tombak, dan trisula. Kami melanjutkan perjalanan. Rombongan terpisah menjadi dua. Tujuh orang di depan dan lima orang di belakang. Saya bersama keempat teman saya, yang kebetulan merupakan rombongan belakang, berjalan sangat lambat dan sering sekali istirahat. Katanya, kalo tidak dinikmati nanti rugi. Keempat teman saya menggendong carrier sangat besar, 80L hingga 100L. Sedangkan saya hanya menenteng tas serut sambil makan kuaci. Kami bermalam di Mata Air II. Banyak sekali hewan kecil yang suka menggigit, kami menamainya nyoy-nyoy. Kami membuat api unggun dan menyeduh jahe bakar.
Hari ketiga, kami kembali menjemur pakaian-pakaian basah kami. Sayangnya, ada teman kami yang jatuh sakit. Tetapi tidak begitu parah sehingga kami bisa melanjutkan perjalanan. Kami membuat jus tomat serta wedang kopi-gulajawa untuk bekal hari ini. Hari memang cerah, tetapi ketika melewati hutan lumut tetap saja basah dan lembab. Setelah melewati banyak sekali-yang entah apa nama dari setiap sabana tersebut-kami tiba di alun alun kecil. Kami berteriak sepuasnya di sini, karena sejak hari pertama pendakian, kami hanya bertemu dengan tiga orang dari SMA N 3 Malang. Selebihnya hanya burung rumput dan pohon yang menjadi teman tertawa kami. Kami melewati padang verbena, yang kerap kali disebut lavender. Sejauh mata memandang, hanya hamparan ungu yang terlihat. Lebih cantik dari Oro-Oro Ombo milik Semeru. Sebelum petang, kami tiba di Cikasur. Aliran air di Cikasur sangat jernih! Kami segera memanen jembak dan menjadikannya pecel sebagai menu makan malam kami.
Semburat merah jingga yang muncul di ufuk timur mengawali pagi keempat kami. Menambah damainya pagi di Cikasur. Saya menikmati secangkir kopi, sementara Musa sibuk dengan kameranya. Berlarian mengejar merak di antara luasnya bekas landasan pesawat terbang pada masa kolonial. Beberapa dari kami ada sibuk menjemur pakaian, ada yang memasak, ada yang bermain air sambil memanem jembak, ada juga yang hanya duduk menikmati kepulan asap dari beberapa batang rokok. Syahdu sekali pagi itu. Kami meninggalkan Cikasur yang Maha-Luas dan berjalan menuju Cisentor. Kami memasuki hutan yang berdebu dan kotor. Banyak sekali pohon tumbang dan beberapa rute tertutup oleh tanaman liar. Tidak ada sampah sama sekali, jadi kami sempat kebingungan dan tersesat. Sunyi dan hanya suara angin yang ada. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sini. Setelah melewati hutan, kami tiba di sabana. Kemudian ada padang verbena lagi. Kemudian memasuki hutan lagi. Kami memanen murbei dan tomat mini. Kami juga melewati hutan edelweiss. Akhirnya kami tiba di Cisentor. Setelah membersihkan diri, mengisi ulang air minum, dan makan, kami berjalan menuju Rawa Embik. Malam di Rawa Embik sangat-sangat dingin. Saat kami memasak, beberapa dari teman saya sudah mengunci rapat-rapat dirinya di dalam kantung tidur. Enggan keluar tenda.
Saya suka pagi kelima di Rawa Embik. Cerah dan cantik langit di sini. Ribuan dandelion merengek-rengek minta dipetik dan ditiup. Seperti biasa, kami menjemur semua pakaian basah kami sebelum melanjutkan perjalanan. Rawa Embik merupakan sumber air terakhir, jadi kami mengisi semua botol milik kami. Sekitar pukul 11, kami berjalan menuju Simpang Puncak. Setelah berulangkali memasuki hutan dan padang edelweiss, kami akhirnya tiba di Simpang Puncak. Kami segera membuat perapian karena menipisnya bahan bakar. Sebelum mentari tenggelam di ufuk barat, kami berlarian menuju Puncak Argopuro. Ada yang cekeran karena lelahnya memakai sepatu selama lima hari, ada yang hanya berbalut sarung, ada juga yang membawa secangkir teh panas. Kami menikmati sunset di Puncak Argopuro. Romantis? Biasa saja. Menu makan malam kali ini sangat istimewa, Spaghetti with Bolognese Sauce ditambah makaroni sebagai pelengkap. Sambil menunggu rembulan muncul di permukaan, kami bergiliran membacakan puisi, duduk melingkar di depan perapian.
Pada pagi keenam, tepat pukul 5 sebelum mentari memancarkan semburat merah jingganya, kami berlarian menuju Puncak Rengganis. Di sini, ada bekas petilasan Dewi Rengganis. Setelah berjalan turun, saya dan dua teman saya melakukan remidi ke Puncak Argopuro dilanjut ke Puncak Arca. Pukul 11, kami merapel sarapan sekaligus makan siang. Tepat tengah hari, kami melanjutkan perjalanan. Logistik yang habis dan air minum yang menipis menuntun kami harus tiba di Pos Bremi malam ini juga. Sebelumnya, dua teman saya sudah kembali ke Rawa Embik untuk mengisi ulang air minum.
Kami secara tidak langsung terpisah menjadi dua rombongan. Rombongan depan berisi 5 laki-laki super kuat yang berjalan tanpa bekal, mereka tiba di Pos Bremi pukul 9 malam. Di antara mereka sempat terjadi cekcok, masalahnya hanya sepele, tetapi jika lapar dingin dan dehidrasi bercampur jadi satu, hal itu menjadikan kami lebih mudah emosi. Semua tahu itu.
Sedangkan rombongan kedua berisi 4 laki-laki dan 3 perempuan. Semua kaki kami sudah luka-luka, baik rombongan depan maupun belakang, tapi kami tidak mungkin berhenti, kami harus melanjutkan perjalanan karena logistik sangat menipis. Saya sempat masuk ke jurang, tapi alhamdulillah saya tersangkut di antara pepohonan dan masih bisa diselamatkan oleh teman-teman saya. Kami melewati padang ilalang setinggi 2 meter. Ternyata rumputnya basah terguyur hujan tadi pagi, membuat badan kami basah kuyup. Kami lupa tidak memakai jas hujan saat itu. Selanjutnya, kami melewati Hutan Hujan Tropis. Saya takut saat itu, berjalan sangat cepat dan tidak berkata sepatah kata pun. Hari hampir petang saat kami tiba di Danau Taman Hidup, namun mistis sekali saat itu, suasana penuh kabut dan kami tidak bisa melihat apapun. Kami segera melanjutkan perjalanan. Pukul 8 malam, salah satu teman perempuan saya jatuh sakit. Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak dan menikmati bekal terakhir kami. Sup makaroni tinggal sebungkus, kornet dan sarden juga tinggal sekaleng. Mengetahui tidak cukup untuk bertujuh, dua dari kami memilih melanjutkan perjalanan. Setelah makan, keadaan tidak kunjung baik. Saya tahu, baju kami basah sejak siang tadi, perut kami lapar, tenggorokan kami dahaga,pundak kami lelah, kaki kami sakit, pikiran kami buyar. Dua dari kami terkena hipotermia, satu lagi sudah hilang fokus dan ambyar karena mengantuk. Sekarang tinggal dua, saya dan Musa. Saya bingung, kemudian memutar otak, memilih membawa satu teman saya yang terkena hipotermia untuk dipaksa turun ke basecamp. Tidak mungkin kami berlima tinggal di gunung tanpa bekal. Musa menjaga teman perempuan saya yang sakit dan terkena hipotermia, ditambah teman laki-laki saya yang hilang fokus dan ambyar tadi. Air minum tinggal 1 botol, saya membaginya dengan Musa. Saya menuruni jalanan yang sangat terjal ini sambil berdzikir, berharap semua baik-baik saja hingga nanti. Laki-laki di sebelah saya ini benar-benar sudah disorientasi, sejak tadi hanya hanya ngelindur seperti orang kesurupan. Saya menamparnya dan mengguyurnya dengan air terakhir milik saya. Tetapi dia belum juga sadarkan diri. Baju kami basah. Saya pun ikut menggigil sedari tadi. Saya mensugesti diri, saya kuat dan semuanya akan baik-baik saja. Saya takut dan sempat menangis, takut jika yang saya bawa turun ini pada akhirnya kesurupan. Saya terus berdoa. Akhirnya saya tiba di Hutan Damar. Saya menyadari bahwa sinar headlamp saya tidak lebih terang dari rembulan di atas sana, maka dari itu saya memilih mematikannya. Saya akhirnya bertemu dengan dua teman saya yang tadi berpisah pukul 8 malam. Mereka tertidur di Hutan Damar katanya. Kemudian kami berempat melanjutkan perjalanan menuju basecamp.
Tiba di Desa Bremi, kami tidak tahu di mana letak basecampnya. Saya melihat jam, ternyata pukul 3 pagi. Tidak ada kehidupan jam segini, tidak ada air, tidak ada makanan, tidak ada yang tahu di mana rombongan pertama saat ini berada. Kami berempat akhirnya tertidur di depan warung. Entah milik siapa. Pagi harinya, kami mencari rombongan pertama. Akhirnya kami bertemu dan menceritakan apa yang kami alami. Tiga dari mereka menyusul ketiga teman saya yang tertinggal di hutan. Membawakan air, susu, dan roti. Setelah beberapa saat, dari kejauhan tampak perempuan sedang digendong teman laki-laki saya. Mereka berjalan bersama 4 laki-laki lain. Pincang, semua kakinya sedang luka-luka. Tapi kami tersenyum bahagia, akhirnya semua baik-baik saja dan tidak ada hal buruk yang terjadi.
Saturday, April 18, 2015
Tuesday, March 17, 2015
Dari Perpisahan Saya Belajar 3 Hal
Yang pertama.
Jika kita-saya dan kamu-memang benar berjodoh, ke manapun dua mata memandang dan dua kaki melangkah, saya akan selalu menjadi tempatmu untuk pulang. Dan kamu, akan selalu menjadi tempat di mana saya bisa tertawa lepas tanpa harus malu-malu. Kita akan sama-sama menidurkan lelah masing-masing setelah sekian lama berpisah. Saya pasti akan sangat merindukanmu kelak. Maka tak ada yang bisa dilakukan selain bermanja-manja dan tidur di pangkuanmu.
Yang kedua.
Jika kita-saya dan kamu-memang tidak berjodoh, pasti akan ada alasan mengapa kita harus berpisah. Akan ada alasan mengapa rindu yang semakin dipendam semakin merajalela ini pada akhirnya tidak sejalan dengan Takdir Tuhan. Saya tidak perlu menghilang jauh agar bisa lupa denganmu. Dan kamu juga tidak perlu pindah ke luar kota atau memutus komunikasi dengan saya. Bukankah kita masih bisa berteman?
Yang ketiga.
Jika memang tidak ada alasan untuk berpisah dan kau malah memilih pergi, mungkin juga tidak ada lagi alasan untuk mempercayaimu. Maka, saya akan ikut pergi. Bukankah hidup itu pilihan?
Thursday, February 26, 2015
Saya Punya Seorang Teman
Saya punya
seorang teman.
Kami sudah dekat
sejak awal masuk sma.
Dia
bercerita banyak ke pada saya tentang gadis pujaan hatinya.
Saya ingin
bercerita juga tentang lelaki pujaan hati saya.
Tetapi saya
malu.
Saya
memillih diam dan mendengarkan ceritanya saja.
Saya punya
seorang teman.
Sekarang dia
sudah bahagia dengan gadis pujaan hatinya.
Dia menghubungi
saya kemudian membagi kebahagiaanya.
Saya kira
setelah bahagia dengan gadis itu, dia lupa dengan saya.
Ternyata dia
tidak lupa dan kami masih bisa berteman.
Saya punya
seorang teman.
Dia sudah
berpisah dengan gadis pujaan hatinya.
Dia
menghubungi saya.
Kemudian
saya mengatakan bahwa saya dekat dengan laki-laki lain.
Dia diam.
Kemudian
pergi.
Saya punya
seorang teman.
Kami
berpisah sejak saat itu.
Dia sering
menghindari saya.
Dia bilang,
dia juga sudah dekat dengan gadis lain.
Dia aneh.
Saya punya
seorang teman.
Kami hilang
kontak lebih dari setahun.
Saya tidak
pernah bertanya kabar.
Pun dia.
Saya punya
seorang teman.
Kami bertemu
lagi di malam ulang tahun teman dekat saya.
Tetapi dia
tidak menyapa.
Mungkin dia
lupa.
Saya punya
seorang teman.
Dia
menghubungi saya kembali.
Dia bertanya
kabar.
Saya jawab
saya baik-baik saja.
Ternyata dia
tidak benar-benar lupa.
Saya punya
seorang teman.
Matanya
teduh.
Hidungnya
mancung.
Kumisnya
tipis.
Jari-jarinya eksotis.
Saya punya
seorang teman.
Ahmad Zainal
Abidin namanya.
Dia bilang
dia sedang berulang tahun hari ini.
Jadi saya
membuatkan puisi ini untuknya.
Saya punya
seorang teman.
Saya jatuh
hati dengannya.
Sejak awal
masuk sma.
Surat Yang Ditulis Untuk Ulang Tahun Ke-18
Sebenarnya aku
benci ketika kau berulang tahun. Aku benci karena aku harus menyiapkan kejutan
dan hadiah. Bukan, bukan benci lebih tepatnya. Tetapi aku memang payah dalam
dua hal tersebut. Pertama, setiap kali aku menyusun kejutanku untukmu, yang ada
hanya gagal dan kau malah mengetahuinya lebih dulu. Kedua, setiap kali aku
harus memberikan hadiah padamu, aku bingung harus memberikan apa. Aku sudah
berfikir lebih dari seminggu, tetapi nampaknya sia-sia. Jadi, aku memilih untuk
tidak melakukan apa-apa.
Aku ingin
mengajakmu jalan-jalan sebagai hadiah di hari ulang tahunmu. Pergi ke tengah
laut yang pinggirnya dikelilingi pegunungan, kemudian kita duduk di atas perahu
kecil dan menghabiskan hari di sana. Tidak usah takut jika tersengat terik, sayang.
Karena aku pasti akan membawakanmu topi yang besar, yang ada rumbai-rumbainya.
Kau pasti sangat tampan jika mengenakannya. Kemudian kita mengulur kail pancing
dan melemparnya sejauh mungkin. Jika tidak mendapat ikan tidak apa-apa, sayang.
Tidak usah memaksa. Toh kita juga tidak akan mati kelaparan jika tidak mendapat
ikan. Aku pasti akan membawakanmu bekal yang banyak untuk kita seharian. Kamu
tidak usah takut jika aku tiba-tiba mendorongmu ke laut sambil mengucapkan “Hei
selamat ulang tahun ya”. Aku tahu kau tidak bisa berenang, jadi pasti tidak
akan ku lakukan. Tenang saja, sayang.
Kalau kau
tidak suka menghabiskan hari di atas perahu juga tidak apa-apa. Aku bisa
mengajakmu untuk bermain layang-layang di tanah lapang. Kita tidak perlu susah payah
untuk menaikkan layangannya, karena angin pasti akan bersahabat denganmu.
Setelah lelah, aku akan mengeluarkan roti isi milikku, kemudian membaginya
denganmu. Kita duduk di bawah pohon beringin di sisi barat. Berdendang
menikmati alunan angin, kemudian aku bersandar di pahamu, sambil memetik jemarimu.
Aku tahu di
umurmu yang ke 18 ini kau tidak lagi membutuhkan roti dan lilin.
Aku tahu di
umurmu yang ke 18 ini kau tidak lagi membutuhkan gandum dan telur.
Aku tahu di
umurmu yang ke 18 ini kau tidak lagi membutuhkan kejutan dan hadiah.
Yang aku
tahu, di umurmu yang ke 18 ini, yang kau butuhkan hanyalah doa.
Aku selalu
berdoa yang terbaik untukmu, sayang. Semoga semesta turut mengaminkan doa-doaku
untukmu, dan doamu tentu saja. Semoga keberuntungan dan Tuhan selalu bersamamu.
Kau tidak
perlu hal-hal yang spesial agar bisa menjadi spesial di hari spesialmu. Bahkan,
ketika kau diam pun kau sudah sangat spesial.
Selamat ulang tahun.
3 tahun yang lalu masih anak-anak.
Tetapi, tidak perlu menjadi anak-anak lagi kan jika ingin bermain layang-layang?
Ternyata Bahagia Tidak Semudah Melupakanmu
Hai. Apa kabar?
Ini adalah
surat kedua-setelah surat yang aku tulis hampir 2 tahun yang lalu-untukmu. Aku
ingat, suratku sewaktu itu adalah surat paling duka yang pernah aku tulis.
Surat yang berujung dengan perpisahan. Yang kemudian memaksa kita-aku dan
kamu-untuk bahagia dengan jalan masing-masing.
Kita sepakat,
tidak ada tangis dan air mata lagi setelah itu. Kita juga sepakat, akan selalu
bahagia dan saling berdoa. Untukku dengan bahagiaku, dan untukmu dengan
bahagiamu. Ya, kita sudah sepakat. Waktu itu.
Maaf,
ternyata aku gagal. Bahagia tidak semudah melupakanmu kemudian mencari
laki-laki lain untuk dicintai. Aku mengkhianati janjiku sendiri. Aku berusaha
untuk tidak menangis, tetapi kenyataannya aku menangis lebih kencang dari
sebelumnya. Kau kira aku baik-baik saja dan selalu bahagia dengan lelakiku
waktu itu? Tidak. Kau dan aku sama-sama tahu jawabannya. Aku melukai perasaanku
sendiri, tetapi aku jauh lebih melukai perasaan lelakiku pada waktu itu. Aku merasa
berdosa karena membohonginya. Bahkan hingga saat ini aku belum juga meminta
maaf ke padanya. Aku berjanji, secepatnya aku akan-entah besok atau lusa.
Aku memilih bertahan
untuk sendiri, meski aku tahu bahwa kau sudah bahagia dengan jalanmu. Dengan
gadis cantik berlesung pipit atau gadis cerdas beralis tebal milikmu itu. Aku hanya
bisa berdoa yang terbaik untukmu; untuk kalian lebih tepatnya. Tidak sopan kan jika tiba-tiba aku menghubungimu dan
memintamu agar kembali? Jadi, aku memilih untuk melupakanmu.
Melupakanmu? Hahaha. Aku tertawa, hingga menangis, hingga tertidur. Besoknya aku terbangun, kemudian
melakukan hal yang sama. Hingga tertidur.
Aku mencoba
jatuh cinta selain denganmu. Tetapi maaf, ternyata aku gagal. Bahagia tidak
semudah melupakanmu kemudian mencari laki-laki lain untuk dicintai. Aku mencoba
untuk menjatuhkan hatiku selain ke hatimu. Tetapi maaf, ternyata aku gagal. Aku
mencoba tertawa dan bahagia dalam teduh mata selain matamu. Tetapi maaf,
ternyata aku gagal. Aku mencoba menikmati dendang alunan jemari selain jemarimu.
Tetapi maaf, ternyata aku gagal. Bahagia tidak semudah melupakanmu kemudian
mencari laki-laki lain untuk dicintai. Iya kan?
Setahun
kemudian, nampaknya semesta berkonspirasi untuk mempertemukan kita pada malam
itu; pada malam ulang tahun teman baikku. Kau datang. Aku datang. Kita tidak
saling berbicara pada waktu itu. Aku ingat, sudah hampir setahun kita tidak
berbicara. Lama ya? Hahaha. Bahkan lidah ini sudah kelu dan lupa bagaimana
caranya untuk menyebut namamu.
Aku lupa kronologi selanjutnya. Yang aku ingat,
sekarang aku sudah bertemu denganmu kembali. Aku bahagia.
Teruntuk,
Yang hari ini genap berusia 18 tahun.
Semoga selalu bahagia.
Sunday, December 7, 2014
Cinta Tumbuh di Sudut Kota Yogyakarta
Cinta ini tumbuh di warung kopi pukul tiga pagi. Cinta ini tumbuh di sepanjang jalan Malioboro. Cinta ini tumbuh di antara gemerlap lampu Stadion Maguwoharjo. Cinta ini tumbuh di tempat yang biasa-biasa saja. Di setiap sudut kota Yogyakarta; angkringan nasi kucing, lorong-lorong sosrowijayan, landasan paralayang, derai pasir pantai Gunungkidul, nol kilometer, padepokan teater, warung kopi, alun-alun utara, warung bakmi jawa, pasar ngasem, ringroad, dan bunderan ugm.
Cinta ini tumbuh di tempat yang sederhana. Cinta ini tidak tumbuh di tempat yang menurut orang-orang istimewa.
Kami sering duduk bersama. Menikmati kepulan uap dari cangkir cokelat yang saling bercengkerama. Menertawakan hal-hal kecil dan konyol yang tidak seharusnya ditertawakan. Bercerita tentang semuanya, dari apha sampai zet. Rasanya seperti tidak pernah kehabisan topik, walaupun setiap hari kami bertemu. Entah, ada saja yang ingin diceritakan.
Pernah suatu ketika saya berfikir mungkin saya akan bertemu jodoh saya di antara peron-peron stasiun kereta api atau di basecamp pendakian. Saya tidak menemukannya di sana, tetapi dengannyalah kami menjelajahi tempat-tempat itu.
Saya pernah angkuh untuk tidak menonton bola karena saya tidak menyukainya. Tetapi dengannya, saya tidak keberatan saat menemani menonton tim kesayangannya. Dia begitu serius menyaksikan setiap tendang-sepak para pemain. Saya mencoba ikut menyaksikan, tetapi tetap tidak paham dan malah mengantuk. Kemudian saya memilih untuk memperhatikan matanya yang teduh dan hidungnya yang mancung.
Dia pernah angkuh untuk tidak mau mencoba semua produk olahan sapi. Tetapi setiap kali saya mengajaknya ke tempat semacam Kalimilk, dia tidak menolaknya.
Saya sering mengesalkan setiap kali ingin makan. Karena kami harus mengitari setiap sudut Jogja terlebih dahulu. Setelah berjam-jam berkeliling dalam kebingungan, saya memilih kembali ke tempat awal. Dia tidak marah. Saya tertawa, dia pun ikut tertawa.
Dia sering menyebalkan karena selalu tampil rapi, sedangkan saya hanya memakai celana kolor saat bepergian. Dia sering menyebalkan karena setiap kali saya berusaha tampil cantik, yang ada hanya ditertawakan. Dia sering menyebalkan karena setiap kali ingin bicara, tiba-tiba hanya diam dan mengalihkan pembicaraan. Dia sering menyebalkan karena hidungnya terlalu mancung, sedangkan hidungku tidak.
Dia bukanlah lelaki romantis pada umumnya. Setiap turun dari gunung, dia selalu membawakanku batu. Katanya, kalau membawakan batu tidak perlu mengeluarkan biaya. Kadang-kadang dia memberikanku bunga. Tetapi bukan bunga mawar yang dibeli di Kotabaru, melainkan bunga kecil yang dipetik di jalan. Dia lucu. Dan setiap ke-tidak-romantisan-nya membuat dia jauh lebih romantis daripada lelaki pada umumnya.
Saya merasa sangat dicintai atas kekurangan dan ketidaksempurnaan yang saya miliki. Saya merasa sempurna dengan hadirnya, dan merasa bahagia setiap kali bertemu dengannya. Untungnya, cinta tumbuh di tempat yang sederhana, yang biasa-biasa saja. Cinta tak perlu menghabiskan banyak biaya untuk berfoya-foya. Cinta adalah 'saya' dan 'dia' yang berubah menjadi 'kami'. Cinta adalah Yogyakarta, di setiap sudut keromantisannya.
Seumpama Kami Anjing, Dengarkan Suara Kami
Puisi ini saya buat khusus dipersembahkan dalam perayaan Hari Aids Sedunia, 1 Desember 2014. Waktu itu, kami sedang sibuk menghadapi ujian akhir semester. Saya tahu bahwa semua siswa sedang tenggelam dalam tumpukan materi biologi. Namun seharian ini saya malah berkutat dengan kertas dan pensil. Hingga pukul 21.00, kertas ini masih kosong karena belum ada inspirasi sama sekali. Akhirnya pada tengah malam, puisi ini jadi dan siap untuk dibacakan di Jogja City Mall dalam acara malam final pemilihan Duta HIV/Aids 2014.
Seumpama kami anjing
Kami adalah anjing yang dipenjarakan suaranya
Tapi apakah engkau peduli?
Pada kami, pada anjing-anjing yang tidak pernah didengar
suaranya
Kami di sini, berbaris rapi
Di antara anjing-anjing dan anjing berbulu domba
Kami berteriak
Dengan dahaga dan lapar yang menganga
Dengar, dengarkan kami
Batin kami menangis
Lirih tak berdaya dihempas kedzaliman
Para penjilat yang merampas keadilan hak-hak kami
Yang kemudian dipasung
Dan suara kami dipenjarakan dalam kubangan stigma dan
diskriminasi
Dengar
Dengarkan kami
Dengarkan jiwa kami yang meronta tanpa suara
Dengarkan jiwa kami yang resah, gelisah, dan goyah
Dengarkan jiwa kami yang pecah, terbang melambung tak
terarah
Kau kemanakan nasib kami?
Kau kemanakan nasib kami
Yang hanya seekor anjing lemas dan tertindas
Dengarkan kami, dengarkan suara kami
Bantu kami menanggung beban dalam badan
Bantu kami untuk berdiri
Bantu kami memerangi sakit ini
Kami bukan penderita HIV
Kami juga bukan penderita Aids
Karena kami tidak menderita kawan
Kami adalah Orang Dengan HIV dan Aids
Kami butuh dukunganmu
Kami butuh simpatimu
Kami butuh rangkulanmu
Dan seumpama kau mengira bahwa kami adalah anjing
Setidaknya, dengarkan segala keluh kesah dan suara kami
Subscribe to:
Posts (Atom)

