Thursday, May 15, 2014

Pulanglah ke Rumah, Yas.

Aku sedang menerka-nerka apa yang sedang kau lakukan saat ini, pada malam kamis gerimis dan hujan pukul 11 yang membuatku memilih untuk menuliskan surat ini. Aku baru saja pulang selepas merayakan ulang tahun Hanif bersama 10 orang lainnya. Sebelumnya, bolehkah aku menyapamu dengan sepotong kalimat “Hai Mora. Apa kabar? Sedang apa disana? Aku harap kau baik-baik saja dan tetap bahagia.”?

Seperti hakikatnya, salam pembuka dalam surat memang penting adanya. Jadi,
Hai Mora. Apa kabar? Sedang apa disana? Aku harap kau baik-baik saja dan tetap bahagia.

Mungkin saat ini kau sedang duduk di balkon dan diam mengitung bintang, atau kau sedang berkhayal tentang masa depan yang sering kita bicarakan dulu, atau bisa jadi kau sedang bisu dan memilih mengenang yang lalu. Aku tidak tahu. Aku harap kau baik-baik saja.

Aku terharu dengan surat yang kau tuliskan untukku; yang baru sempat aku baca tadi malam. Aku mencoba untuk membalas suratmu, tetapi setiap kali aku berusaha merangkai, aku menghapusnya. Aku merasa kalimatku tidak memiliki estetika dan tata bahasa yang patut untuk kau baca. Aku memang bukan penulis dan kau tahu bahwa aku juga tidak suka membaca. Aku tidak bisa menjadi Tere Liye, Dee, Sendutu Maitulan, dan sederet penulis-penulis idolamu. Yang aku bisa hanyalah menjadi Alfu, teman kecilmu yang setia mendengar kesahmu.

Kau ingat? Kita pernah menghabiskan malam di balkon rumahku dan bercerita tentang entah. Kita pernah merangkai masa depan dan optimis memperjuangkan. Tetapi saat itu aku takut tentang tujuh belas yang datang lebih dini.
“Aku belum siap untuk menjadi dewasa.”
“Dewasa itu pilihan, umur itu hanyalah simbol, bukan patokan kedewasaan seseorang,” ujarmu.

Aku sadar, kita tidak bisa terus merangkak di saat semua sudah pergi berlari. Tentang tujuh belas yang pernah aku takutkan, memang tidak seharusnya seperti itu, yang bisa kita lakukan hanya ikut berlari, menikmati, dan mengikuti rotasi.

Yas, jangan pernah membenamkan diri ke dalam masalah dan menangisinya berlarut-larut. Terkadang kita harus mandiri untuk belajar berdiri sendiri di saat tidak ada pundak yang menopang, tidak ada tangan yang mengulur dan kaki yang menyangga. Yas, hidup adalah perkara merelakan dan mengikhlaskan, tetapi bukan melupakan. Setiap orang punya kadar bahagia masing-masing. Pun kita punya cara masing-masing untuk menikmati kebahagiaan itu.

Kita pernah sama-sama rapuh dan terjatuh; dengan kadar masing-masing. Maka saat kau lelah, pulanglah ke rumah. Nikmati setiap langkah dan tetaplah tersenyum.

Teruntuk,
Diaz Mora yang sudah genap 17 tahun. Selamat, ya.

No comments:

Post a Comment