Aku sedang menerka-nerka apa yang sedang kau lakukan saat
ini, pada malam kamis gerimis dan hujan pukul 11 yang membuatku memilih untuk
menuliskan surat ini. Aku baru saja pulang selepas merayakan ulang tahun Hanif
bersama 10 orang lainnya. Sebelumnya, bolehkah aku menyapamu dengan sepotong
kalimat “Hai Mora. Apa kabar? Sedang apa
disana? Aku harap kau baik-baik saja dan tetap bahagia.”?
Seperti hakikatnya, salam pembuka dalam surat memang penting
adanya. Jadi,
Hai Mora. Apa kabar?
Sedang apa disana? Aku harap kau baik-baik saja dan tetap bahagia.
Mungkin saat ini kau sedang duduk di balkon dan diam
mengitung bintang, atau kau sedang berkhayal tentang masa depan yang sering
kita bicarakan dulu, atau bisa jadi kau sedang bisu dan memilih mengenang yang
lalu. Aku tidak tahu. Aku harap kau baik-baik saja.
Aku terharu dengan surat yang kau tuliskan untukku; yang
baru sempat aku baca tadi malam. Aku mencoba untuk membalas suratmu, tetapi
setiap kali aku berusaha merangkai, aku menghapusnya. Aku merasa kalimatku
tidak memiliki estetika dan tata bahasa yang patut untuk kau baca. Aku memang
bukan penulis dan kau tahu bahwa aku juga tidak suka membaca. Aku tidak bisa menjadi
Tere Liye, Dee, Sendutu Maitulan, dan sederet penulis-penulis idolamu. Yang aku
bisa hanyalah menjadi Alfu, teman kecilmu yang setia mendengar kesahmu.
Kau ingat? Kita pernah menghabiskan malam di balkon rumahku
dan bercerita tentang entah. Kita pernah merangkai masa depan dan optimis
memperjuangkan. Tetapi saat itu aku takut tentang tujuh belas yang datang lebih
dini.
“Aku belum siap untuk menjadi dewasa.”
“Dewasa itu pilihan, umur itu hanyalah simbol, bukan patokan
kedewasaan seseorang,” ujarmu.
Aku sadar, kita tidak bisa terus merangkak di saat semua sudah
pergi berlari. Tentang tujuh belas yang pernah aku takutkan, memang tidak
seharusnya seperti itu, yang bisa kita lakukan hanya ikut berlari, menikmati,
dan mengikuti rotasi.
Yas, jangan pernah membenamkan diri ke dalam masalah dan
menangisinya berlarut-larut. Terkadang kita harus mandiri untuk belajar berdiri
sendiri di saat tidak ada pundak yang menopang, tidak ada tangan yang mengulur
dan kaki yang menyangga. Yas, hidup adalah perkara merelakan dan mengikhlaskan,
tetapi bukan melupakan. Setiap orang punya kadar bahagia masing-masing. Pun
kita punya cara masing-masing untuk menikmati kebahagiaan itu.
Kita pernah sama-sama rapuh dan terjatuh; dengan kadar masing-masing.
Maka saat kau lelah, pulanglah ke rumah. Nikmati setiap langkah dan tetaplah
tersenyum.
Teruntuk,
Diaz Mora yang sudah genap 17
tahun. Selamat, ya.
No comments:
Post a Comment