Semesta mempertemukan kita, tanpa rencana, tanpa kuduga, tanpa aku minta. Kita saling membagi cerita, mengumbar tawa, canda, airmata, dan cinta. Aku tidak tahu apa-apa, tiba-tiba aku merasa nyaman. Nyaman ketika berada di dekatmu. Perhatianmu yang selalu tersedia, ragamu yang selalu ada membuatku terlena. Tidak pernah berfikir bahwa suatu saat kamu akan pergi. Pergi entah ke mana. Karena perpisahan pasti ada, dan entah kapan akan terlaksana. Aku dan kamu sama-sama tidak tahu dan tidak akan pernah tahu. Mungkin setelah ini, besok, atau besoknya. Rasa nyaman yang terus berkembang membuatku tidak pernah siap akan kepergianmu. Tidak pernah siap akan canda tawa yang harus aku nikmati sendirian, tanpa hadirmu. Tidak pernah siap akan air mata yang harus aku hujankan sendirian, tanpa hadirmu. Tidak pernah siap akan berputarnya hariku, tanpa hadirmu. Tidak pernah siap akan senjaku, tanpa hadirmu. Tidak pernah.
Tetapi, siap atau tidak, melepas dan mengikhlas adalah jalan satu-satunya suatu saat nanti. Egoku terlalu tinggi kalau terus memaksamu untuk berada di sisiku. Tuhan saja tidak pernah memaksa siapapun untuk menyembahnya, lantas apa hakku memaksamu untuk tetap tinggal? Tidak ada. Untuk cerita cinta yang telah kita bina sekian lamanya, aku tidak ingin semuanya menjadi sia-sia. Selamat kembali pada duniamu yang sempurna, dan jangan pernah melupakan segalanya.
Karena "suatu saat, mencintai adalah memutar hari tanpa seseorang yang engkau sayangi. Sebab, dengan atau tanpa seseorang yang yang engkau kasihi, hidup tetap harus dijalani." -Tasaro GK.
No comments:
Post a Comment