Sunday, February 16, 2014

Merbabu

Merbabu; tapak demi tapak, langkah demi langkah. Ternyata kakiku ini lebih tinggi dari awan, lebih tinggi dari 3142 meter di atas permukaan laut.


Mobil-yang mengangkut lima orang-tiba di basecamp sekitar habis maghrib. Setelah sebelumnya mobil yang kami kendarai mogok di Jalan Raya Boyolali KM 2. Kami terpaksa harus mendorong mobil tersebut, sampai akhirnya ada pick up yang menariknya hingga bengkel terdekat. 5 jam kami terbilang sia-sia, dan hanya digunakan untuk menghabiskan petang. Sampai di basecamp, ternyata 6 orang dari rombongan kami yang memakai motor sudah menunggu lama. Mereka bilang, mereka sampai mengelilingi Kota Magelang sebanyak 3 kali.

Pukul 20.10, pendakian empat perempuan dan enam laki-laki dimulai. Awalnya aku sempat kecewa karena kurangnya kekeluargaan di antara kami. Semua terburu-buru, semua ingin cepat sampai lebih dulu. Dan egois mulai bermunculan di antara kami saat itu. Ya, memang saat itu udara sangat dingin karena kami berada di dalam awan, ditambah lagi beratnya barang bawaan yang kami bawa. Jarak antara depan dan belakang semakin menjauh, kami terpisah-pisah dan semakin tidak terkendali. Dan parahnya, tidak ada yang menjadi leader ataupun sweeper. Akhirnya aku dan satu-satunya alumni yang menemani pendakian kami; merelakan diri menjadi sweeper. Capek memang, harus menjadi yang paling belakang. Harus menunggu yang jalannya lambat. Sementara yang paling depan sudah berjalan sangat jauh. Setelah berjalan dan menikmati dinginnya malam, kami berdua bertemu dengan Lundi, Yayang, Noka, Diah. Ternyata Lundi kedinginan dan sangat menggigil. Yayang terus-terusan memeluknya tetapi Lundi tetap menggigil. Bibirnya pucat. Aku memberikan jaketku agar badannya lebih hangat, tetapi tetap saja kedinginan. Setiap kali Lundi berkata 'aku nggak kuat', kami berhenti dan beristirahat sebentar. Aku dan Yayang terus memeluknya agar dia tetap stabil dan tidak terkena hipotermia.

Pukul 1.00 dini hari, kami belum bertemu dengan rombongan depan. Dan Lundi sudah benar-benar minta istirahat. Kami membangun tenda dome di pinggir jurang. Di situ memang bukan tempat untuk mendirikan tenda, hanya sepetak tanah kecil tempat untuk beristirahat. Lundi tidur dan tetap menggigil padahal sudah memakai dua jaket, sarung tangan, kaos kaki, dan sleeping bag. Sepanjang waktu tidur, aku dan Yayang memeluk Lundi dengan perasaan cemas. Dan dia tetap saja menggigil. Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil dua buah bendera dan menyelimutinya lagi. Selanjutnya, aku baru sadar kalau aku juga kedinginan. Sleeping bag-ku terbawa Fuad. Akhirnya aku tidur mengenakan mukena.

Pukul 2.30 dini hari, kami mulai berjalan lagi untuk menyusul rombongan depan. Lundi memang sudah pesimis hingga muntah-muntah. Tetapi bagaimanapun caranya, kami tetap harus menyusul rombongan depan karena kompor dan nasting dibawa Hanif. Tanpa minuman hangat, kami bisa mati beku jika terus-terusan tidur. Setelah menapaki tanah dengan sabar, akhirnya kami bertemu dengan rombongan kami di Batu Tulis (Bawah Sabana 1).

Sekitar pukul 5 pagi, kami berdelapan melanjutkan perjalanan hingga sampai puncak. Bagian menuju puncak dan perjuangannya ini sungguh tidak bisa diceritakan dengan kata-kata. Satu demi satu berguguran, akhirnya Yayang dan Diah berpisah dengan kami di Sabana 1, dan memutuskan untuk kembali ke tenda. Alvian sudah lebih dulu meninggalkan kami, dia menuju dan kembali dari puncak sendirian, berbekal air minum yang tinggal sedikit. Akhirnya tinggal aku, Arief, Hanif, Noka, Fuad yang berjuang menapaki tanah-tanah Merbabu dengan sabar. Cuaca cepat sekali berubah. Sebentar panas, sebentar dingin. Kabut tiba-tiba turun dan jarak pandang semakin melemah. Akhirnya, sekitar pukul 10 pagi kami tiba di puncak dengan perasaan ndak karu-karuan:")))


 Sabana 1

Merapinya cantik ya.

 Puncak Trianggulasi, 3142 mdpl. Total yang muncak 5 cowok&1 cewek.

 Arief langsung tepar. Itu Fuad nulis apa hayooooo:))

Saya ikut tepar dan dipotret dalam keadaan tidak sadar.
Itu hanif nulis surat buat someone spesialnya:P

Tapi sebelumnya masih bisa narsis pake seragam osis dulu:))

Friday, January 3, 2014

Selalu Begitu

Setiap kali aku ingin menulis, aku selalu diliputi perasaan yang entah. Bahkan kopiku sering kali dingin tersapu oleh angin. Lalu aku meneguknya seperti mabuk bir, dan tertidur. Selalu begitu.
Setiap kali aku ingin menulis, aku selalu diliputi perasaan yang entah. Bahkan jemariku kaku dan diam membatu. Pikiranku kosong, dan aku memilih tidur. Selalu begitu.
Setiap kali aku ingin menulis, aku selalu diliputi perasaan yang entah. Bahkan angin malam tidak lagi bersahabat seperti dulu. Aku takut, dan memilih tidur. Selalu begitu.
Setiap kali aku ingin menulis, aku selalu diliputi perasaan yang entah. Bahkan bintang di langit tidak lagi selucu kelihatannya. Aku cemburu, dan memilih tidur. Selalu begitu.

Wednesday, January 1, 2014

Aku Berharap 2014 Selalu Berpihak Padamu

Awalnya, aku berniat menghabiskan malam tahun baru kali ini di Pantai Klayar. Tetapi sejak siang tadi, hujan mengguyur rata kota Jogja. Rintiknya memang tidak begitu deras, tetapi cukup awet hingga menjelang malam pergantian tahun nanti—pikirku. Aku sempat kebingungan ketika ada tawaran untuk menghabiskan malam di kota susu, atau berkumpul bersama teman-teman. Dan pada akhirnya aku memilih rumah; tempat persinggahan yang tidak pernah berubah. Menikmati rindu terakhir pada bulan yang paling akhir. Dalam hujan yang penuh kesyahduan. Dalam malam yang kian temaram. Dalam dinginnya bulan Desember. Dalam Jogja, yang sedang berduka cita.

2013; terima kasih telah mengajarkanku banyak hal. Terima kasih telah membuatku tahu bagaimana rasanya menjadi putri dalam cerita dongengnya sendiri saat aku bertemu denganmu. Terima kasih telah membuatku tahu bagaimana rasanya bumi berhenti berotasi saat kamu tersenyum padaku. Terima kasih telah membuatku tahu bagaimana rasanya merkuri yang mendidih saat kamu menatapku. Terima kasih telah membuatku tahu bagaimana rasanya cemas yang teramat sangat saat sesuatu yang buruk menimpamu. Terima kasih telah membuatku tahu bagaimana rasanya kehilangan saat jarak menjadi pihak ketiga, antara aku dan kamu. Terima kasih telah membuatku tahu bagaimana rasanya menjadi pecandu rindu dan pemabuk aromamu.

Pada tahun baru ini, aku hanya meminta 12 hal ke pada Tuhan yang Maha Segalanya. Aku berharap langit Januari selalu menemanimu tertawa walaupun banyak masalah yang datang menghadang. Aku berharap langit Februari selalu menerangi setiap jalan baik yang kau tempuh. Aku berharap langit Maret selalu mengiringi setiap langkahmu. Aku berharap langit April selalu menjadi tempat bersandar setiamu. Aku berharap langit Mei selalu menjadi rumah bagimu. Aku berharap langit Juni selalu menampung keluh kesahmu. Aku berharap langit Juli selalu menjadi teman sahur dan bukamu. Aku berharap langit Agustus selalu mengamini setiap doa-doamu. Aku berharap langit September selalu menjadi penghibur laramu. Aku berharap langit Oktober selalu menjadi penghapus airmatamu. Aku berharap langit November selalu mendoakan setiap hembus nafasmu. Aku berharap langit Desember selalu mengajarkan arti hidup padamu.

Aku berharap, 2014 ini selalu berpihak padamu.

Wednesday, December 25, 2013

Jembatan Gantung Lemah Abang

Yogyakarta merupakan kawasan wisata yang unik dan menarik. Salah satunya adalah jembatan gantung yang terletak di perbatasan kabupaten Sleman dan Gunungkidul. Orang sekitar menyebutnya Jembatan Gantung Lemah Abang. Adapula yang menyebutnya Jembatan Gantung Prambanan (karena letaknya tidak jauh dari Pasar Gendheng, Prambanan) atau Jembatan Gantung Ngoro-Oro. Jembatan ini dibangun pada tahun 1994-1995 di atas Sungai Gembyong.
--
Jembatan Gantung Lemah Abang dapat dicapai dengan cara sebagai berikut:
Dari Jalan Raya Prambanan-Piyungan. Perempatan Pasar Gendheng belok ke arah timur, mentok. Melewati jalan aspal kecil kawasan Desa Wisata Dome. Kemudian ke selatan, sampai pertigaan, ke timur sampai melewati tanjakan yang cukup tajam.


 Jembatan Gantung Lemah Abang sepanjang 150 meter. (maaf belum dirotate)

Pemasangan alat sebelum rapling menuruni jembatan.

Rapling ini cukup menyenangkan karena merasakan sensasi jembatan yang bergoyang-goyang.

 Di bawah jembatan terdapat aliran sungai cukup deras.

 Siluetnya lucu.

 Sampe bawah sayang kalo nggak narsis :)))

 Selain asyik buat foto juga asyik buat basah-basahan.

Di sana terdapat pula beberapa percabangan air terjun.

 Bahu-membahu karena aliran air terjun cukup deras.

Akhirnya sampai di tengah-tengah air terjun.

Jembatan yang menghubungkan kedua kabupaten tersebut merupakan jalan utama bagi penduduk sekitar. Banyak sekali motor yang berlalu lalang melewati jembatan goyang tersebut. Saat hari sudah sore, banyak anak yang nongkrong dan sekedar menikmati sunset di Jembatan Gantung Lemah Abang.

Sunday, December 8, 2013

Hey there, I miss you.
Hey there, I miss you.
hey there, I miss you.
hey there, I miss you.

Friday, November 22, 2013

Bosan

Pernahkah kamu mulai merasa bosan dengan rutinitas? Pasti pernah, entah sekali atau berulang kali. Terkadang kamu ingin melakukan hal gila, tetapi hal itu malah membuatmu semakin gila. Bukan gila, tetapi frustasi lebih tepatnya.

Pernahkah kamu mulai merasa bosan dengan keadaan sekitar? Pasti pernah, atau suatu saat nanti kamu pasti akan mengalaminya. Bosan dengan keramaian. Bosan berkumpul, bercanda, dan tertawa bersama-sama. Bosan dengan apapun yang biasa kamu lakukan.

Bosan ini lebih sopan disebut jenuh, bukan? Seringkali kamu menenggelamkan diri pada kesibukan agar dapat mengabaikan perasaan jenuh tersebut. Tetapi semakin kamu menyibukkan diri, semakin kamu bingung harus melakukan apa. Semakin tidak fokus dengan segala hal. Dan suatu ketika nanti, dirimu akan ada pada titik terjenuh. Terdiam stagnan, diam dan menyendiri dalam sepi. Merenung, berfikir dan hasilnya nihil.