Friday, November 22, 2013

Bosan

Pernahkah kamu mulai merasa bosan dengan rutinitas? Pasti pernah, entah sekali atau berulang kali. Terkadang kamu ingin melakukan hal gila, tetapi hal itu malah membuatmu semakin gila. Bukan gila, tetapi frustasi lebih tepatnya.

Pernahkah kamu mulai merasa bosan dengan keadaan sekitar? Pasti pernah, atau suatu saat nanti kamu pasti akan mengalaminya. Bosan dengan keramaian. Bosan berkumpul, bercanda, dan tertawa bersama-sama. Bosan dengan apapun yang biasa kamu lakukan.

Bosan ini lebih sopan disebut jenuh, bukan? Seringkali kamu menenggelamkan diri pada kesibukan agar dapat mengabaikan perasaan jenuh tersebut. Tetapi semakin kamu menyibukkan diri, semakin kamu bingung harus melakukan apa. Semakin tidak fokus dengan segala hal. Dan suatu ketika nanti, dirimu akan ada pada titik terjenuh. Terdiam stagnan, diam dan menyendiri dalam sepi. Merenung, berfikir dan hasilnya nihil.

Tuesday, November 12, 2013

On the night like this
There's so many things I want to tell you
On the night like this
There's so many things I want to show you

Cause when you're around
I feel safe and warm
Cause When you're around
I can fall in love every day


In the case like this
There are a thousand good reason
I want you to stay

-mocca

Wednesday, October 23, 2013

Aku Suka Atmosfer Di Sini

Aku lupa sejak kapan aku lebih suka menikmati kesendirianku. Tidak, tidak sendiri. Terkadang aku menghabiskan malamku bersama secangkir kopi dengan kepulan asapnya. Kadang-kadang aku memilih bercumbu dengan buku, atau bercakap-cakap dengan musik dan menikmati setiap liriknya yang selalu membuat tersenyum.

Hujan mengguyur rata Jogja malam ini. Rintiknya tidak deras dan dinginnya pas. Aku suka hujan yang seperti itu. Syahdu. Hujan itu seperti mesin waktu otomatis, yang suka menyeret kenangan secara tiba-tiba. Kenangan yang tumbuh dari hujan, dan berbuah hujan selanjutnya. Ribuan orang seperti kau bilang bahwa kenangan itu adalah hal yang menyebalkan. Tetapi aku tidak pernah bilang seperti itu, karena dengan kenanganlah aku tumbuh. Karena dengan kenanganlah aku bisa berdiri dan belajar mencintaimu lagi.

Aku pulang malam hari ini, mandi, setelah itu pergi lagi. Dan saat ini, aku sedang duduk di sebuah kafe di atas toko buku di Gejayan. Menikmati secangkir coklat sambil ditemani rintik-rintik hujan yang jinak. Aku suka atmosfer di sini. Banyak puisi yang dibacakan, banyak musik yang dinyanyikan, banyak rindu yang dibenamkan. Aku suka. Duduk di atas kursi rotan dan menikmati ornamen serta remang lampu ruangan ini. Aku suka.

Monday, September 23, 2013

Don't Judge

Pernah membayangkan bahwa mereka yang sekarang dekat denganmu suatu saat nanti menjadi musuh terbesarmu? Belajarlah membenci orang yang kamu cintai dan mencintai orang yang kamu benci. Hanya sekedar berjaga-jaga dari kemungkinan terburuk. Mereka yang dekat denganmu adalah mereka yang tau kelemahanmu. Jadi, pikirkan itu baik-baik.

You know their names, but not their stories. So, don't judge sakbahagiane mbahmu.

Secangkir Teh dan Sepotong Soes

Hai. Selamat sore.

Sebelumnya aku hendak meminta maaf karena aku tiba-tiba menghilang, bak pergi tanpa kabar. Too much things happened, tetapi aku tidak tahu harus memulainya dari mana, tidak tahu harus merangkainya seperti apa, tidak tahu, dan serba tidak tahu.

Ini sore yang indah, bukan? Kurasa seperti itu. Saat ini aku sedang duduk di tengah hiruk pikuk dalam sebuah ruangan berukuran 12x8 meter. Ruangan ini berada di lantai 3 dengan banyak jendela tertata. Angin semilir berhembus mengelus-elus pipi kecilku. Sembari menunggu matahari terbenam, ditemani secangkir teh dan sepotong kue soes, aku menuliskan naskah ini. Bukan, bukan naskah, tetapi hanya secarik kata tanpa makna lebih tepatnya. Ah, siapa peduli? Lagipula aku bukanlah seorang pujangga yang pandai merangkai kata menjadi drama yang sempurna. Aku hanyalah anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Yang seringkali terbodohi. Yang seringkali merengek meminta balon. Yang seringkali hujan air mata saat jatuh dan terluka. Yang seringkali manja saat kedinginan. Yang seringkali berpura-pura menangis agar mendapatkan mainan baru. Yang seringkali tertawa saat ada yang lucu. Yang seringkali bandel saat disuruh mandi. Yang seringkali berlagak kesakitan agar mendapat perhatian. Ya, sewajarnya anak kecil pada umumnya.

Oiya, sepertinya sudah terlalu banyak basa-basi hingga aku lupa menanyakan kabarmu. Jadi, bagaimana kabarmu? Baik-baik saja, bukan? Aku harap seperti itu. Selalu dan selalu baik-baik saja. Air mata bukanlah milik mereka yang lemah. Tetapi air mata adalah milik mereka yang sudah terlalu lama kuat. Air mata adalah milik mereka yang peduli dan berhati lembut. Tetap jadi yang terkuat dari yang terkuat. Walaupun di sini selalu tersedia pundak, tetapi aku tidak mau melihat kamu butuh pundak.




Sincerely,
A. Always here.

Friday, August 9, 2013

Sajak Ahad Petang

sajak milik Bagustian Iskandar

Kukira ini cinta.
Ternyata deras hujan air mata.
Kukira ini rindu.
Ternyata tajam sebilah sendu.
Satu-satu,
paru-paru cemasku waspada,
mendengar jantung doamu
yang astaga.
Benarlah kata mereka:
Pelukan hanyalah pemanis kehilangan.
Kehilangan yang suka tiba-tiba datang,
seperti kereta api di bawah jembatan Lempuyangan, Jogja
yang tak sengaja menabrak pesepeda tak awas rambu hijau, kuning, merah.
Pesepeda yang mati
dengan tubuh di rumah sakit.
Tapi tidak kepala.
Ia terseret ratusan kilometer di atas rel.
Lalu hilang.
**
Kepahitan tak hanya ada pada ampas kopi rupanya:
Ia suka menjelma sebagai rindu yang tak sampai:
Rindu-rindu yang diobral di karcis
stasiun-stasiun kereta api kotaku
dan kota dinginmu itu.
--- Jancuk! Tak ada yang boleh menangis.
Semua haruslah menulis ---
Maka dari alasan itu puisi ini lahir:
Sebab tak ada yang mampu dirahasiakannya,
selain kematian.

Silakan dibuka rekaman pembacaan puisinya;)