Mobil-yang mengangkut lima orang-tiba di basecamp sekitar habis maghrib. Setelah sebelumnya mobil yang kami kendarai mogok di Jalan Raya Boyolali KM 2. Kami terpaksa harus mendorong mobil tersebut, sampai akhirnya ada pick up yang menariknya hingga bengkel terdekat. 5 jam kami terbilang sia-sia, dan hanya digunakan untuk menghabiskan petang. Sampai di basecamp, ternyata 6 orang dari rombongan kami yang memakai motor sudah menunggu lama. Mereka bilang, mereka sampai mengelilingi Kota Magelang sebanyak 3 kali.
Pukul 20.10, pendakian empat perempuan dan enam laki-laki dimulai. Awalnya aku sempat kecewa karena kurangnya kekeluargaan di antara kami. Semua terburu-buru, semua ingin cepat sampai lebih dulu. Dan egois mulai bermunculan di antara kami saat itu. Ya, memang saat itu udara sangat dingin karena kami berada di dalam awan, ditambah lagi beratnya barang bawaan yang kami bawa. Jarak antara depan dan belakang semakin menjauh, kami terpisah-pisah dan semakin tidak terkendali. Dan parahnya, tidak ada yang menjadi leader ataupun sweeper. Akhirnya aku dan satu-satunya alumni yang menemani pendakian kami; merelakan diri menjadi sweeper. Capek memang, harus menjadi yang paling belakang. Harus menunggu yang jalannya lambat. Sementara yang paling depan sudah berjalan sangat jauh. Setelah berjalan dan menikmati dinginnya malam, kami berdua bertemu dengan Lundi, Yayang, Noka, Diah. Ternyata Lundi kedinginan dan sangat menggigil. Yayang terus-terusan memeluknya tetapi Lundi tetap menggigil. Bibirnya pucat. Aku memberikan jaketku agar badannya lebih hangat, tetapi tetap saja kedinginan. Setiap kali Lundi berkata 'aku nggak kuat', kami berhenti dan beristirahat sebentar. Aku dan Yayang terus memeluknya agar dia tetap stabil dan tidak terkena hipotermia.
Pukul 1.00 dini hari, kami belum bertemu dengan rombongan depan. Dan Lundi sudah benar-benar minta istirahat. Kami membangun tenda dome di pinggir jurang. Di situ memang bukan tempat untuk mendirikan tenda, hanya sepetak tanah kecil tempat untuk beristirahat. Lundi tidur dan tetap menggigil padahal sudah memakai dua jaket, sarung tangan, kaos kaki, dan sleeping bag. Sepanjang waktu tidur, aku dan Yayang memeluk Lundi dengan perasaan cemas. Dan dia tetap saja menggigil. Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil dua buah bendera dan menyelimutinya lagi. Selanjutnya, aku baru sadar kalau aku juga kedinginan. Sleeping bag-ku terbawa Fuad. Akhirnya aku tidur mengenakan mukena.
Pukul 2.30 dini hari, kami mulai berjalan lagi untuk menyusul rombongan depan. Lundi memang sudah pesimis hingga muntah-muntah. Tetapi bagaimanapun caranya, kami tetap harus menyusul rombongan depan karena kompor dan nasting dibawa Hanif. Tanpa minuman hangat, kami bisa mati beku jika terus-terusan tidur. Setelah menapaki tanah dengan sabar, akhirnya kami bertemu dengan rombongan kami di Batu Tulis (Bawah Sabana 1).
Sekitar pukul 5 pagi, kami berdelapan melanjutkan perjalanan hingga sampai puncak. Bagian menuju puncak dan perjuangannya ini sungguh tidak bisa diceritakan dengan kata-kata. Satu demi satu berguguran, akhirnya Yayang dan Diah berpisah dengan kami di Sabana 1, dan memutuskan untuk kembali ke tenda. Alvian sudah lebih dulu meninggalkan kami, dia menuju dan kembali dari puncak sendirian, berbekal air minum yang tinggal sedikit. Akhirnya tinggal aku, Arief, Hanif, Noka, Fuad yang berjuang menapaki tanah-tanah Merbabu dengan sabar. Cuaca cepat sekali berubah. Sebentar panas, sebentar dingin. Kabut tiba-tiba turun dan jarak pandang semakin melemah. Akhirnya, sekitar pukul 10 pagi kami tiba di puncak dengan perasaan ndak karu-karuan:")))
Pukul 1.00 dini hari, kami belum bertemu dengan rombongan depan. Dan Lundi sudah benar-benar minta istirahat. Kami membangun tenda dome di pinggir jurang. Di situ memang bukan tempat untuk mendirikan tenda, hanya sepetak tanah kecil tempat untuk beristirahat. Lundi tidur dan tetap menggigil padahal sudah memakai dua jaket, sarung tangan, kaos kaki, dan sleeping bag. Sepanjang waktu tidur, aku dan Yayang memeluk Lundi dengan perasaan cemas. Dan dia tetap saja menggigil. Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil dua buah bendera dan menyelimutinya lagi. Selanjutnya, aku baru sadar kalau aku juga kedinginan. Sleeping bag-ku terbawa Fuad. Akhirnya aku tidur mengenakan mukena.
Pukul 2.30 dini hari, kami mulai berjalan lagi untuk menyusul rombongan depan. Lundi memang sudah pesimis hingga muntah-muntah. Tetapi bagaimanapun caranya, kami tetap harus menyusul rombongan depan karena kompor dan nasting dibawa Hanif. Tanpa minuman hangat, kami bisa mati beku jika terus-terusan tidur. Setelah menapaki tanah dengan sabar, akhirnya kami bertemu dengan rombongan kami di Batu Tulis (Bawah Sabana 1).
Sekitar pukul 5 pagi, kami berdelapan melanjutkan perjalanan hingga sampai puncak. Bagian menuju puncak dan perjuangannya ini sungguh tidak bisa diceritakan dengan kata-kata. Satu demi satu berguguran, akhirnya Yayang dan Diah berpisah dengan kami di Sabana 1, dan memutuskan untuk kembali ke tenda. Alvian sudah lebih dulu meninggalkan kami, dia menuju dan kembali dari puncak sendirian, berbekal air minum yang tinggal sedikit. Akhirnya tinggal aku, Arief, Hanif, Noka, Fuad yang berjuang menapaki tanah-tanah Merbabu dengan sabar. Cuaca cepat sekali berubah. Sebentar panas, sebentar dingin. Kabut tiba-tiba turun dan jarak pandang semakin melemah. Akhirnya, sekitar pukul 10 pagi kami tiba di puncak dengan perasaan ndak karu-karuan:")))
Sabana 1
Merapinya cantik ya.
Puncak Trianggulasi, 3142 mdpl. Total yang muncak 5 cowok&1 cewek.
Arief langsung tepar. Itu Fuad nulis apa hayooooo:))
Saya ikut tepar dan dipotret dalam keadaan tidak sadar.
Itu hanif nulis surat buat someone spesialnya:P
Tapi sebelumnya masih bisa narsis pake seragam osis dulu:))
Merapinya cantik ya.
Puncak Trianggulasi, 3142 mdpl. Total yang muncak 5 cowok&1 cewek.
Arief langsung tepar. Itu Fuad nulis apa hayooooo:))
Saya ikut tepar dan dipotret dalam keadaan tidak sadar.
Itu hanif nulis surat buat someone spesialnya:P
Tapi sebelumnya masih bisa narsis pake seragam osis dulu:))